Paus Fransiskus, di antara Beragam Bahasa dan Tilikan Kamus Kitab Suci

Paus Fransiskus, di antara Beragam Bahasa dan Tilikan Kamus Kitab Suci

Sekian abad silam, mesin cetak berada dalam arus misi dan zending di Indonesia. Mesin cetak menghasilkan beragam bacaan untuk kepentingan ibadah, pendidikan, sosial, dan kultural. Buku-buku dari masa lalu masih selamat saat kita ingin menengok literasi-keagamaan mengiringi gejolak modernitas di Indonesia. 

Ingatan atas buku-buku lawas untuk memberi sambutan atas kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia dengan beragam peristiwa: 3-6 September 2024. Liputan-liputan istimewa diadakan bertokoh utama Paus Fransiskus. Kedatangan bukan cuma untuk umat Katolik di Indonesia. Paus Fransiskus pun bertemu Presiden Joko Widodo dan tokoh beragam agama. Ibadah dan pertemuan diadakan dalam hitungan hari: singkat dan padat.

Orang-orang tak berada di Jakarta bisa mengikuti berita-berita melalui televisi atau mengikuti perkembangan peristiwa di media sosial. Jakarta menjadi pusat perhatian, terutama tempat-tempat sudah masuk jadwal kunjungan Paus Fransiskus. Kita tak ingin sekadar mengetahui berita, kita boleh memilih mengunjungi masa lalu. Peziarahan silam untuk mengenang bacaan, gairah bahasa-bahasa, dan perkembangan agama.

Duduk di hadapan buku-buku lama mengingatkan orang-orang Indonesia beriman dengan bacaan. Kita mulai menilik awal abad XX dengan buku berjudul Cariyos Satoes Sekawan (1914). Buku terbit dalam aksara Jawa dan berbahasa Jawa, memuat cerita-cerita disadur dari Alkitab. Agenda keaksaraan menjadikan orang-orang di Jawa mengerti agama dengan sokongan bacaan-bacaan. Dulu, Alkitab diusahakan terbaca oleh orang-orang di Nusantara. Penerjemahan ke beragam bahasa dengan aksara-aksara berbeda dikerjakan serius dan bertaruh konsekuensi.

Peran besar dimainkan oleh orang-orang memiliki penguasaan pelbagai bahasa. Mereka pun peka dengan tatanan hidup di Nusantara. Penghadiran kitab suci bagi bumiputra memerlukan jalinan kerja pelbagai pihak. Mesin cetak (percetakan) dan penerbitan turut menentukan arus keaksaraan dan dampak dampak modernitas. Di situ, ada perkara iman dan bacaan. Kerja besar pun diwujudkan dengan mengadakan bacaan bacaan bersumber kitab suci.

Pada 1912, terbit buku berjudul Tjerita Saratoes Ampat. Keterangan tambahan: “Dari Dalem Kitab Soetji.” Buku memuat gambar-gambar dalam warna hitam-putih. Buku itu mendahului edisi terbitan dalam aksara dan bahasa Jawa: Cariyos Satoes Sekawan. Pada awal abad XX, kemunculan kaum melek aksara menentukan pembesaran peran percetakan dan penerbitan di naungan misi atau zending. Jumlah orang mampu memasuki “dunia aksara” ikut menjadi pertimbangan keberadaan buku-buku.

Kita mengingat bahasa Jawa dan “Melajoe” mendapat keutamaan untuk penerbitan bacaan: asli atau terjemahan. Dua bahasa digunakan oleh kaum terdidik dan memiliki perkembangan pesat meski digoda oleh bahasa Belanda. Persaingan dan “sengketa” bahasa-bahasa memang terjadi berbarengan pemajuan pendidikan, dakwah, gerakan politik-kebangsaan, dan lain-lain.  

Kita mengutip penggunaan bahasa “Melajoe” di halaman 195: “Goesti adalah berdjalan koeliling di antero tanag Galilea dengan mengadjar orang dalam mesdjid-mesdjid, serta dengan mengkabarken Indjil dari pada karadjaan Allah, dan lagi disemboehkennja segala sakit-penjakit di antara orang banjak itoe. Maka banjaklah orang mengikoet Goesti. Maka adalah pada soewatoe hari Goesti naik kaatas goenoeng maoe mengadjar di sitoe. Serta soedah doedoek, maka segala sachabatnja lantar dateng kehadepannja.”

Pembaca masa sekarang mungkin kaget dan bingung. Kalimat-kalimat dalam buku itu berbahasa “Melajoe" dalam saling pengaruh bahasa-bahasa. Agama-agama berkembang di Nusantara memerlukan pilihan bahasa dan kesadaran pengaruh-pengaruh dari pelbagai sumber. Kita membaca “mesdjid” bukan berarti dalam pengertian sekarang. Dulu, penggunaan istilah itu mengartikan tempat ibadah. Bahasa Arab memang berpengaruh dalam perkembangan bahasa Melajoe, turut digunakan dalam percetakan dan penerbitan oleh misi atau zending. Penamaan “Goesti” mengesankan akrab dan dekat, mengacu kesesuaian dengan situasi setempat.

Kita membuka Djoeroe Bahasa Melajoe-Olanda, Woordenlijst Maleische-Hollandsch susunan R Brons Middel, terbitan Albrecht & Rusche, 1891. Di halaman 163, tertulis “mesigid” mendapat arti “(masdjid), bedehuis, moskee.” Bahasa Arab dan “Melajoe” dalam laju penerjemahan buku-buku berpijak iman, bersumber edisi bahasa Belanda dan bahasa-bahasa lain. Bermula membaca Tjerita Saratus Ampat (1912), kita justru menelusuri sebutan “masjid” atau “mesdjid” telah dimuat dalam kamus bertahun 1891. Kita sedang memikirkan bahasa-bahasa, belum memasalahkan agama.

Kita lanjutkan membuka Kitab Indjil Soetji Jang Tersalin Dari Mattheoes, Tersalin Sama Bahasa Melajoe-Djawa (1927). Kita mengutip dari halaman 21: “Ingetlah kamoe djangan boewat sedekahmoe dimoeka-moeka orang, sopaja kalihatan sama dia, melainken kamoe tidak dapat opahan dari Bapamoe, jang ada di sorga. Maka kalaoe kamoe boewat sedekah, djangan soeroeh boenikan selompret di hadepanmoe, seperti orang poera-poera didalam mesdjid-mesdjid dan didjalan-djalan, sopaja dapat hormat dari manoesia, kerna soenggoeh akoe berkata sama kamoe, dia orang soedah dapat opahnja.” Pada saat membaca, kita pun merasa ada pengaruh bahasa “Melajoe” biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa.

Kita penasaran dengan istilah “sedekah”. Di kamus susunan Brons Middle, “sedekah” tercetak di halaman 238 mengandung arti dalam bahasa Belanda: “offerande aan God, gift, aalmoes.” Bacaan-bacaan masa silam mengenai agama memang mengharuskan kita mengerti sejarah dan perkembangan bahasa-bahasa. Kita pun sabar dan berpikir serius saat melacak kata dan pengertian dalam kamus-kamus lawas. Masa silam keaksaraan itu menggugah kesadaran saat ingin mengetahui saling pengaruh dan lata kehidupan berlakon kolonial. Begitu.   

 

============    
Baca artikel terkait MOZAIK atau kumpulan kolom lainnya dari BANDUNG MAWARDI

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo