Saya keluar rumah dengan sepeda motor dan berjaket. Dingin menampar wajah dan telapak tangan. Udara malam kali ini memang lebih dingin dari biasanya. Sebisa mungkin saya pertahankan diri agar tetap hangat. Namun, tak sampai satu jam di lokasi obrolan, keputusan berjaket saya ralat. Tubuh rasanya mulai gerah. Bukan angin penyebabnya tapi sebuah majalah.
Saya diberikan sebuah majalah Hai edisi 15 Juli 1986. Majalah itu ada di tangan, lalu berada di pangkuan saya. Warnanya sudah kecoklatan dan berbau. Penampilannya menunjukkan umur yang tua. Majalah lawas itu terbuka di halaman lima puluh tujuh, menyasar rubrik Berpikir Sedikit Belajar Banyak (BSBB). Isi rubrik itu membuat saya gerah sekaligus mempertanyakan kembali gelar kesarjanaan, bacaan, diskusi, dan kunjungan yang pernah saya lakukan ke berbagai kota.
Rubrik berisi tebakan nama tokoh. Redaktur memberi deskripsi peristiwa dan sebuah gambar wajah: berkacamata dan berbelangkon. Petunjuk menarik pembaca untuk membayangkan cucu Pakualam III yang dijuluki Raja Mogok, berani merespons kesewenangan atasan, berpihak pada rakyat kecil, pendiri gerakan petani dan buruh, intelektual yang aktif menulis, dan pendidik di Taman Tani Taman Siswa.
Ketika ditanya siapa nama tokoh ini, saya kebingungan. Nama yang muncul di kepala mustahil benar. Saya berupaya memanggil ingatan sejak sekolah dasar hingga saat ini. Tapi, tak ada keajaiban terjadi. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Penanya itu meminta saya untuk terus berpikir dan mengingat. Sampai puluhan menit berlalu, ia mempersilahkan untuk menjaring informasi melalui gawai. Dengan sisa baterai 10 persen, saya berupaya mengumpulkan informasi.
Pilihan sumber dari media online, situs web pribadi, dan YouTube. Pencarian berhenti. Ah, ternyata tokoh ini adalah Soerjopranoto, kakak kandung Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Dari beberapa tulisan yang saya baca, kiprah intelektual dan gerakannya lebih mengerikan dari Ki Hajar Dewantara. Namun, kenapa namanya tak seterkenal adiknya? Mungkin karena ia total membela rakyat kecil dan tak main kompromi dengan kalangan elite.
Saya menemukan kiprahnya sempat terlibat di Sarekat Islam, Budi Utomo, dan mendirikan Sarekat Buruh Adhi Dharma yang aktif melakukan advokasi pada petani dan buruh. Selain itu, ia juga aktif mengelola surat kabar bersama adiknya dan menjadi pendidik. Paduan yang sempurna sebagai intelektual dan aktivis pergerakan.
Pencarian saya menemukan nama Soerjopranoto sebagai nama jalan di Solo dan Jakarta Pusat. Saya berpikir sejenak, apa arti menempelkan nama pahlawan pada jalan? Akankah menjadikan pengendara melek sejarah atau justru merontokkan biografi sang tokoh? Sama halnya dengan wajah-wajah pahlawan pada uang. Tokoh-tokoh tak dibaca dan direnungkan, sosok mereka justru hanya berlalu lalang di kantong, dompet, pasar, toko, dan sesekali diselipan di kitab suci.
Penelusuran terus berlanjut, mencari buku-buku yang memuat biografi Soerjopranoto. Saya menemukan beberapa judul: R.M Suryopranoto garapan Suratmin; Raja Mogok R.M. Soerjopranoto susunan Bambang Sukawati, dan Anak Bangsawan Bertukar Jalan karya Budiawan. Judul terakhir saya dapatkan pada tulisan blog pribadi bandungmawardi.wordpress.com.
Sebuah majalah lama memberi saya perasaan dan peristiwa. Saya merasa kikuk karena tak menemukan jejak narasi sejarah dalam diri, tapi ada perasaan senang dan bangga menemukan sosok di Indonesia yang berani mengambil risiko dihadapan kesewenangan. Ia menempatkan kemarahannya dengan pas, di tengah sengkarut politik yang mencemaskan.
Konon, Suryopranoto pernah menempeleng atasannya yang berkebangsaan Belanda karena atasannya menghina seorang pegawai Indonesia. Ketika memimpin sekolah pertanian di Wonosobo, ia juga memprotes keras Pimpinan Dinas Pertanian Wonosobo yang memecat seorang pegawai bangsa bangsa Indonesia secara tidak adil. Ia menyobek ijazahnya dan melempar kunci kantor di muka atasannya. Sejak itu ia keluar dari pegawai negeri dan membentuk gerakan petani dan buruh.
Suryopranoto juga tercatat sering memimpin pemogokan kaum buruh menentang Belanda. Ia melancarkan aksi pemogokan yang menuntut kenaikan upah dan jaminan-jaminan sosial. Antara lain di pabrik gula dan di pegadaian. Karena aktivitas tersebut, Belanda menjulukinya sebagai Raja Pemogokan.
Saya iseng membayangkan ada sosok reinkarnasi Suryopranoto di era sekarang. Mungkin ia juga akan mendamprat Bahlil, Menteri ESDM Indonesia, terutama ketika sesumbar soal tambang dan minimnya lowongan pekerjaan di Indonesia. Selain Bahlil, pasti ada daftar tokoh lainnya. Silahkan Anda pilih sendiri, negeri ini tak kurang stok pemimpin yang layak didamprat. Tentu akan banyak kejadian sangat menarik. Rakyat bisa merasa punya tempat pulang dan berlindung dari kesewenangan para petinggi
Pada akhirnya, berkat majalah itu, saya merasakan banyak peristiwa dalam bersinggungan dengan sejarah. Tak hanya sekali klik atau scroll tapi melibatkan rasa malu, penasaran, senang, dan kagum. Terbukti bahwa sejarah tidak ada di tangan dan pangkuan saya. Saya mencari tapi sejarah dan tokoh itu rasanya masih ada di kejauhan.
Editor: Kendi Setiawan
