Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً يُوَافيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا أِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهاً وَاحِداً وَرَبّاً شَاهِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَنَحْنُ لَهُ تَابِعُوْنَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ هُمْ هُدَاةُ الأُمَّةِ وَنَحْنُ فِيْهِمْ رَاغِبُوْنَ, سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ العَلِيْمُ الحَكِيْمُ, رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِي, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ الْمُذْنِبَةَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ العَزِيْزِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Sudah menjadi suatu kewajiban bagi khatib mengajak kita semua khususnya diri khatib sendiri untuk meningkatkan level ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Taqwallah memberikan pemahaman kepada kita tentang segala hal yang perlu kita ketahui, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 282 berikut:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Taqwallah juga menjamin seseorang akan menemukan solusi dan jalan keluar atas segala permasalahan dalam hidupnya, dan juga menjadikannya mendapatkan rezeki yang tidak disangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Thalaq ayat 2 dan 3 berikut:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِه قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu."
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Salah satu perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah itu Allah mulai dengan diri-Nya sendiri, kemudian Allah menyertakan malaikat-Nya, dan barulah Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana dalam firman-Nya di surat al-Ahzab ayat 56 berikut:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Perintah ini menunjukkan betapa besar dan tinggi posisi Nabi Muhammad di sisi Allah ta’ala. Betapa mulia Nabi Muhammad sehingga Allah memberikan rahmat ta’dzim, yakni kasih sayang atas dasar penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang sangat jauh berbeda dengan rahmat Allah kepada kita semua. Allah merahmati kita atas dasar belas kasihan-Nya kepada kita, karena kita takut akan siksaan-nya.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad untuk turut membacakan shalawat atas dasar mengharapkan limpahan rahmat dari sosok Nabi kita tercinta. Selayaknya gelas yang penuh dengan air, ketika kita tambahkan volume airnya, maka akan tumpah dan membasahi kita kembali. Perumpamaan itulah bagi kita ketika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Kita patut berbangga ketika Allah mentakdirkan kita menjadi umat Nabi Muhammad. Kita diberikan predikat umat terbaik karena disandarkan kepada Nabi yang terbaik, dan termulia dari sekian nabi-nabi terdahulu.
Kita seharusnya tidak merasakan kesulitan untuk mendapatkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan akhirat, sebab kita akan mudah mendapatkannya jika kita menyandarkan diri kita kepada Nabi Muhammad dengan selalu membaca shalawat kepadanya.
Dikisahkan bahwa bumi merasakan kemuliaan karena dia ditempati oleh sebaik-baik makhluk Allah, sehingga langit merasa iri dan memohon kepada Allah agar langit dimuliakan dengan kehadiran Nabi Muhammad hingga terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj.
Kisah itu dicatat oleh Syekh Utsman bin Hasan al-Khoubawi dalam Durratun Nasihin. Bumi berkata: “Aku lebih mulia darimu, aku mempunyai Ka’bah yang dikelilingi oleh hamba-hamba Allah untuk beribadah”. Langit menjawab “Aku lebih mulia, aku juga punya Baitul Ma’mur yang dikelilingi oleh para malaikat, aku juga lebih mulia karena aku mempunyai surga tempat arwah para nabi dan rasul bersemayam.”
Mendengar itu bumi langsung berkata: “Aku lebih mulia, sebab aku ditempati oleh makhluk Allah yang paling mulia, Nabi dan Rasul Allah yang paling mulia, dan makhluk yang paling dicintai oleh Allah”. Mendengar hal itu langit merasa kalah dan memohon agar dia turut dimuliakan dengan kedatangan Nabi Muhammad.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Kemuliaan sebab menyandarkan diri kepada Nabi Muhammad tidak saja diterima oleh umatnya yang Muslim, namun diterima juga oleh musuhnya sekalipun. Seperti riwayat Urwah dalam Sahih Bukhari tentang dispensasi siksaan kepada Abu Lahab di setiap hari Senin sebab bahagia menyambut kelahiran Nabi Muhammad.
Disebutkan dalam hadits:
قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
Artinya: "Urwah bin Zubair mengatakan Tsuwaibah adalah budak wanita Abu Lahab yang dimerdekakan dengan syarat menyusui Nabi Muhammad, ketika Abu Lahab meninggal dunia, sebagian keluarganya bermimpi didatanginya dengan kondisi yang sangat buruk, dia bertanya kepada Abu Lahab, apa yang kamu temui?, Abu Lahab menjawab aku tidak menemui apapun kecuali aku diberi minum dengan ini (rongga dibawah ibu jari) sebab aku memerdekakan Tsuwaibah." (HR. Bukhari. No. 5101).
Kisah ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua untuk sadar diri, agar kita semua selalu menyandarkan diri kepada Nabi Muhammad dengan terus membaca shalawat kepadanya agar kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah dan syafa’at Nabi Muhammad kelak di hari Kiamat.
Orang yang tercela dan namanya diabadikan di dalam Al-Qur’an dan divonis neraka selama-lamanya saja bisa mendapatkan dispensasi siksaan oleh Allah karena dia bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad, bagaimana kita yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad? Tentunya rahmat dan belas kasih itu semakin tebuka luas, hanya saja kita kurang menyadari hal itu.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Semoga kita bisa menjadi umat Nabi Muhammad yang selalu menyandarkan diri kepadanya dengan meneladani akhlaknya, dan selalu membacakan shalawat kepadanya, dan menjadikan shalawat sebagai dzikir dan media kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kepada Rasulullah, agar kita turut mendapatkan kemuliaan di sisi Allah sebab kemuliaan Nabi Muhammad. Aamiin Aamiin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ﷲ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
واعلموا أِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَهُمْ يَعْدِلُوْنَ, أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيْ, وَعَنْ السِّتَّةِ الْمُتَّمِّمِيْنَ لِعَشْرَةِ الكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنْ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Editor: Muhammad Faizin
