Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu cara memahami takwa adalah dengan melihat bagaimana kita menggunakan nikmat jasad yang Allah berikan. Sebab seluruh anggota tubuh yang kita miliki bukan sekadar perangkat untuk menjalani kehidupan dunia, tetapi juga amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Secara sederhana, kehidupan beragama berkaitan dengan dua hal yakni melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Keduanya menggunakan sarana yang sama, yaitu tubuh kita. Allah memberikan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lisan untuk berbicara, tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, serta anggota tubuh lainnya yang menopang kehidupan kita.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Firman Allah ini mengingatkan bahwa seluruh kehidupan kita seharusnya diarahkan kepada pengabdian kepadaNya. Karena itu, nikmat jasad ini idealnya membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala,
Dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali memberikan perhatian terhadap beberapa anggota tubuh yang perlu dijaga yakni mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, tangan, dan kaki. Anggota-anggota tubuh ini memiliki fungsi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada saat yang sama, melalui anggota itulah kita dapat terjerumus ke dalam berbagai bentuk kemaksiatan.
Pertama, mata. Dengan mata kita bisa melakukan hal-hal positif seperti membaca Al-Qur'an, melihat hal-hal baik, bekerja, belajar, dan menyaksikan kebesaran ciptaan Allah. Namun mata juga mudah menjadi pintu masuk syahwat. Di zaman sekarang, godaan itu bahkan berada di dalam genggaman melalui telepon seluler dan media sosial.
Mata juga sering digunakan untuk memperhatikan kekurangan orang lain. Ketika kita senang mencari aib, kemudian kita merasa lebih baik karena tidak melakukan kesalahan yang sama. Di situlah kesombongan dapat tumbuh.
Kedua, telinga. Telinga adalah jalan masuk ilmu. Dengannya kita mendengarkan Al-Qur'an, hadis, nasihat ulama, dan berbagai pengetahuan yang memberikan manfaat. Namun telinga juga dapat menjadi sarana menerima ghibah dan pembicaraan buruk.
Maka memilih apa yang kita dengarkan merupakan bagian dari menjaga diri. Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membuat kita semakin sadar akan kedudukannya sebagai hamba Allah dan tidak berlebihan dalam menggantungkan kebahagiaan kepada dunia.
Ketiga, lisan. Lisan merupakan anggota tubuh yang sangat menentukan keselamatan kita. Dengan lisan kita membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, mengajarkan ilmu, dan menyampaikan kebaikan. Tetapi dengan lisan pula kita dapat berdusta, memfitnah, menggunjing, mencela, bersumpah palsu, atau menyakiti hati orang lain.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, perut. Menjaga perut bukan hanya persoalan banyak atau sedikit makan. Yang lebih mendasar adalah memperhatikan apa yang masuk ke dalamnya dan bagaimana sesuatu itu diperoleh. Halal bukan sekadar nama makanan, tetapi juga berkaitan dengan sumber penghasilannya. Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar tidak menjadi baik hanya karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Kelima, kemaluan. Islam tidak mengingkari kebutuhan biologis manusia. Yang diberikan agama adalah aturan agar kebutuhan tersebut ditempatkan pada jalan yang halal dan bermartabat. Di sinilah kita diuji dalam mengendalikan hawa nafsu. Keimanan tidak berarti kita kehilangan keinginan, melainkan mampu mengarahkan keinginan sesuai dengan ketentuan Allah.
Keenam, tangan. Tangan dapat menjadi sarana bekerja, bersedekah, membantu orang lain dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pada zaman sekarang, tangan juga memiliki bentuk baru dalam melakukan kebaikan maupun keburukan. Jari-jari yang mengetik di layar dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, tetapi juga dapat membuka aib, menyebarkan fitnah, dan menyakiti orang lain.
Karena itu, menjaga tangan pada masa sekarang juga berarti menjaga apa yang kita tulis, unggah, bagikan, dan komentari.
Ketujuh, kaki. Kaki membawa kita menuju tempat yang dipilihnya. Kaki dapat membawa kita ke masjid, majelis ilmu, rumah orang tua, tempat bekerja, atau tempat kita membantu sesama. Kaki juga bisa membawa kita menuju kemaksiatan.
Karena itu, perjalanan hidup sebenarnya dapat dibaca dari arah langkah kita yakni ke mana tubuh ini semakin sering dibawa?
Hadirin rahimakumullah,
Allah mengingatkan bahwa anggota tubuh kita ini kelak akan menjadi saksi. Allah berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Yasin: 65)
Semoga Allah menjadikan anggota tubuh kita sebagai sarana ketaatan dan kelak menjadi saksi atas amal-amal baik yang kita kerjakan.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu."
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin
