Tawaf Kekuasaan: Bagaimana Dunia Mengelilingi Makkah Tanpa Menyentuhnya

Tawaf Kekuasaan: Bagaimana Dunia Mengelilingi Makkah Tanpa Menyentuhnya

Tatkala fajar menyentuh lereng-lereng kering Hijaz dan bayang-bayang hitam Ka’bah memanjang dalam diam, dunia tak sepenuhnya mengerti bahwa dalam kota ini—yang tak memiliki sungai, tak bertembok, tak beristana—terdapat narasi yang jauh lebih dalam dari sekadar doa dan ibadah. Makkah bukan hanya ruang sakral yang dituju oleh jutaan peziarah, tapi juga titik temu paling intim antara spiritualitas dan kekuasaan. Di sanalah, di lembah sempit yang dikelilingi bukit tandus, sejarah globalisasi awal, kolonialisme, dan pertarungan wacana kekuasaan mengguratkan jejaknya dengan tinta tak kasat mata. Kadang berupa peluh para haji. Kadang berupa laporan konsul. Kadang berupa suara sunyi dalam manuskrip nan lusuh.

Sejarawan Francis E. Peters, dalam magnum opus-nya Mecca: A Literary History of the Muslim Holy Land (1994), menyingkapkan kota ini sebagai medan yang jauh lebih kompleks tinimbang sekadar lokasi ziarah. Ia menyisir jejak Makkah dari masa pra-Islam hingga akhir kekuasaan Sharif Husayn, menyulam sejarahnya dari rihlah para peziarah, catatan birokrat Turki Utsmani, observasi para orientalis, hingga arsip diplomasi kolonial. Apa yang ia lakukan bukan sekadar historiografi; ia menciptakan semacam kolase sastrawi dari serpihan waktu dan fragmen kuasa, yang menempatkan Makkah dalam peta dunia bukan hanya sebagai tempat suci, melainkan sebagai medan pertarungan epistemik.

Sebelum era modernitas yang mengemas segalanya dalam peta dan statistik, Makkah telah menjadi episentrum pergerakan manusia yang tidak terpetakan dengan mudah. Arus peziarah dari Gujarat, Afrika, Asia Tengah, hingga Nusantara bukan hanya membawa tasbih dan kain ihram, tetapi juga membawa logika perdagangan, jaringan keilmuan, bahkan aliran ideologi. Ziarah adalah wajah paling awal dari globalisasi—bukan dalam arti kapitalisme dan teknologi, tapi dalam bentuk keterhubungan emosional dan spiritual antarbangsa. Di bawah langit Makkah, umat dari berbagai warna kulit dan bahasa bersimpuh di titik yang sama, dan dalam persimpangan itulah dunia Muslim membentuk jaring-jaring sosial, politik, dan ekonomi.

Namun, seperti yang ditunjukkan Peters dengan kejernihan analitiknya, keterhubungan ini tidak selalu bebas dari kuasa. Ketika Turki Utsmani mengklaim diri sebagai penjaga dua kota suci (Khadim al-Haramayn), itu bukan sekadar retorika religius, tapi juga strategi untuk mempertahankan legitimasi imperium. Pembenahan administrasi haji, pembangunan jalur kereta api Hijaz, dan penempatan pasukan di sekitar kota bukan semata bentuk pengabdian, melainkan juga cara mengontrol arus manusia, memperkuat pengawasan, dan menegaskan otoritas. Modernitas tidak datang ke Makkah dalam bentuk revolusi, tapi dalam bentuk rel kereta dan kantor bea cukai.

Sementara itu, kolonialisme Eropa yang gagal menaklukkan kota ini secara militer, justru merayap masuk lewat metode yang lebih halus: pengamatan dan dokumentasi. Para konsul Belanda, Inggris, dan Prancis yang ditempatkan di Jeddah tidak hanya mengawasi lalu lintas haji, tetapi juga mencatat perubahan sosial, memantau tokoh agama, dan mengirimkan laporan yang akan membentuk dasar kebijakan Islam kolonial di wilayah jajahan mereka. Snouck Hurgronje adalah representasi paling jelas dari strategi ini. Ia menyamar, belajar, dan mencatat Makkah dari dalam—mengambil potret dengan lensa kolonial yang berbalut pengetahuan orientalis. Kamera menjadi instrumen penjajahan simbolik. Foto-foto tentang Ka’bah, Masjidil Haram, dan wajah-wajah jemaah bukan sekadar dokumentasi, tetapi bentuk reduksi spiritualitas menjadi objek visual yang bisa dikendalikan dan dikoleksi.

Dalam banyak hal, Makkah menjadi paradoks sejarah. Ia adalah kota yang tak boleh dimasuki oleh non-Muslim, namun sebagian besar pengetahuan awal kita tentangnya berasal dari mereka yang bukan Muslim. Ia adalah kota damai, namun dalam sejarahnya berkali-kali menjadi arena konflik antardinasti, antara Wahhabi dan Turki Utsmani, antara Sharif dan Saud. Ia adalah kota Allah Swt., tapi juga kota birokrasi, ekonomi, dan kalkulasi geopolitik. Tersimpan dengung strategi kekuasaan di balik gemuruh doa.

Ketika Syarif Husayn memproklamasikan revolusi Arab dan melepaskan diri dari kekuasaan Turki Utsmani dengan bantuan Inggris, Makkah menjadi pusat panggung sejarah modern. Namun kemerdekaan yang ditawarkan Inggris ternyata penuh jebakan. Pada akhirnya, kota ini jatuh ke tangan dinasti Saud yang membawa Wahhabisme sebagai proyek purifikasi, tapi juga sebagai agenda kontrol yang lebih ketat terhadap narasi keagamaan. Sejarah Makkah dari titik ini bukan lagi semata sejarah ziarah, tetapi juga sejarah penyempitan makna: pluralitas sejarah kota mulai dikikis demi homogenitas ideologis.

Hari ini, meski kota itu lebih megah dari sebelumnya—dengan menara hotel menjulang, sistem pendingin udara menyusuri saf-saf masjid, dan pengamanan yang bersifat korporatis—ruang simboliknya justru semakin menyempit. Jejak sejarah yang dulu hidup dalam gang-gang kecil dan rumah tua, kini digantikan oleh pusat perbelanjaan. Modernisasi tidak selalu sinonim dengan pembebasan. Terkadang ia adalah bentuk anyar dari kolonisasi ruang suci.

Esai ini, seperti buku Peters, tidak mengajak kita untuk mengutuk atau mengagungkan Makkah. Ia mengajak kita untuk mendengarkan bisikan sunyi dalam sejarahnya: bisikan tentang bagaimana tempat suci bisa menjadi medan kuasa, bagaimana spiritualitas bisa berdampingan dengan strategi, dan bagaimana kota yang dituju karena iman bisa menjadi sasaran karena kekuasaan.

Mungkin, dalam setiap langkah tawaf yang berputar mengelilingi Ka’bah, kita tidak hanya sedang mengelilingi poros spiritualitas, tetapi juga mengelilingi sumbu sejarah manusia: yang selalu berada di antara penghambaan dan perebutan, antara ketundukan dan keinginan untuk menguasai. Bahkan di titik paling suci sekalipun, sejarah tak pernah benar-benar netral. Ia adalah narasi yang diperebutkan. Makkah adalah salah satu panggung terpentingnya.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
logo