Khutbah Jumat: 2 Elemen Utama Iman yang Penting Diamalkan

Khutbah Jumat: 2 Elemen Utama Iman yang Penting Diamalkan

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ۝٢٠٠

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Mengawali khuutbah ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selain takwa, iman juga harus kita perkuat karena iman yang kita banggakan bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi sikap hidup yang tercermin dalam setiap keadaan. 

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya' Ulumuddin menegaskan:

فَإِنَّ الْإِيمَانَ نِصْفَانِ نِصْفٌ صَبْرٌ وَنِصْفٌ شُكْرٌ كَمَا وَرَدَتْ بِهِ الْآثَارُ وَشَهِدَتْ لَهُ الْأَخْبَارُ

Dari maqalah ini kita memahami bahwa iman itu terdiri dari dua elemen atau bagian. Setengah dari iman adalah sabar dan setengahnya adalah syukur. Artinya, seluruh perjalanan hidup kita tidak akan lepas dari dua hal yakni ketika diberi nikmat kita harus bersyukur, dan ketika diuji kita harus bersabar. Di sinilah kualitas iman kita sesungguhnya terlihat.

Hadirin yang dimuliakan Allah, 

Kehidupan ini hanyalah pergiliran antara kelapangan dan kesempitan. Kadangkala kita bertemu dengan kesulitan namun yakinlah kemudahan akan menghampiri kita. Allah berfirman:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ۝٦

Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah Ayat 5-6)

Ada saatnya kita berada di puncak kebahagiaan, dan ada waktunya kita berada dalam ujian dan kesulitan. Jika dalam kelapangan kita mampu bersyukur dan dalam kesempitan kita tetap bersabar, maka sesungguhnya kita sedang menjaga keutuhan iman kita. 

Sabar akan meneguhkan hati agar tidak goyah dan syukur menjaga jiwa agar tidak lalai. Maka beruntunglah kita yang mampu memadukan keduanya, karena di situlah jalan menuju ridha Allah dan harapan akan surga-Nya terbuka lebar.

Imam Al-Ghazali memandang bahwa siapa pun yang mampu menjaga dua sikap ini sesungguhnya telah menjaga keutuhan imannya. Sabar menjadikan kita tidak mudah runtuh oleh ujian, sementara syukur menjaga diri kita tidak lalai saat dilimpahi kenikmatan. Dengan demikian, hidup kita akan selalu berada dalam kebaikan dengan jiwa bersyukur dalam nikmat dan sabar dalam ujian. 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ada sebuah kisah yang mewakili rasa syukur dan sabar dari pasangan suami istri yang termaktub dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib atau Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin al-Razi. Diceritakan pada zaman dahulu ada sepasang suami-istri yang suaminya berwajah sangat jelek, sementara istrinya sangat cantik. 

Suatu malam menjelang tidur, sang suami berkata, “Sepertinya kita ini calon penghuni surga.” Sang istri keheranan dan bertanya bagaimana mungkin hal itu terjadi. Sang suami menjelaskan bahwa dirinya yang berwajah buruk bisa mendapatkan istri secantik itu adalah nikmat besar dari Allah sehingga ia bersyukur. 

Sebaliknya, istrinya yang cantik mendapatkan suami sejelek dirinya tentu merupakan ujian, dan atas ujian itu sang istri bersabar. Bukankah Allah telah menjanjikan surga bagi orang-orang yang bersyukur dan bersabar?

Kisah ini sederhana namun memiliki hikmah yang mendalam. Dalam satu rumah tangga saja, sabar dan syukur bisa berjalan beriringan. Satu pihak merasakan nikmat lalu bersyukur, sementara pihak lain merasakan ujian lalu bersabar. Namun keduanya sama-sama berada di jalan keselamatan. 

Di situlah letak keindahan ajaran Islam sebagaimana dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali sebagai iman bukan hanya pengakuan teoretis, melainkan sikap hidup yang terus hadir dalam setiap keadaan.

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tekanan, kompetisi, dan perubahan cepat saat ini, prinsip syukur dan sabar semakin relevan. Banyak dari kita yang lupa bersyukur ketika sukses dan mudah kehilangan kesabaran ketika gagal. Akibatnya, hati kita menjadi gelisah dan hidup terasa sempit. Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ 

Artinya: "Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang muk’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya." (HR Muslim)

Saat kita menyadari bahwa hidup hanyalah pergiliran antara nikmat dan ujian, maka kita akan lebih tenang menjalani takdir. Saat berhasil kita merunduk dalam syukur, dan saat terjatuh kita bangkit dengan sabar. Selama dua sikap ini terpelihara, insya Allah iman akan tetap kokoh.

Dengan demikian, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Sabar dan syukur bukan dua sikap yang berdiri sendiri, melainkan dua sisi dari satu kesatuan bernama iman. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali, selama seorang hamba mampu bersyukur atas nikmat dan bersabar atas ujian, ia sedang menapaki jalan menuju ridha Allah dan harapan surga-Nya. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.

اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

H Muhammad Faizin (Sekretaris MUI Provinsi Lampung)


Editor: Muhammad Faizin
logo