Menertawakan Orang-orang Suci yang Diberkati Tuhan

Menertawakan Orang-orang Suci yang Diberkati Tuhan

Kita tak berada di Jakarta, tak ikut merasakan secara dekat makna kehadiran Paus Fransiskus. Di depan televisi, berita-berita itu cukup membuat kita mengetahui keramaian berpijak religius. Kita bukan penonton televisi tapi bisa memilih membaca koran (cetak).

Di harian Kompas, 3 September 2024, halaman depan memuat tulisan berukuran besar: “Selamat Datang Sri Paus.” Foto berukuran besar berlatar warna merah dan putih. Kunjungan ke Indonesia mendapat sambutan oleh koran-koran, tak cuma Kompas.

Pada hari berbeda, pembaca membuka halaman-halaman Kompas, 4 September 2024. Di situ, ada foto Paus Fransiskus melambaikan tangan. Duduk di mobil, wajah semringah menandakan kebahagiaan terbagikan bersama. Judul minta perhatian: “Teladan Kesederhanaan”. Hari demi hari, kita masih membaca koran-koran memberitakan acara-acara Paus Fransiskus selama di Indonesia.

Orang memiliki koleksi majalah dan koran lama tergoda untuk membuat perbandingan dengan kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia, 1989. Bapa Suci dari Vatikan itu mengadakan pertemuan dan percakapan bersama Soeharto. Dua tokoh besar itu mungkin bercakap sopan meski diselingi tawa. Mereka dalam pertemuan resmi seperti pertemuan Paus Fransiskus dan Joko Widodo.

Ingatan kita tak ingin sekadar berita atau kesaksian orang-orang Indonesia bertemu Paus Yohanes Paulus II. Ingatan ingin memberi tawa. Pada 1989, terbit buku berjudul Sri Paus Yohanes Paulus II susunan Wolfgang Broer. Pencantuman anak judul: “Anekdot-Anekdot Segar di Seputar (Aku Masih Harus Belajar Memausi)”.

Kita ingin menghormati tokoh dan sejenak tertawa. Kita berbeda agama tapi bisa belajar kesederhanaan dan laku manusiawi. Kutipan membuat kita geli dan iri: “Tidak enak tidurku semalam," keluh Sri Paus setelah melewatkan malam pertamanya di Vatikan. "Bukan karena perasaan saya tegang, bukan! Terlalu empuk tempat tidurnya." Pater Magee, sekretaris II Sri Paus, yang berasal dari Irlandia mengusahakan agar di bawah kasur diletakkan lembaran papan."‘Begitu lebih enak," kata Sri Paus keesokan harinya.

Sosok terpenting dan berpengaruh di dunia itu bermasalah dengan tidur. Raga tak ingin tidur di kasur (terlalu) empuk. Ia mungkin menghindari lelap agar “terjaga” memikirkan umat Katolik dan nasib dunia. Pengalaman itu luhur dan lugu. Kita sempat tertawa tapi lekas belajar tentang kasur dan tidur.

Masa lalu itu mengandung tawa dan kejutan. Kita masih mengingat situasi agama dan politik abad XX. Anekdot berkaitan pers dan politik. Pembaca boleh tertawa lama atau singkat: “Terpilihnya orang Polandia pertama sebagai paus dalam sejarah Gereja Katolik juga mendatangkan rezeki tambahan bagi para pemilik kios penjual koran di Warsawa dan di kota-kota lain di Polandia. Satu jam setelah terbit, semua koran habis terjual. ‘Termasuk koran Partai Komunis,’ kata seorang pemilik kios koran. "Padahal, biasanya beberapa tumpuk harus saya kembalikan ke kantor Partai Komunis. Bahkan, pemasukan tambahan untuk Partai Komunis pun rupanya dipikirkan oleh Sri Paus!" sindirnya. Kita tak menduga bahwa Puas memberi dampak (pendapatan) dalam penjualan koran diterbitkan Partai Komunis. Kebaikan itu mewujud dan menghibur.

Dulu, kita mengingat tata politik di dunia dipengaruhi oleh Rusia dan negara-negara di Eropa timur. Polandia turut memberi pengaruh dalam seruan politik dan filsafat merujuk gagasan-gagasan Karl Marx. Anekdot mengenai Paus Yohanes Paulus II, Polandia, dan Partai Komunis agak berkaitan dengan beragam anekdot bersumber Rusia. Kita mengingat buku kecil berjudul Mati Ketawa Cara Rusia (1986) dengan editor Z Dolgopolova. Buku itu tercatat laris dan menghasilkan untung besar untuk Grafiti Pers. Konon, laris itu dipicu peran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pemberi kata pengantar.  

Kita tertawa lagi. Kutipan terbaca berlatar sengketa ideologi dan persaingan negara-negara besar abad XX “Kennedy menghadap Tuhan dan memohon, ‘Tuhan berapa lama lagikah rakyatku berbahagia? 'Lima puluh tahun lagi,’ kata Tuhan. Kennedy menangis dan berlalu. De Gaulle menghadap Tuhan dan memohon: ‘Tuhan, berapa lama lagikah rakyatku berbahagia?’ ‘Seratus tahun lagi,’ jawab Tuhan. De Gaulle menangis dan berlalu. Kruschev menghadap Tuhan dan memohon, ‘Tuhan, berapa lama lagikah rakyatku berbahagia?’ Tuhan menangis dan berlalu.” Dulu, orang tertawa keras sambil menilai kemenangan atau kekalahan dua kubu besar: kapitalisme dan komunisme. Kita lega anekdot itu tak mencantumkan nama penguasa asal Indonesia.

Di anekdot bertokoh Paus Yohanes Paulus II, kita mengerti bahwa beragama perlu tertawa. Paus mengerti negara-negara komunis masih ada dan ingin meraih kemenangan. Paus justru berbagi “kebahagiaan” bersama mereka. Kita sedikit curiga jika Tuhan tetap mengasihi orang-orang berpaham komunis. Di Rusia, komunis itu kelaziman. Cerita menghasilkan tawa dengan mencantumkan Tuhan itu berlebihan tapi menggugah kesadaran iman dan ideologi. Kita sulit berimajinasi “Tuhan menangis dan berlalu” gara-gara enggan memberi jawaban kepada penguasa di Rusia.

Kita menanti Paus Fransiskus menghasilkan lelucon atau cerita lucu setelah meninggalkan Indonesia. Sekian bulan lalu, Paus Fransiskus bertemu dengan seratusan pelawak. Mereka dalam mufakat misi mengajak umat manusia tertawa, terhibur, dan beriman. Sekian hari di Indonesia, Paus Fransiskus mungkin sempat tertawa meski tak harus berbagi lelucon memasalahkan Tuhan dan nasib jutaan orang di Indonesia.

Hari-hari menanti cerita lucu dari Paus Fransiskus, kita mendingan membuka lagi buku berjudul Presiden Dur, Yang Gus Itu: Anehdot-Anehdot KH Abdurrahman Wahid (2000) dengan editor M Mas’ud Adnan. Kita merenung sambil mesem sedikit mengikuti cerita:

“Ini cerita Gus Dur tentang seorang kiai yang terkenal alim. Dia punya beberapa anak dan kiai pun mendidik mereka ilmu agama dengan tekun. Entah mengapa, suatu hari salah satu anaknya masuk Kristen. Tentu saja dia sangat kaget dan sedih. ‘Tuhan, apa dosa saya, bukankah saya telah mendidiknya dengan baik?’ Setiap malam, kiai mengadukan halnya kepada Tuhan. Akhirnya datang jawaban dari Tuhan, ‘Sudahlah jangan bersedih. Jangan terlalu dipikirkan karena kamu masih beruntung. Anak saya yang hanya satu-satunya saja juga masuk Kristen…”

Kita mungkin sempat tertawa tapi merenung lama tentang manusia, agama, dan Tuhan.

Kunjungan singkat Paus Fransiskus memberi pesan tentang dunia masih terus bergerak dengan kekuatan iman. Dunia memang sedang menanggung beragam petaka. Umat manusia terus ingin dunia damai, bahagia, dan indah. Segala sulit dan dilema masih mungkin dirampungkan melalui dialog. Umat manusia pun tak harus selalu murung dan marah. Tertawa itu perlu agar iman tak tegang dan kebersamaan dengan orang orang berbeda agama mencipta kegirangan diberkati Tuhan. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo