Arina.id - Membaca novel acapkali dipandang sebelah mata, bahkan tak jarang mendapatkan stigma negatif di masyarakat. Di banyak pesantren atau sekolah, larangan membaca novel bukanlah hal yang asing. Alasannya pun terdengar cukup klise dan membosankan, seperti kekhawatiran bahwa siswa atau santri akan kehilangan fokus belajar.
Sayangnya, larangan ini sering kali diterapkan tanpa memilah-milah jenis novel yang dimaksud, seolah semua novel sama saja tak bermutu, sekadar hiburan, dan buang-buang waktu.
Namun, bukankah lebih bijak jika stigma semacam ini dikaji ulang? Sebab, tidak semua novel layak untuk dilarang. Memang benar, ada novel-novel yang isinya minim manfaat. Tetapi di sisi lain, ada juga novel yang justru sarat dengan nilai-nilai kehidupan, hikmah, dan pesan Islami. Salah satu contohnya adalah Novel Kado Terbaik karya J.S. Khairen.
Novel ini mengisahkan tiga kakak beradik: seorang kakak laki-laki bernama Rizki, serta dua adik perempuannya, Rizka dan Khanza. Sejak kecil, mereka harus menghadapi pahitnya kehidupan. Ayah mereka tewas ditembak karena terlibat sebagai pengedar narkoba. Sementara itu, ibu mereka, meskipun masih hidup, tega membuang ketiga anaknya ke panti asuhan ilegal.
Beban hidup terasa semakin berat, terutama bagi adik bungsu mereka, Khanza. Nasib tragis menimpanya sejak lahir. Baru empat hari menghirup udara dunia, Khanza sudah harus dititipkan bersama kedua kakaknya rizki dan rizka di panti asuhan ilegal yang sama. Yang lebih memilukan, ibunya bahkan tidak sempat memberinya nama. Nama Khanza akhirnya diberikan oleh kakaknya, Rizki.
Hikmah dan Nilai Islam dalam Novel “Kado Terbaik”
Di beberapa lembar novel Kado Terbaik banyak terdapat hikmah serta nilai Islam yang bisa dipelajari. Menarik, bukan? Pesan atau pembelajaran tentang Islam maupun hikmah kehidupan lebih berkesan ketika disampaikan melalui sebuah cerita. Begitulah kiranya metode pendidikan yang diajarkan dalam Al-Qur'an. Banyak kisah yang ditampilkan, bahkan sebagian besar isi Al-Qur'an berupa cerita yang sarat dengan nilai dan hikmah.
Berikut beberapa nilai islam dalam lembar novel Kado Terbaik:
1. Kesucian sebagai Syarat Utama Ibadah
Rizki, sang kakak, memutuskan untuk keluar dari panti asuhan ilegal dan meninggalkan adik-adiknya. Ia bertekad mencari nafkah di luar untuk membebaskan adiknya, namun justru hidupnya terlunta-lunta di jalanan. Suatu ketika, ia terlibat kejar-kejaran merebut sebuah dompet yang ia temukan di terminal, yang ia niatkan untuk membayar makan siangnya. Namun, setelah berhasil mendapatkannya, ia mendapati uang di dalam dompet itu telah hilang.
Dalam perjalanan kembali ke terminal, Rizki melewati pasar burung dan terdesak oleh keributan orang yang sedang bertengkar, hingga ia tertimpa kotoran burung. Ketika waktu sholat Maghrib tiba, ia sadar bahwa ia tidak bisa melaksanakan sholat karena bajunya yang kotor dan najis. Ia teringat bahwa salah satu syarat sah ibadah adalah harus dalam keadaan suci
“Aku tidak ikut sholat maghrib. Selain karena sudah lama tak sholat, pakaianku juga kotor. Salah satu syarat sahnya sholat adalah pakaian terhindar dari najis. Bagaimanapun aku tadi sudah menggosok pakaianku, masih saja ada bercak kotoran.”
2. Kisah pelacur mendapat ampunan sebab memberi minum anjing
Rizki pernah mencuri kotak amal anak yatim di masjid untuk membeli baju dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, setelah mendapatkan sedikit uang, ia kembali ke masjid untuk mengembalikan uang tersebut dan mengakui perbuatannya di hadapan orang-orang sekitar. Rizki pun dikerumuni dan hendak diadili.
Melihat kejujurannya, seorang imam masjid berdiri dan menceritakan kisah seorang pelacur yang mendapat ampunan Allah karena memberi minum seekor anjing. Imam tersebut mengisahkan hal itu untuk memuji Rizki dan meredakan ketegangan di sekitar masjid.
Imam tadi berdiri. "Alkisah dari Hadits Bukhari, bahwa ada seorang perempuan, pelacur, yang kemudian diampuni, dan surga menunggu-nunggu kedatangannya. Perempuan itu terjebak di sebuah suma bersama seekor anjing, dan tersisalah satu teguk saja air yang ada Perempuan itu memutuskan memberikan air itu pada anjing. Wanita pezina ini kemudian dapat ampunan.
Aku tahu cerita itu. Sering dulu aku dengar ketika kecil dan remaja, saat masih mengaji. Tapi aku jelas tidak seperti itu. Aku memang maling. Barangkali, Nak Rizki ini memang mendapatkan apa yang disebut hidayah di bulan Ramadhan. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana Allah menjatuhkan yang satu itu pada seseorang."
3. Kisah Khalifah Umar Bin Khattab dan keteladanan dalam merespon rakyat yang kelaparan
Imam masjid melanjutkan ceritanya dengan mengisahkan Khalifah Umar bin Khattab dalam merespons rakyat yang kelaparan. Tujuan dari cerita ini, disampaikan oleh imam masjid kepada masyarakat yang mengerumuni hendak mengadili rizki, adalah agar mereka merenung dan peduli terhadap orang-orang di sekitar mereka yang kelaparan, seperti yang dialami Rizki. Ini merupakan tanggung jawab bersama.
“Begitu juga kisah Khalifah Umar Bin Khattab. Barangkali bapak- bapak sekalian sudah sering juga mendengarnya. Bahwa Khalifah Umar dan Aslam tertegun, menangis melihat seorang janda yang memasak batu untuk anak-anaknya karena mereka tak punya sesuatu untuk dimakan. Wanita itu lalu menggerutu bahwa pemimpin mereka yaitu Khalifah Umar adalah pemimpin yang tidak becus. Membiarkan warganya kelaparan."
Cerita yang satu ini, juga dulu sering aku dengar.
"Wanita itu tak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar. Maka mendengar itu, Khalifah Umar gemetar. Ia bergegas kembali ke Madinah. Itu perjalanan yang jauh. Ia memikul sendiri sekarung gandum tanpa mau dibantu oleh Aslam."
"Mukanya merah padam, ia getir. Padahal Khalifah Umar adalah pemimpin yang disegani dan juga ditakuti. Sepanjang perjalanan, yang terbayang olehnya adalah pintu neraka yang menyala-nyala. Karena sungguh ada satu warganya yang tidak makan bersama anak-anak mereka.”
Identitas Buku
Judul buku: Kado Terbaik
Penulis: Jombang Santani Khairen (J.S. Khairen)
Editor: Trian Lesmana
Penyelia Naskah: Yayi Dewintya
Ilustrasi Sampul: Yogi Fahmi Riandito
Penata Sampul: Yola Ayurveda
Penata Isi: Hani Fauziyah
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
ISBN: 978-602-0529-325
Halaman: 245 halaman
Genre: Novel
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
