Khutbah Jumat: Tetaplah Membumi, Jadilah Manusia Sejati nan Rendah Hati

Khutbah Jumat: Tetaplah Membumi, Jadilah Manusia Sejati nan Rendah Hati

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَعْطَى الحِكْمَةَ مَنْ شَاءَ مِنْ العِبَادِ, فَأُرْشِدُوْا بِمَا فَاهُوْا بِهِ مِنْهَا اِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ, وَسَارَ بِحِكْمَتِهِمْ الرُّكْبَانُ فِيْ كُلِّ نَادٍ مِنْ جَمِيْعِ البِلَادِ, أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا عَلَّمَ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا مَثِيْلَ لَهُ, الَّذِي قَوَى بِدَلَائِلِ دِيْنِهِ أَرْكَانُ الشَّرِيعَةِ وَصَحَّحَ بِأَحْكَامِهِ فُرُوْعُ الْمِلَّةِ الْحَنِيِفِيَّةِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنِ, سَيِّدُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ, الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ, . اَللَّهُمَّ صَل ِّوَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ الْمُذْنِبَةِ بِتَقْوَى اللهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah

Sudah menjadi suatu kewajiban bagi khatib untuk mengingatkan kepada para jamaah, khususnya diri khatib sendiri yang penuh dosa ini, untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Termasuk salah satu implementasi taqwallah adalah selalu bersikap rendah diri sebagai seorang manusia yang diciptakan dari sari pati bumi, yang juga kelak akan kembali ditanam di bumi, serta tidak menyombongkan diri, agar tetap selalu membumi sebagai hamba sejati yang rendah hati.

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah

Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari mengatakan dalam hikamnya nomor 11 sebagai berikut:

اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ 

Artinya: "Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya."

Hikmah ini sangat berarti bagi kita semua di era serba terbuka ini. Era di mana keseharian seseorang sudah menjadi konsumsi publik dan tidak lagi menjadi sebuah privasi. Era di mana setiap orang bisa menunjukkan eksistensinya di sosial medianya masing-masing. Era di mana semua orang merasa menjadi perhatian publik, hingga semua orang harus mengetahui apa yang dia lakukan dan di mana dia berada.

Orang berlomba mencari popularitas, sebab di era kini, popularitas seseorang bisa mendatangkan keuntungan dan jabatan. Banyak dari mereka yang tergila-gila akan popularitas, sedangkan mereka tidak sadar bahwa popularitas akan menghancurkan dirinya, jika dia tidak membersamainya dengan sikap rendah hati.

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah

Ibnu Atha’illah mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati dengan tidak mengejar popularitas sebagai tujuan hidup, mengubur diri dalam kerendahan hati sebagaimana seharusnya sikap seorang manusia yang tercipta dari tanah yang kelak kembali ke dalam tanah.

Tidak disadari bahwa popularitas cenderung menjadikan seseorang semakin sombong dan membanggakan diri. Merasa strata sosialnya naik level sehingga dia enggan untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.

Popularitas terkadang juga memalingkan seseorang dari keikhlasan. Iia akan melakukan segala cara agar mempertahankan popularitasnya seakan dia menjadi budak dari popularitas itu sendiri. Dia seakan sakau untuk selalu mendapatkan pujian dan perhatian dari orang lain.

Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa popularitas bukanlah tujuan dari hidup di dunia. Jika saja Allah menghendaki seorang hamba mendapatkan popularitas atas keimuannya, ibadahnya, atau tindakan positifnya, hal yang seharusnya dia lakukan adalah selalu bersikap rendah diri dan membumi, agar popularitas itu tidak menjadi bumerang yang membunuhnya di kemudian hari.

Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1047 berikut:

وَإِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّ ‌التَّمَادُحَ فِيهِ الذَّبْحُ

Artinya: "Berhati-hatilah kalian untuk saling memuji, sebab hal itu akan membunuhmu."

Syekh Muhammad Amin al-Harari menjelaskan maksud dari hadits itu, bahwa pujian masyarakat kepada seseorang membuatnya akan merasa ujub atau berbagga diri dan sombong, dan sifat ujub adalah salah satu penghancur religiusitas seseorang karena sifat ujub termasuk dosa besar.

Allah juga sudah mengingatkan agar seseorang tidak menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 195 berikut:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

Artinya: "Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah

Kita sebagai manusia seharusnya sadar diri akan bahan dasar kita diciptakan, dan peristirahatan terakhir kita ketika sudah tidak bernyawa. Kita seharusnya selalu membumi untuk bersikap rendah hati agar kita bisa merasakan nikmatnya keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Kita diberi anugrah ilmu, harta, dan ibadah tidak seharusnya dijadikan sebagai media untuk mendapatkan popularitas di mata masyarakat, terlebih jika hal-hal tersebut kita gunakan sebagai media kita untuk menyombongkan diri di hadapan masyarakat. Kita tidak akan memanen manfaat dari hal-hal itu di akhirat dengan bentuk keridhaan Allah, jika kita tanamkan di tempat yang salah.

Tujuan hidup kita di dunia hanyalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dari-Nya, untuk-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ilmu, harta, ibadah, dan tindakan positif serta amal sosial yang kita lakukan seharusnya kita niatkan hanya karena Allah semata, bukan karena untuk mencari popularitas di mata manusia.

Jia tujuan kita hanya popularitas, niscaya hanya itu yang akan kita dapatkan. Perhatian dan pujian semu dari manusia yang justru berpotensi akan menjerumuskan kita dalam kehancuran. Jika tujuan kita hanya Allah, bagaimanapun eksistensi kita, entah tenggelam dalam keasingan, atau terpampang dalam kepopuleran, kita tetap populer di sisi Allah SWT.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan hidayah kepada kita semua untuk senantiasa menjadi hambanya yang sejati nan rendah diri. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ 

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ﷲ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

واعلموا أِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَهُمْ يَعْدِلُوْنَ, أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيْ, وَعَنْ السِّتَّةِ الْمُتَّمِّمِيْنَ لِعَشْرَةِ الكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنْ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنِ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Editor: Muhammad Faizin
logo