Muharam, Pesantren dan Pelajaran dari Mereka yang Pernah Besar

Muharam, Pesantren dan Pelajaran dari Mereka yang Pernah Besar

Muharam selalu datang membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar pergantian tahun. Kalender Islam tidak dimulai dari peristiwa kemenangan, kejayaan, atau kemakmuran. Ia dimulai dari hijrah. Sebuah peristiwa yang mengajarkan bahwa keberlangsungan sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh seberapa besar sejarah yang dimiliki, tetapi oleh keberanian untuk berubah demi masa depan yang lebih baik.

Karena itu, Muharam sesungguhnya adalah momentum untuk melakukan reassessment—meninjau ulang perjalanan, mengukur kembali arah, dan bertanya dengan jujur: Apakah langkah yang ditempuh hari ini masih mampu mengantarkan kita menuju cita-cita yang diperjuangkan para pendahulu? Pertanyaan ini menjadi penting karena sejarah menunjukkan bahwa tidak sedikit lembaga besar yang pernah berada di puncak kejayaan, tetapi kemudian kehilangan pengaruhnya.

Nyonya Meneer pernah menjadi simbol kejayaan industri jamu Indonesia. Nama besarnya dikenal lintas generasi dan produknya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, konflik internal yang berkepanjangan, lemahnya tata kelola, dan lambatnya inovasi membuat perusahaan itu perlahan kehilangan daya tahannya.

SariWangi, salah satu merek teh paling dikenal di Indonesia, memberikan pelajaran yang berbeda. Popularitas yang tinggi ternyata tidak selalu menjamin kesehatan organisasi. Ketika pertumbuhan tidak diimbangi dengan manajemen yang matang dan pengelolaan keuangan yang sehat, masalah demi masalah mulai muncul dan sulit dikendalikan.

Di tingkat global, Blockbuster pernah menjadi raksasa industri penyewaan film dunia. Ribuan gerainya tersebar di berbagai negara. Namun ketika masyarakat mulai beralih ke layanan digital, perusahaan ini gagal memahami bahwa yang berubah bukan kebutuhan masyarakat terhadap hiburan, melainkan cara masyarakat menikmati hiburan itu sendiri.

Begitu pula Nokia. Pada masanya, Nokia adalah penguasa pasar telepon seluler dunia. Mereka memiliki teknologi, jaringan distribusi, sumber daya manusia, dan kepercayaan konsumen yang luar biasa. Namun ketika revolusi smartphone datang, Nokia terlambat merespons perubahan. Mereka terlalu percaya bahwa sistem yang selama ini membawa kesuksesan akan terus relevan pada masa depan.

Jika direnungkan lebih dalam, keempat kisah tersebut memiliki satu kesamaan. Mereka tidak runtuh karena tidak memiliki sejarah. Mereka tidak runtuh karena tidak memiliki nama besar. Mereka tidak runtuh karena tidak memiliki pengikut. Mereka runtuh karena kehilangan kemampuan untuk memperbarui diri.

Ketika Kejayaan Menjadi Zona Nyaman
Di sinilah pesantren perlu bercermin. Pesantren adalah salah satu institusi pendidikan yang paling berhasil bertahan dalam sejarah Indonesia. Ia telah melewati berbagai zaman, mulai dari masa kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, hingga era digital. Dari pesantren lahir ulama, pejuang kemerdekaan, pemimpin masyarakat, dan berbagai tokoh bangsa.

Tidak banyak lembaga yang memiliki legitimasi sosial sekuat pesantren. Namun justru karena itulah pesantren perlu berhati-hati terhadap satu hal yang sering tidak disadari yaitu rasa aman yang lahir dari kejayaan masa lalu. Banyak pesantren besar hari ini berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh generasi yang hidup dalam keterbatasan. Para pendiri tidak mewariskan kemapanan. Mereka mewariskan visi, pengorbanan, dan semangat perjuangan. Mereka membangun pesantren bukan karena memiliki sumber daya yang besar, tetapi karena memiliki cita-cita yang besar. Tantangan generasi sekarang bukan lagi membangun dari nol. Tantangannya adalah menjaga agar semangat perjuangan itu tidak berubah menjadi rasa puas diri.

Di tengah berbagai capaian yang patut disyukuri, harus diakui bahwa sebagian pesantren hari ini juga sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ada yang berhadapan dengan persoalan regenerasi kepemimpinan, ada yang menghadapi dinamika tata kelola yang semakin kompleks, ada yang bergumul dengan tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik, dan ada pula yang sedang berusaha menjaga kepercayaan masyarakat di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Semua itu bukanlah tanda bahwa pesantren sedang kehilangan peran. Justru sebaliknya, tantangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren sedang memasuki fase baru yang menuntut kedewasaan, profesionalitas, dan keberanian untuk terus berbenah. Sebab sebuah lembaga sering kali tidak mulai melemah ketika kehilangan sumber daya. Ia mulai melemah ketika kehilangan kegelisahan untuk terus memperbaiki diri.

Ketika kritik dianggap gangguan. Ketika perubahan dianggap ancaman. Ketika inovasi dianggap tidak perlu. Ketika keberhasilan masa lalu dijadikan alasan untuk menolak pembaruan. Padahal sejarah mengajarkan bahwa yang menghancurkan banyak lembaga bukanlah kompetitor, melainkan ketidakmampuan membaca perubahan.

Menghormati Warisan Tanpa Menjadi Tawanan
Tradisi pesantren sesungguhnya telah menyediakan fondasi yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan zaman. Kaidah yang selama ini hidup di lingkungan pesantren: “Al-muhafazhah ’ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, mengandung makna yang sangat relevan bagi setiap generasi. Dalam bahasa yang lebih dekat dengan konteks hari ini, kaidah tersebut dapat diterjemahkan sebagai: “Menghormati warisan masa lalu tanpa menjadi tawanan masa lalu.” Warisan para pendiri harus dijaga. Tradisi keilmuan harus dirawat. Nilai-nilai luhur harus dipertahankan. Namun penghormatan terhadap masa lalu tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk membangun masa depan.

Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930) mengingatkan bahwa kemunduran umat sering kali dimulai ketika kreativitas berhenti dan romantisme terhadap masa lalu mengambil alih energi untuk membangun masa depan. Sementara Malik Bennabi dalam The Problem of Ideas in the Muslim World (1970) menjelaskan bahwa peradaban runtuh bukan pertama-tama karena kehilangan kekayaan, melainkan karena kehilangan gagasan dan semangat yang menggerakkannya. Pemikiran kedua tokoh ini terasa sangat dekat dengan tantangan pesantren hari ini. Karena ancaman terbesar pesantren bukanlah teknologi, globalisasi, atau perubahan sosial yang cepat. Ancaman terbesar adalah ketika pesantren merasa tidak lagi perlu belajar dan berbenah.

Muharam mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah keberanian meninggalkan cara berpikir yang membuat kita berhenti bertumbuh. Hijrah adalah keberanian mengevaluasi diri ketika keadaan masih terlihat baik-baik saja. Hijrah adalah kemampuan memperbarui cara tanpa kehilangan tujuan. Karena itu, memasuki tahun baru Islam, pertanyaan yang paling penting bagi pesantren bukanlah berapa banyak santri yang dimiliki, seberapa luas aset yang diwariskan, atau seberapa besar nama yang telah dibangun.

Pertanyaannya jauh lebih mendasar; Apakah kita masih memiliki keberanian untuk berubah sebelum keadaan memaksa kita berubah? Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk belajar ketika merasa telah berhasil? Apakah kita masih memiliki kegelisahan untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki? Sebab sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat mahal. Banyak lembaga besar runtuh bukan ketika mereka kehilangan kekuatan, melainkan ketika mereka kehilangan kesadaran untuk terus memperbarui diri.

Hari ini, amanah itu berada di tangan kita. Sejarah sedang menunggu jawaban tentang bagaimana generasi sekarang mengelola warisan yang telah dibangun dengan pengorbanan besar. Apakah kita mampu memperkuatnya, atau justru membiarkannya melemah oleh persoalan-persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan jika dihadapi dengan kejujuran, kebijaksanaan, dan keberanian untuk berubah.

Para pendiri mewariskan perjuangan kepada kita, bukan sekadar kebanggaan. Karena itu, jangan sampai kita dikenang sebagai generasi yang kehilangan apa yang berhasil dijaga dan diwariskan oleh para pendahulu. Dan mungkin, itulah pesan terdalam Muharam bagi pesantren yaitu jangan hanya mewarisi sejarah hijrah, tetapi warisilah keberanian untuk berhijrah. Sebab masa depan tidak pernah dimiliki oleh mereka yang hanya bangga terhadap masa lalu, melainkan oleh mereka yang mampu menjaga nilai-nilai luhur sambil terus menemukan jawaban bagi tantangan masa depan.

Fahmi Arif El Muniry, Alumnus Pesantren Al Anwar, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak


$data['detail']->authorKontri->kontri

Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak


Editor: Kendi Setiawan
logo