Ia pernah memikat dengan puisi saat dicetak dalam buku berjudul Tiga Menguak Takdir (1950). Kehadiran bareng Chairil Anwar dan Rivai Apin tak memastikan ia bersumpah menulis puisi sampai mati. Di situ, ia tampil romantis. Pada situasi berbeda, para pembaca sastra di Indonesia justru menghormati Asrul Sani (10 Juni 1926-11 Januari 2004) sebagai pencerita ulung. Ia memang sedikit memberi cerita pendek tapi berumur panjang. Di khazanah cerita pendek Indonesia, ia mendapatkan tempat terhormat dalam menguak selera estetika berlatar masa 1950-an.
Kini, kita memperingati seratus tahun Asrul Sani melalui cerita. Ia seperti “pensiun dini” saat mendapat perhatian besar berkaitan suguhan cerita dalam arus revolusi. Konon, orang-orang mengakui Idrus sebagai “jagoan”. Kita sepakat tapi pembaca tak boleh mengabaikan kesaktian Asrul Sani.
Dulu, HB Jassin (1951) memberi pujian: “Asrul Sani memperlihatkan gaja bertjerita jang ringan mengedjek, berbumbu humor, tidak menusuk, lebih banjak dibalut kasihan dan sajang pada ketidakmampuan diri sendiri, kekerdilan orang lain, dan disingkapkannja disana-sini sifat manusia jang sebenarnja, sifat pura-pura, sifat bohong, menutup-nutupi maksud sebenarnja dengan sembojan dan perkataan jang using, jang demikian kehilangan isi jang sebenarnja.”
Pada saat menulis kalimat panjang itu HB Jassin biasa membikin para pengarang gemetaran. Ia telanjur dianggap kritikus sastra meski condong membuat apresiasi ringan atau tanggapan tak tebal. Terbukti bila HB Jassin mengesahkan Asrul Sani sebagai pencerita mumpuni, tak melulu Idrus.
Nasib kadang tak menguntungkan. HB Jassin berusaha menonjolkan Asrul Sani sebagai pencerita tapi arus prosa Indonesia sulit selalu mengingat dan membicarakan Asrul Sani. MS Hutagalung (1967) sempat prihatin: “Dalam sedjarah kesusastraan Indonesia, Asrul Sani hampir tak dikenal sebagai pengarang tjerita pendek.” Kalimat dibuat setelah ia melacak dan melakukan dokumentasi cerpen-cerpen gubahan Asrul Sani di pelbagai majalah, termasuk cerita pendek bergerak menjadi skenario film. MS Hutagalung pun mengakui kebiasaan Asrul Sani mengadakan ejekan-ejekan dalam cerita pendek.
Ia malah berani membuat konklusi: “Hampir semua tjerita pendek Asrul Sani adalah edjekan-edjekan kepada orang-orang jang penuh lagak.” Keampuhan itu jarang terus mendapat pembahasan berbarengan kemunculan pengarang-pengarang suguhkan cerita-cerita memikat pada 1950-an dan 1960-an. Kita dalam mengenang seabad Asrul Sani bermufakat pendapat MS Hutagalung: “Keberhasilan tjerpen Asrul Sani terutama dalam gaja jang halus, jakni menjindir dengan simbolik.”
Cerita pendek berjudul Bola Lampu membawa kita ke masa Indonesia belum terlalu terang oleh lampu-lampu di pelbagai kota. Pada deru revolusi, lampu belum sanggup sering menerangi Indonesia. Lampu tetap kalah dari matahari. Di Indonesia, lampu berlakon malam senantiasa menentukan nasib orang-orang memuja terang dan menolak gelap.
Asrul Sani menaruh tokoh membuat pembaca terkesima dan gampang mengejek. Tokoh itu sungguh-sungguh mementingkan lampu: “Waktu itu, kalau saja melihat lampu terang, terus timbul rasa sentimental, saju-saju sedikit, agak-agak rindu dendam dalam hati saja. Kepada orang saja tanjakan, kalau-kalau mereka ada mempunjai lampu jang terang di rumah. Kalau djawabannja ‘ada’, saja terus iri hati.” Pengalaman dan pengakuan diwujudkan setelah ia berkenalan dengan perempuan. Sang pujaan tinggal di rumah memiliki lampu terang.
Pembaca mulai diberi kelakar tentang lampu dan perempuan: “Sesudah itu saja datang sekali seminggu ke sana, kemudian dua kali seminggu. Gadis itu makin lama makin tjantik kelihatannja, makin aksi, makin ‘panas’. Saja makin kerap datang, sampai tiap malam. Setiap datang saja membawa buku untuk dibatja – sampai sekarang belum djuga tamat-tamatnja. Akhirnja, saja rasa bahwa saja datang ke rumah itu bukan hendak melihat lampu terang. Saja datang karena dia di situ.” Gadis itu pikat tapi si lelaki berlagak berfilsafat lampu. Ia kebablasan dalam mencipta ilusi sebagai pembaca buku. Asrul Sani memang mahir sebagai pengejek.
Kita menduga Asrul Sani sengaja ingin berhumor melalui cerita pendek. Dulu, para pembaca biasa tertawa saat membaca cerita-cerita gubahan Idrus, Asrul Sani, Iwan Simatupang, Misbach Yusa Biran, dan lain-lain. Masa pendek sebagai penulis cerita pendek membuktikan Asrul Sani memilih ejekan atau humor agar cerita-cerita itu sumber berfilsafat manusia di Indonesia. Ia mewariskan sedikit cerita pendek meski tawa kita belum rampung dalam mengenang manusia dan Indonesia masa 1950-an.
Pada saat tekun menjadi pengarang, Asrul Sani berada dalam gairah sejarah sedang dicipta di Indonesia. Ia mengerti dampak berita dan cerita menimbulkan perbedaan kadar kepastian sejarah sedang bergerak. Ia menggunakan cerita pendek untuk “merekam” kepentingan orang-orang dalam turut membentuk sejarah. Di cerpen berjudul Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat”, Asrul Sani menitipkan kesan dalam pembentukan sejarah. Tokoh berada di kota kecil setelah peristiwa bersejarah: 1945.
Kita membaca (lagi) berjarak puluhan tahun saat cerita pendek itu terbit: “Sejarah datang ke mari sekali dua hari dengan sebuah bus jang sudah tua dan jang mempunjai klakson jang bagus bunjinja.” Bus dimaksudkan pembawa beragam surat dan surat kabar. Bus datang, orang-orang lekas berkerumun. Sejarah datang sebagai bacaan mengandung berita dan cerita. Kita mengingat di pelbagai tempat usaha mengerti Indonesia dipengaruhi surat kabar dan surat. Di situ, ada permainan bahasa dan kebenaran. Asrul Sani tetap menumpahkan ejekan, diselingi ajakan agar para pembaca tertawa mengamati tingkah para tokoh. Konon, ia sedang menunjuk “aib” manusia Indonesia.
Pada 2026, kita membaca lagi cerita-cerita gubahan Asrul Sani bakal termenung dan terkekeh. Pembaca menginsafi Asrul Sani itu pencerita tangguh tanpa berniat menjadi pengarang besar di Indonesia melalui sajian seribu cerita. Kita memerlukan “kritikus sastra” baru dalam kepentingan menempatkan cerita-cerita itu bersaing dengan cerita-cerita mutakhir. Pada saat membaca cerita, kita agak dijebak Asrul Sani: terbiasa mengolah cerita berakhir menjadi skenario film. Ia sengaja menjadikan cerita itu hidup di “tontonan”.
Asrul Sani menggubah cerita, merangkap menjadi pengulas sastra. Ia mengerti situasi kesusastraan di Indonesia berisi bisikan dan ledakan. Pada 1953, Asrul Sani mengungkapkan: “Menulis tentang kesusastraan ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan, dan kemanisan jang telah dialami, pengalaman jang telah djadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata jang membentuk kalimat dan kalimat jang mendjadikan karangan.” Dulu, ia masih betah dalam sastra dengan beragam polemik. Pada masa surut dalam sastra, ia bergerak dan moncer dalam film. Kini, kita tetap mengenang Asrul Sani itu pencerita. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan
