Gereja Ismail dan Masjid Ishak, Simbol Harmoni Kristen-Islam di Alor NTT

Gereja Ismail dan Masjid Ishak, Simbol Harmoni Kristen-Islam di Alor NTT

Hubungan harmonis antara dua umat beragama yakni Muslim dan Kristen terjalin erat di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Hal itu tergambar dari adanya Gereja Ismail dan Masjid Ishak yang berdiri berdekatan di Kampung Ilawe Kecamatan Kabola.

Tulisan hasil penelitian berjudul Gereja Islamil-Masjid Ishak, Simol Moderasi Beragama dalam Relasi Kristen-Islam di Kabupaten Alor oleh Sabara dari Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan masyarakat yang mendiami Kabupaten Alor adalah masyarakat multikultur. Mereka terbentuk melalui sejarah panjang perjumpaan antar-berbagai kelompok etnis yang datang dan bermukim di Alor. 

"Multikulturalisme Alor menjadi basis sosial dalam membangun keterbukaan dalam interaksi dengan kelompok masyarakat yang berbeda. Sejarah panjang dalam perjumpaan dan interaksi menghadirkan berbagai mekanisme kultural dalam menyatukan keragaman tersebut ke dalam kesadaran kolektif tara miti tomi nuku. Keterbukaan inilah yang melandasi sikap moderasi dalam interaksi antarkelompok, termasuk antaragama,” tulis Sabara dalam tulisannya yang telah dimuat di Jurnal Mimikri: Vol. 9, No. 2 November 2023.

Dalam artikel tersebut, Sabara juga menjelaskan bahwa secara umum, dalam kultur masyarakat Alor, Islam identik dengan pantai sedangkan Kristen diidentikkan dengan gunung. Ketika orang Alor Kristen menyebut saudara mereka yang Muslim dengan sebutan 'keluarga dari pantai', sebaliknya, orang Alor Muslim ketika menyebut saudara mereka yang beragama Kristen dengan sebutan 'keluarga dari gunung'. Mengutip Nasir dan Saleh (2021), menurut Sabara, harmoni Kristen dan Islam di Kabupaten Alor digambarkan sebagai harmoni antara 'gunung' dan 'pantai' dalam istilah lokal di Alor biasa disebut watang-woto. Penamaan ini diambil karena penduduk Muslim dominan bermukim di pesisir, sebaliknya pemeluk Kristen bermukim di daerah pegunungan.

Disebutkan, diksi 'gunung' dan 'pantai' menjadi kata ganti untuk menyebut Kristen dan Islam. Dengan menggunakan diksi tersebut, keeratan relasi dalam ikatan kekerabatan tampak nyata di antara dua umat beragama tersebut. Penggunaan diksi 'gunung' dan 'pantai' menunjukkan sebuah model moderasi beragama yang diwujudkan dalam pilihan diksi yang meretas sekat teologis antara Kristen dan Islam. 

Ismail-Ishak

"Diksi lain yang juga biasa digunakan untuk menunjukkan harmoni dalam relasi Islam-Kristen adalah diksi 'Ismail-Ishak'. Diksi 'Ismail' merujuk pada saudara Muslim dan diksi 'Ishak' merujuk pada saudara Kristen. Diksi 'Ismail-Ishak' secara jelas merujuk pada persaudaraan dua anak Ibrahim/Abraham, sosok Nabi agung yang mempersatukan kedua agama tersebut," tulis Sabara. 

Keluarga Kristen biasa menyebut saudara Muslim mereka dengan sebutan 'keluarga Ismail'. Sementara keluarga Muslim biasa menyebut saudara Kristen mereka dengan sapaan 'keluarga Ishak'. Simbol 'Ismail-Ishak' ini diabadikan menjadi nama ruang pertemuan di Kantor Bupati Alor dengan nama Aula Ismail Ishak. Secara simbolik penggunaan diksi 'Ismail' dan 'Ishak' menunjukkan moderasi teologis dengan mengambil titik temu historis dan teologis yang menegaskan persaudaraan kedua umat beragama tersebut.

Menurut penelitian Sabara, nama 'Ismail-Ishak' inilah yang juga dikenang dalam persaudaraan Muslim-Kristen di Kampung Ilawe Kecamatan Kabola. Gereja yang dibangun atas inisiasi warga Muslim untuk membantu saudara Kristen mereka diberi nama oleh Imam Masjid setempat dengan nama Gereja Ismail. Selanjutnya, masjid yang kemudian didirikan tak jauh dari gereja tersebut disebut juga dengan nama Masjid Ishak. 

Sejarah
Menurut penelitian Sabara, sejarah berdirinya Gereja Ismail dan Masjid Ishak menggambarkan harmoni relasi dari penganut Islam dan Kristen telah hadir sejak lama. Berdirinya kedua rumah ibadat tersebut bermula ketika penyebaran Islam di wilayah Alila Timur pada 1930-an oleh pendakwah dari Syarikat Islam. Sebagian besar penduduk Alila Timur saat itu menerima Islam, penduduk yang sebelumnya tinggal di pegunungan kemudian turun membuka permukiman di pesisir. Beberapa keluarga tetap memeluk kepercayaan lokal mereka hingga datangnya misionaris di awal 1940-an. 

Berdasarkan dokumen yang didapatkan Sabara dalam penelitiannya, dari Majelis Gereja Ismail, sebanyak 8 kepala keluarga atau sekitar 20 orang kemudian dibaptis menjadi Kristen dan memilih tetap tinggal di gunung. "Menjelang akhir 1940-an, oleh saudara Muslim mereka yang tinggal di pesisir, mereka diajak turun untuk tinggal bersama di wilayah pesisir (Kampung Ilawe). Masyarakat Muslim setempat kemudian berinisiatif untuk membangunkan mereka sebuah gereja," demikian Sabara. 

Selanjutnya, ketika gereja selesai dibangun pada 25 Mei 1949, gereja tersebut diresmikan oleh Dahlan Lobang (Imam Masjid Darul Falah Ilawe). Secara simbolis, Dahlan Lobang meresmikan gereja tersebut dengan membuka pintu gereja dan berujar, "Saya beri nama gereja ini dengan nama Gereja Ismail." Penamaan Ismail diambil dari nama adik sang imam, yaitu Ismail Lobang, yang banyak membantu pembangunan gereja tersebut. Sejak itulah, secara resmi, gereja tersebut diberi nama Gereja Jemaat Ismail. 

Persaudaraan Adik dan Kakak
Sabara juga menemukan, bahwa hubungan baik antarumat Islam dan Kristen tak lepas dari rasa persaudaraan sebagaimana persaudaraan antara kakak dan adik. Dalam wawancara Sabara dengan Yohanes Mali, penatua di Gereja Ismail, hubungan persaudaraan dalam ikatan kakak-adik (kakang-aring) merupakan hubungan yang ideal membangun harmoni antarumat.

Hubungan tersebut dilandasi rasa tanggung jawab dari kakak dan penghormatan dari adik. Itu sebabnya umat Muslim di Ilawe meski mayoritas berkewajiban melindungi dan menjaga saudara mereka yang memilih jalan iman Kristen. 

Peneliti mengungkapkan, berdasarkan wawancara dengan Burhanuddin Laan, mantan Kepala Desa Alila Timur dalam wawancara 10 Oktober 2022, Gereja Ismail dibangun atas dasar kepedulian orang-orang Islam di Kampung Ilawe melihat saudara Kristen mereka yang belum memiliki tempat untuk beribadat.

Ikatan persaudaraan yang memantik kepedulian masyarakat Muslim setempat untuk menginisiasi pembangunan gereja tersebut, meski berbeda agama namun mereka tetap bersaudara. Oleh karena, inisiatif pembangunan gereja berasal dari umat Islam yang juga secara penuh terlibat dalam proses pembangunan. Maka umat Kristen setempat pun memberikan kehormatan meresmikan gereja tersebut kepada Imam Dahlan Lobang, sekaligus memberi nama pada gereja tersebut. Nama Gereja Ismail kemudian diterima secara mufakat baik oleh umat Kristen maupun Islam.

Penamaan Ismail dimaksudkan juga sebagai penanda jejak persaudaraan dan kebersamaan antara umat islam dan Kristen dalam pembangunan gereja tersebut. 

"Pernah ada usulan dari Sinode GMIT untuk mengganti nama gereja, namun ditolak oleh jemaat setempat," tulis Sabara.

Pada sekitar dekade 1950-an, populasi umat Islam semakin berkembang. Masjid yang ada tidak lagi cukup menampung umat Islam. Masyarakat setempat lalu berinisiatif untuk membangun sebuah masjid baru. Lokasi pembangunan masjid tidak jauh dari Gereja Ismail. Pembangunannya juga melibatkan masyarakat Kristen yang menjadi jemaat Gereja Ismail.

Masjid yang kemudian diberi nama Masjid Nurul Ikhlas tersebut, kemudian lebih dikenal sebagai 'Masjid Ishak'. Penamaan Masjid Ishak dikarenakan keterlibatan penuh masyarakat Kristen yang membantu pembangunan, serta sebagai simbol persaudaraan antara umat Islam dan Kristen yang ada di kampung tersebut. Berdirinya Masjid Ishak merupakan perwujudan persaudaraan yang terbangun dari dua komunitas agama tersebut. 

Gereja Ismail dan Masjid Ishak pun dikenal sebagai salah satu ikon kerukunan umat beragama di Alor. Gereja Ismail dan Masjid Ishak adalah simbol historis dan kultur yang monumental dari moderasi beragama umat Islam dan Kristen di Alor, khususnya Kampung Ilawe. Kedua rumah ibadat tersebut menunjukkan relasi toleransi yang tak sekadar ko-eksistensi pasif, namun saling pro-eksistensi. Perbedaan keyakinan disikapi secara moderat dengan merawat dan saling mendukung. Praktik Moderasi Beragama dalam interaksi antara kedua penganut agama tersebut terus berlanjut, tak berhenti sekadar dengan berdirinya Gereja Ismail dan Masjid Ishak. Setiap perhelatan keagamaan, kedua komunitas agama saling mendukung dan meramaikan, baik ketika Hari Natal maupun Idul Fitri.

Kendi Setiawan


Editor: Kendi Setiawan
logo