Sapi adalah hewan multiperan. Daging, susu, tulang hingga kehadirannya punya banyak cerita bersama manusia. Sejak bayi hingga akhir hayat, sapi menemani manusia dengan berbagai kesannya. Masa depan bumi, kesehatan manusia, perputaran roda ekonomi, dan ritual keagamaan melibatkan sapi.
Obrolan publik soal sapi pernah meningkat akibat postingan Mark Zuckerberg, CEO Meta. Dalam instagramnya, ia mengabarkan memiliki peternakan sapi di Ko’olau dengan luas 1.400 hektar dan akan memproduksi daging sapi kualitas terbaik di dunia. Warganet ramai-ramai mengomentari unggahan dengan peringatan bahaya peternakan sapi bagi keberlangsungan bumi.
Sapi itu masalah dan penyelamat. Kompas (20/1/2024) mengabarkan: “Selama siklus hidupnya, sapi melepaskan metana dalam jumlah besar. Metana dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca selain CO2, yang menurut studi menyebabkan pemanasaran sekitar 85 kali lebih banyak dibandingkan CO2 selama 20 tahun.” Di hadapan perubahan iklim, sapi itu masalah karena peternakan dan produksi daging sapi massal terbukti menyumbang krisis iklim.
Akan tetapi, kandungan asam amino yang lengkap dalam daging sapi memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak. Susu yang dihasilkan sapi dipercayai membantu perkembangan tulang, menjaga kesehatan jantung, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain dari kacamata kesehatan, sapi juga dipercayai punya nilai spiritual.
Kontradiksi sapi, antara masalah dan penyelamat membuat orang-orang seperti bersikap sesuai dengan kebutuhan. Di tangan para pebisnis seperi Mark Zukeberg, Mega Farm, China Modern Dairy, dan beberapa peternakan massal lainnya, warganet melempar begitu banyak kritik karena dampak bahaya yang ditimbulkan. Tetapi di sisi lain, pengritik adalah orang yang taat dalam beragama yang sangat dekat dengan sapi.
Dalam Islam ada ketentuan bagi pemeluknya untuk berkurban. Pada tahun 2023, berdasarkan data Kemenetrian Pertanian, kebutuhan kurban diproyeksikan mencapai 1,7 juta ekor pada Hari Raya Idul Adha. Sapi menyumbang angka sebesar 650.282 ekor. Kita bisa bayangkan, angka itu hanya mencakup di Indonesia belum negara-negara lain dan hanya dalam hitungan per-tahun. Pasti akan cukup mencengangkan jika kita menghitung dalam kelipatan beberapa tahun dan menggabungkannya dengan beberapa negara.
Di dalam agama Hindu, kita mengenal sapi bukan sebagai hewan sembelihan tetapi dianggap bintang suci. Kita mengenalinya lewat berbagai epos dan lukisan yang banyak menyandingkan Krisna dengan sapi. Penghormatan ini membuat penyembelihan sapi telah lama dilarang di sebagaian besar bagian India.
Namun, ketetapan itu tidak lantas membuat India mengurangi produksi sapi, yang terjadi justru sebaliknya. India menjadi negara ke-7 penghasil daging sapi terbesar di dunia mengalahkan Mexico, Spanyol, dan Australia.
Dalam dunia politik, sapi ikut dilibatkan. Prabowo Subianto menjanjikan susu gratis bagi seluruh anak Indonesia. Susu untuk semua murid di sekolah, pesantren, anak-anak balita, dan bantuan gizi ibu hamil. Jumlah murid di Indonesia kurang lebih sebesar 53.14 juta jiwa. Jumlah balita Indonesia mencapai 22.094.425 jiwa, belum diakumulasikan dengan jumlah pesantren dan ibu hamil.
Untuk mewujudkan janji kampanye tersebut kita boleh bertanya berapa banyak sapi yang harus diperah untuk diambil susunya? Berapa luas peternakan yang harus dibangun agar dapat menghasilkan susu sebanyak itu selama 5 tahun beliau menjabat? Janji kampanye tidak mempertimbangkan bahaya sapi.
Sapi dimufakati berbahaya. Akan tetapi, industi hiburan dan marketing pasar menjadikannya berwajah sebaliknya. Pemerintah juga seolah membiarkannya. Sejak kecil, kita diberi pemahaman yang rancu soal sapi. Iklan televisi, bungkus makanan, film, dan boneka menghadirkan sapi dalam bentuk yang lucu, menggemaskan, dan bersabahat.
Iklan susu yang ditayangkan di televisi dan beragam media sosial menghadirkan sapi serupa manusia. Ia bertangan dan berkaki lalu mengenakan baju. Warna tubuhnya bergam tidak hanya hitam putih tetapi ungu, biru dan hijau. Sapi bernama Icownic.
Lalu, sapi dalam bungkus makanan juga ditampilkan menggemaskan. Salah satu jajanan ringan menampilkan wajah sapi di depan kemasan. Sapi tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Posisinya berdiri sambil mengangkat tangannya seolah mengacungkan jempol. Matanya terbuka lebar seperti menampilkan ekspresi kegirangan. Sapi tidak memberi indikasi tanda bahaya.
Kita dan anak-anak juga mengenal sapi lewat film. Little Krisna (2009), Home On The Range (2004), Annabelle’s Wish (1997), Cow and Chiken (1997), dan Back at the Barnyard (2006). Dalam film Annabelle’s Wish (1997), sapi ikut memeriahkan Natal. Sapi bernama Annabelle bisa berbicara, memiliki poni, dan berwajah menggemaskan. Sapi berasahabat dengan seorang anak bernama Billy dan beragam hewan. Ia memiliki impian dan imajinasi layaknya anak-anak.
Lagu tentang sapi juga kita temukan dalam akun channel YouTube Lagu Anak Indonesia. Dalam lagu tersebut, sapi diperlihatkan begitu menarik dan meninggalkan kesan menyenangkan bagi anak yang menonton. Lagu berjudul Lima Ekor Sapi (2019) sudah ditonton lebih dari sepuluh juta kali. Dua belas kali kata sapi terulang dalam lagu yang berdurasi hanya 2 menit. Kepala anak tentu terpenuhi dengan kata sapi.
Boneka sapi juga terpajang di banyak etalase toko. Warnanya beragam, tampilannya menggemaskan, dan teksturnya lembut. Diduga desain boneka dibuat dengan pertimbangan agar mudah dibawa dan nyaman untuk dipeluk. Sesampainya di rumah, benda ini kerap menemani anak di atas tempat tidur. Anak-anak bangun dan tidur melihat sapi.
Mengurangi konsumsi daging, budidaya daging laboratorium yang dihasilkan dari sel hewan hidup, mengganti daging dan susu sapi dengan bahan nabati yang kaya protein memang bisa menjadi solusi dari permasalahan yang ditimbulkan sapi bagi masa depan bumi. Seperti yang disampaikan Erika Kurnia dalam Kompas (20/1/ 2024).
Namun, proses pembentukan kesadaran yang ditanamkan dalam diri anak-anak soal sapi barangkali juga harus menjadi perhatian. Ketika dewasa, harus diakui bahwa alam bawah sadar kita tidak menganggap sapi sebagai sebuah ancaman. Kita tidak siap pada fakta bahaya sapi. Keluarga, sekolah, masyarakat bahkan kebijakan pemerintahan membentuk kesadaran kita mengenai sapi adalah baik dan menyenangkan.
Kesadaran untuk menanamkan bahaya sapi bisa dilakukan dengan ikut melibatan lagu, film, kurikulum sekolah, dan kebijakan pemerintah. Fakta-fakta penelitian memang tidak bisa terbantahkan tetapi tidak bisa menggoyahkan imajinasi akan sapi yang terlanjur menemani kita hampir sepanjang hidup.
Editor: Kendi Setiawan
