Suatu malam Adam bercerita
Hawa-nya tak lagi di jalur yang sama
Bacaan dan doa yang mulai berbeda
Ego dan air mata kita bicara
Jangan salahkan pahamku kini tertuju oh
Siapa yang tau
Siapa yang mau
Kau di sana
Aku diseberangmu
(Mangu- Fourtwnty & Charita Utami)
Lirik itu sudah membanjiri segala tempat; memenuhi jutaan telinga dan mulut banyak kalangan. Mangu (2023) berhasil naik ke puncak daftar trending YouTube dan menjadi lagu Indonesia pertama yang menembus Top 10 Spotify Global. Fourtwnty featuring Charita Utami membawakan setiap lirik dengan apik, membuat pendengar merasa terwakili kisah hidupnya. Konon, Mangu menceritakan hubungan sepasang kekasih yang terhalang perbedaan keyakinan. Masalah itu membuat mereka termangu.
Mangu dalam KBBI berarti terdiam karena perasaan sedih, bingung, dan terkejut. Kata ini mewakili kondisi batin yang tenang dan terpaku oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Di lagu yang dibawakan Fourtwnty, judul Mangu yang dipilih diduga mengacu pada makna perasaan sedih karena perpisahan atau keadaan yang pelik.
Perpisahan atas nama agama memang terasa sulit. Selain karena larangan dari para penafsir agama, hukum di Indonesia juga berlaku sama. Ini berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 2023.
Bivitri Susanti, pakar hukum tata negara, menilai SEMA nomor 2 tahun 2023 tersebut sarat dengan intervensi politik yang bertentangan dengan Undang-Undang Administrasi Kependudukan serta melanggar hak asasi manusia. Meski begitu, sayangnya, palu tetap diketuk. Pernikahan yang membawa keyakinan berbeda rawan ribet dan sulit di Indonesia. Pernikahan tak cukup dengan syarat sesama manusia, saling mencintai, dan bertanggung jawab, butuh legitimasi agama yang sama.
Saya teringat sebuah novel berkisah tentang perbedaan keyakinan yang melahirkan peperangan dan perpecahan, termasuk larangan menjalin kasih. Buku itu bertajuk Forgulos (Basa Basi, 2020). Aveus Har, lewat karya itu menyentil pemuka agama dan kepala pemerintah yang memanipulasi ajaran seturut kepentingan dan kemauan mereka. Agar dogma teramini oleh banyak umat, pemuka agama membungkus gagasan itu dengan kata Tuhan.
Lewat tokoh Bero dan Obre, Aveus Har menggugah pembaca untuk memikirkan kembali dogma-dogma agama yang terlanjur diyakini sebagai nilai absolut, tetapi ternyata mengandung permusuhan, kebencian, dan pemisahan: “Apakah tuhan Freo dan Tuhan Quo adalah satu yang satu? Sepertinya meragukan, tetapi jika mereka bukan Satu yang Satu seharusnya mereka menciptakan makhluk yang berbeda sehingga akan menjadi jelas yang mana ciptaan masing-masing dan para ciptaannya bisa tahu siapa harus menyembah siapa.”
Obrolan seputar agama juga mengingatkan pada sebuah cerita pendek yang ditulis Anthony de Mello. Cerita bertajuk Kucing Sang Guru
Dikisahkan setiap kali guru siap untuk melakukan ibadah malam, kucing asrama mengeong-ngeong, sehingga mengganggu orang yang sedang berdoa. Maka ia menyuruh supaya kucing itu diikat selama ibadat malam.
Lama sesudah guru meninggal, kucing itu masih tetap diikat selama ibadat malam. Dan setelah kucing itu mati, dibawalah kucing baru ke asrama untuk dapat diikat sebagaimana biasa terjadi selama ibadat malam.
Berabad-abad kemudian kitab-kitab tafsir penuh dengan tulisan ilmiah murid-murid sang guru, mengenai peranan penting seekor kucing dalam ibadat yang diatur sebagaimana mestinya.
Agama bukan milik pendakwah. Orang-orang fakir ilmu mesti turut bersuara. Bunyi yang datang dari ruang-ruang redup, terpinggirkan, tak terlihat, dan papa adalah bahan bakar bagi agama agar nyawanya tetap berdetak. Agama tanpa pertanyaan, sangkalan, dan keraguan akan mati sejak mula dikumandangkan. Agama tanpa kontekstualisasi hanya akan melahirkan kemandekan tafsir.
Ada banyak lagu serupa Mangu meski tak secara eksplisit dijadikan judul. No Surprises (1997) turut menyuarakan suara hati banyak manusia yang terjebak pada perasaan frustasi dan kecewa dengan hidup meski telah berupaya untuk tenang. Lagu garapan Radiohead (Inggris, 1985) menyiratkan rasa kehilangan harapan dan keputusasaan karena tak ada hal menarik dalam hidup.
A heart that’s full up like a landfill
(Hati yang penuh seperti tempat pembuangan akhir)
A job that slowly kills you
(Sebuah pekerjaan yang perlahan membunuhmu)
Bruises that won’t heal
(Memar yang tidak akan sembuh)
You look so tired and unhappy
(Anda terlihat sangat lelah dan tidak bahagia)
Bring down the government
(Bawa ke bawah pemerintah)
They don’t, they don’t speak for us
(Mereka tidak, mereka tidak berbicara untuk kita)
Termangu dalam menjalani hidup di Indonesia kian terasa. Menjadi dewasa sulit, apalagi ditambah sebagai WNI, spesifikasi kelas menengah ke bawah. Saya banyak menjumpai diskriminasi persyaratan kerja, upah minimum, perlindungan keselamatan yang bolong, dan over job pada banyak calon dan pekerja. Ketika sudah bekerja rawan di PHK. Sebaliknya, saat belum bekerja sulit mendapat lowongan.
Dari mana manusia akan merasakan hidup yang benar-benar hidup? Menyisakan hari untuk diam, berimajinasi, berinteraksi dengan sesama, atau sekadar merenung? Manusia yang konon ditakdirkan untuk menjadi pengganti Tuhan dan mengoptimalkan akal untuk berdaya, harus pupus dihadapan materi-materi yang menyergap kehidupan orang dewasa.
Barangkali benar yang diceritakan dalam buku Burung Berkicau (1984), kehidupan orang dewasa di tengah zaman yang semakin modern menghisap segala hal yang ada. De Mello menyampaikannya melalui percakapan antara hewan:
Binatang-binatang mengadakan sidang dan mulai mengeluh bahwa manusia selalu mengambil apa saja dari mereka.
‘Mereka mengambil susuku,’ kata lembu
‘Mereka mengambil telurku,’ kata ayam
‘Mereka mengambil dagingku,’ kata babi
‘Mereka memburuku untuk mengambil minyakku,’ kata ikan paus
Dan selanjutnya.
Pada akhirnya siput berbicara: ‘Aku mempunyai sesuatu yang mereka inginkan lebih daripada segala sesuatu. Mereka tentu akan merampasnya dariku seandainya dapat. Aku mempunyai waktu.’
Editor: Kendi Setiawan
