Nilai Kemanusiaan dari Dunia Anjing dalam Novel Because of Winn- Dixie, A Dog’s Life, dan Greyfriars Bobby

Nilai Kemanusiaan dari Dunia Anjing dalam Novel Because of Winn- Dixie, A Dog’s Life, dan Greyfriars Bobby

Sebagai pemeluk agama Islam, ingatan saya terhadap anjing hanya secuil. Sejak masih bocah, ajaran yang mesti saya anut adalah menjauhi anjing, sebab air liurnya masuk kategori najis mughallazhah. Kalau sampai terkena, saya harus membasuhnya dengan air dicampur tanah. Karena ingin menjadi umat yang taat sekaligus tidak mau ruwet, jalan yang saya pilih adalah menjaga jarak sebisa mungkin

Tapi bagi saya sendiri, anjing itu hewan yang amat lucu dan menggemaskan, ditambah citranya yang terkenal setia, berani, dan pintar. Terkadang, saya ingin sekali memelihara dan nguleng-nguleng tubuhnya, tanpa terkena liur. Tapi, itu jelas hal yang muskil, sebab keduanya satu paket. Memelihara berarti wajib berurusan dengan liur. Jadi, akhirnya saya mengambil jalan tengah, hanya memandang anjing-anjing milik teman dan memuaskan hasrat ingin memiliki dengan membaca novel.

Tiga judul yang terpilih: Because of Winn- Dixie (2000) gubahan Kate DiCamillo, A Dog’s Life (2005) karangan Ann M. Martin, dan Greyfriars Bobby (1912) karya Eleanor Atkinson. Tiga buku itu berbicara soal anjing dan manusia. Mata saya enggan berhenti menatap huruf-huruf di dalamnya. Buku pertama dan kedua pernah meraih Newberry Honor Award, penghargaan bagi para penulis yang memberikan kontribusi luar biasa bagi sastra anak-anak Amerika. Buku ketiga adalah adaptasi kisah nyata seekor anjing ras Skye Terrier yang sangat terkenal pada abad ke-19.

Membaca buku di atas mengobati kekecewaan saya tidak bisa memelihara anjing. Buku-buku itu membuat saya merasa menjalin kedekatan dengan hewan tersebut meski hanya sampai tataran imajinatif. Saya merasa amat senang sekaligus terharu karena di dalamnya tidak hanya sekadar bicara soal hewan tetapi juga isu peperangan, kemanusiaan, kaum rentan, ketimpangan sosial, cinta kasih, dan gambaran psikologis anak-anak melalui tatapan seekor anjing.

Because of Winn- Dixie (2000)
Because of Winn-Dixie (2000) adalah bacaan anak Amerika karya Kate DiCamillo. Novel ini bercerita tentang India Opal Buloni, seorang bocah yatim kesepian yang baru pindah ke kota kecil di Florida bersama ayahnya, seorang pendeta. Suatu hari, ia menemukan seekor anjing liar di supermarket Winn-Dixie dan memutuskan untuk memeliharanya, sekaligus memberinya nama sesuai toko tempat ia menemukannya.

Anjing itu membawa perubahan besar dalam hidup Opal. Melalui Winn-Dixie, Opal mengenal berbagai orang di kota, termasuk seorang pustakawan tua, seorang wanita pemalu pemilik banyak tanaman, seorang pria bernama Otis yang bekerja di toko hewan peliharaan dan beberapa anak di sekitar tempat tinggalnya. Hubungan yang terjalin dengan mereka membawa opal memahami banyak sisi lain tentang kehidupan.

Ia mulai belajar bagaimana bersikap dihadapan orang yang pernah bersalah. Dalam salah satu dialog, Gloria Dump mengatakan pada Opal: “Kau tidak selalu bisa menilai orang dari hal-hal yang pernah mereka lakukan. Kau harus menilai orang dari apa yang mereka lakukan sekarang.” Selain itu, Opal juga berdamai dengan rasa kehilangan ibunya dan memilih untuk menghargai hal-hal yang dimiliki saat ini: “Tidak mungkin kau bisa menahan sesuatu yang ingin pergi, kau mengerti? Kau hanya bisa menyayangi apa yang kau miliki selama kau memilikinya.”

Dalam penggalan kisah, DiCamillo juga menyisipkan kritiknya terhadap peperangan. Ia menyoroti gambaran perang dalam benak laki-laki yang kerap dicitrakan sebagai hal yang berani, tangguh, pahlawan, dan baik: “Sosok lelaki dewasa dan yang masih bocah selalu ingin bertempur. Mereka selalu mencari alasan untuk pergi berperang. Menyedihkan sekali. Mereka memiliki pandangan bahwa perang itu asyik. Dan tidak ada pelajaran sejarah yang bisa meyakinkan mereka bahwa itu tak benar.” Sekolah juga bertanggung jawab dalam penyebaran citra perang dalam benak anak-anak.

A Dog’s Life (2005)
Buku A Dog’s Life (2005) merupakan karya Ann M. Martin, penulis asal Amerika. Novel ini berkisah biografi seekor anjing dengan pemakaian orang pertama sebagai narator. Orang pertama tersebut adalah seekor anjing bernama Squirrel. Ia memiliki ibu bernama Stream dan kakak bernama Bone. A Dog’s Life berisi kisah tentang permasalahan anjing, potret pengorbanan seorang ibu, potret kota dan desa, potret perayaan agama dalam kehidupan anak, potret keluarga, dan potret kehidupan lansia.

Membaca buku A Dog’s Life membuat pembaca mengetahui kehidupan anjing dengan amat detail. Penulis sangat lihai membuat pembaca seolah menjadi seekor anjing yang bernasib tragis: kehilangan ibu, kehilangan saudara dan tempat tinggal. Dalam buku itu dikisahkan Squirrel menjalani hidup penuh tantangan, termasuk menghadapi kelaparan, cuaca buruk, dan interaksi dengan manusia yang baik maupun jahat.

Greyfriars Bobby (1912)
Greyfriars Bobby (1912) karya Eleanor Atkinson adalah kisah mengharukan yang didasarkan pada kejadian nyata tentang kesetiaan seekor anjing bernama Bobby di Edinburgh, Skotlandia. Bobby adalah anjing kecil dari jenis Skye Terrier yang sangat setia kepada tuannya, John Gray, seorang laki-laki amat miskin yang dipanggil "Auld Jock."

Ketika Auld Jock meninggal, Bobby tetap tinggal di samping makam tuannya di Greyfriars Kirkyard lebih dari delapan tahun, meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti cuaca buruk dan larangan hukum. Masyarakat setempat yang terharu dengan kesetiaan Bobby akhirnya memberinya makanan dan melindunginya. Dengan cara Ajaib, kehidupan anjing kecil ini terkait dengan kalangan tertinggi dan terendah, serta kalangan yang paling angkuh maupun rendah hati di ibu kota Skotlandia.

Buku tersebut melukiskan bahwa di antara nisan-nisan kuburan, tumbuh perwujudan kasih sayang dan kemanusiaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, hal itu terjadi lewat seekor anjing. Bobby tidak hanya digambarkan sebagai seekor binatang tetapi sosok yang menghangatkan, terutama bagi kaum miskin: “Bagi mereka orang-orang yang kurang beruntung ini pun Bobby mau mengibaskan ekor dengan ramah. Beberapa dari antara mereka bahkan tidak punya teman selain anjing kecil yang tidak pandang bulu ini.” Bobby menjadi simbol cinta kasih dan kesetiaan tanpa syarat.

Kisah tentang Greyfriars Bobby boleh dikata catatan paling lengkap dan luar biasa dalam sejarah anjing. Pengabdian yang dijalaninya seumur hidup telah disaksikan ribuan orang dan dihormati di depan umum. Greyfriars Bobby tidak hanya menjadi legenda lokal tetapi juga sebuah kisah yang menginspirasi dunia. Hingga kini, kita masih bisa menjumpai patung Bobby di antara Candlemaker Row dan George IV Bridge di Edinburgh.

"Bobby menang tidak membutuhkan monumen, tapi kurasa kitalah yang membutuhkannya, supaya generasi-generasi mendatang takkan melupakan arti kasih sayang seekor anjing, bagi diri sendiri dan juga bagi kita.” Demikian salah satu kutipan dalam buku yang yang mengingatkan pembaca akan arti kahidupan.

Sungguh merupakan kabar baik di masa itu maupun masa kini, bahwa tidak hanya manusia yang bisa menjadi pionir dalam menyebarkan pesan kemanusiaan. Melalui seekor anjing, kucing (Luis Sepulveda), beruang (Claudio Orrego V) dan beragam hewan lain, Tuhan menitipkan pesan-pesan bijak dengan amat indah dan ajaib untuk membuat dunia menjadi ramah dan bahagia.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo