Refleksi Hari Guru: Antara Teko, Air dan Cawan

Refleksi Hari Guru: Antara Teko, Air dan Cawan

Peringatan hari guru yang bertepatan dengan tanggal 25 November kemarin, juga bersamaan dengan acara Wisuda di STAI At Taqwa Bondowoso. Motivasi dan potret keteladanan guru dalam Islam sejatinya merujuk pada Rasulullah saw. Sebab, sang pembawa risalah adalah guru bagi seluruh umat manusia.

Siapa pun yang "mewakafkan" dan mendedikasikan hidupnya sebagai pendidik wajib menjadikan Rasulullah prototipe utama sebagai tenaga pendidik. Hari guru berarti menguatkan kembali peran vitalnya sebagai tenaga pendidik dalam proses transfer nilai (transfer of value) kepada murid. Guru tidak hanya sebagai pengajar, pelatih yang berorientasi pada hasil kognitif dan psikomotorik, tetapi nilai akhlak yang diukur dengan afektif siswa. Guru memiliki peran penting dalam mengantarkan kesuksesan siswa, karena orang hebat banyak diarsiteki guru meski guru kadang dipandang profesi tidak hebat.

Kunci kesuksesan pendidikan ditentukan oleh tiga komponen yaitu cawan, air dan ceret/teko. Pertama, pastikan yang masuk ke dalam teko adalah air yang bersih. Dengan kata lain, pastikan yang masuk ke dalam pikiran dan hati adalah informasi atau ilmu yang baik. Apa yang kita baca, yang kita dengar, yang kita tonton dan saksikan adalah hal-hal yang positif dan memberi nilai tambah. Dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan proses yang benar.

Kedua, pastikan juga wadahnya atau tekonya bersih. Wadah ilmu itu adalah pikiran dan hati. Maka pastikan melatih diri untuk memiliki pikiran dan hati yang bersih. Jauhkan penyakit-penyakit hati seperti dengki, malas, iri, sombong, ingkar, dan sejenisnya. Yakinlah bahwa pasti ada kebaikan dan hikmah di setiap peristiwa. Guru hakikatnya adalah “sumber” dan murid adalah cawannya. Bila sumbernya bersih meski cawannya kotor tapi setiap hari digelontor air, maka akhirnya akan suci. Namun, sebaliknya bila tekonya yang kotor maka ribuan cawan suci akan menjadi kotor.

Ketiga, pastikan bahwa setiap orang yang menuntut ilmu hatinya juga siap diisi ilmu pengetahuan, siap menerima kebaikan dan siap berubah menjadi lebih baik. Agar kelak meraih predikat ilmu yang manfaat dan barokah. Keduanya bisa diperoleh dengan pengabdian (berkhidmat) yang merupakan pelatihan dalam menanamkan karakter. 

Ada ungkapan yang sering didengungkan yaitu “Ilmu didapatkan dengan belajar, manfaat diperoleh dengan taat dan, barokah diraih dengan berkhidmat (pengabdian). Ada pula ungkapan lain, “Dengan taat ilmu manfaat, melanggar ilmu berarti bubar”. Artinya seorang pelajar bila menginginkan ilmu yang barokah dan bermanfaat haruslah dengan menghormati gurunya, karena guru sebagai media sampainya ilmu Allah kepada yang menerima. Kecelakaan besar bagi sang penuntut ilmu bila menanggalkan penghormatan kepada guru-gurunya karena bisa jadi Allah akan mencabut keberkahan ilmu dalam dirinya. Bukankah tidak sedikit orang berilmu tetapi tidak bisa mengamalkan dan memanfaatkan ilmunya? Bukankah banyak orang pintar tetapi lebih banyak “minterin” orang lain.

Bila segi tiga emas tersebut (teko, air dan cawan) bersinergi insyaallah ilmu yang bermanfaat dan barokah akan terwujud. Manfaat ilmu ini terlihat bukan dari banyak sedikitnya ilmu yang didapatkan, tetapi sejauh mana ilmu yang didapat mampu diamalkan, Demikian barokah diukur bukan dari kuantitas keilmuan seseorang, tetapi diukur dengan bertambahnya kebaikan karena telah bertambah ilmu. Dalam Islam konsep tergambar dalam surat Al Baqarah: 129 dan 151 yaitu tilawah (membaca), tazkiyah (mensucikan) dan ta’lim (mengajarkan). Maka mendidik harus didasari jiwa keikhlasan, dengan proses yang begitu hati-hati serta jiwa pencari ilmu yang yang jernih. Karena keikhlasan bersumber dari kemurnian hati, ilmu merupakan cahaya ilahi dan anak didik adalah "cawan" yang akan menampung cahaya ilmu. 

Merujuk pada kiai pesantren atau kiai kampung (istilah Gus Dur), konsep belajar ikhlas sangat jelas terasa bila bercermin pada guru-guru kita yang berada di pesantren. Santri atau siswa yang ada di pesantren menjadikan kiai sebagai kiblat dalam bersikap dan berperilaku. Keikhlasan yang berangkat dari hati terpancarkan dalam raut wajah yang meneduhkan dan akhlak yang menyejukan. Tugas-tugas kiai tidak hanya melatih, mengajar dan mendidik. Lebih dari itu, malam hari mereka mendoakan, bermunajat kepada Allah seraya membisikan angan dan harapan untuk kesuksesan santri-santrinya. Ritual inilah yang mempererat hubungan emosional yang kuat antara santri dan kiai.

Dinamika dalam pembelajaran jangan sampai menyurutkan diri meraih kesuksesan. Ibarat teko/ceret yang setiap hari dipakai untuk merebus air, lama kelamaan meninggalkan bekas kerak yang semakin lama semakin tebal bahkan lebih tebal dari bahan ceret itu sendiri. Kerak-kerak tersebut lama-lama mengkristal yang kemudian menimbulkan aroma baru yang justru menambahkan kenikmatan rebusan teh/kopi bila dibanding teko baru. Demikian juga proses pendidikan, perubahannya tidaklah instan, karena hasil tidak langsung terasa. Pendidikan merupakan proses investasi jangka panjang yang kita tidak tahu kapan hasilnya bisa dipetik.

Semoga kita bisa menjadikan momentum hari guru dengan menjernihkan kembali hati kita, memperbarui semangat kita dan menemukan idola baru dalam pendidikan yaitu Rasulullah saw. Kepada segenap yang lulus tahun ini semoga menjadi guru hepat. Karena orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang-orang hebat. 

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Suheri
Ketua STAI At Taqwa Bondowoso, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Zunus
logo