Buku: Petaka, Penyelamat, dan Diselamatkan

Buku: Petaka, Penyelamat, dan Diselamatkan

Hal yang selalu terdengar dari seratus mulut para pejabat, pendidik, dan moralis: Membacalah! Buku adalah jendela dunia. Mereka meyakini buku sebagai pengantar menuju kehidupan cerah, penuntun pada jalan yang lurus. Kita boleh tersenyum sekaligus mengerutkan dahi. Ingat, kita hidup di negara dengan harga buku selangit, budaya membaca yang minim, dan lowongan kerja yang sulit. Memutuskan hidup dengan buku bisa menyenangkan sekaligus pelik. Pemilik buku kerap harus bertarung dengan jatah makan di hari esok juga kewarasan hidup.

Buku itu petaka sekaligus penyelamat. Rumah Kertas (2018) gubahan Carlos Maria Dominguez mengisahkan banyak hal menyoal perbukuan. Bluma, profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, mati ketika membaca. Peristiwa itu menghantarkan tokoh “Aku” mengenal Carlos Brauer, seorang bibliofil gila baca. Buku bukan hanya membawa Brauer pada kehidupan nyeleneh tetapi juga ekstrem: “Aku senggamai tiap-tiap buku dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” Kabarnya, di atas ranjang milik Brauer, berjejer buku  menyerupai tubuh perempuan. Buku menyabotase kewarasan.

Allison Hoover Bartlett dalam bukunya The Man Who Loved Books Too Much (2010) mengisahkan Gilkey, pencuri yang tergila-gila dengan buku. Kegilaan itu membawanya hidup dari satu penjara ke penjara. Buku melibatkan ketegangan, hukum, teknologi, kerjasama, geografi, perputaran uang, dan kenangan: “Aku menyukai perasaan bisa memegang buku seharga lima atau sepuluh dolar. Dan aku menyukai kekaguman yang akan kudapatkan dari orang lain.” Perasaan itu mendorongnya melakukan pencurian tanpa merasa bersalah. Buku memperbudak Gilkey.

Dalam hidup Carlos Brauer dan Gilkey buku serupa petaka. Lain hal di hadapan Koly, tokoh utama dalam Homeless Bird (2000) gubahan Gloria Whelan. Buku menjadi penyelamat. Buku puisi Tagore mengantarkan Koly pada kehidupan yang lebih bermartabat. Gadis miskin korban dari budaya patriarki itu berharap pada huruf dalam buku. Hasrat itu membawanya pada takdir baik, meski diawali rasa khawatir: “Aku tahu aku takkan sanggup melihat buku yang sangat berarti bagi Sas dijual. Jadi, anting-antingkulah yang dibawa Sas ke desa untuk dijual, dan bersamanyalah harapan terakhirku musnah.”

Chimamanda Ngozi dalam A Feminist Manifesto (2019) meyakinkan pembaca untuk mengenalkan anak pada buku. Upaya itu dipercayai bisa membantu anak memahami dunia dan  mempermudah dalam hal apa pun: “Ajari ia mencintai buku. Cara terbaik adalah dengan memberinya contoh.” Buku menjadi penyelamat hidup anak.

Jadi, buku berwajah ganda. Kita bebas memilih, berpihak pada opsi petaka atau penyelamat. Frances Hodgson Burnett, novelis asal Inggris, memilih opsi terakhir. Melalui novel anak yang ditulisnya, buku dalam A Little  Princess (2011) digambarkan sebagai penyelamat. Sarah, tokoh utama dalam novel tersebut bertahan hidup karena buku.

Buku membuat Sarah berpikir melampaui usianya: "Anak perempuan itu masih kecil, sehingga orang yang memandangnya takkan mengira akan melihat tatapan seperti itu di wajah mungil tersebut. Bahkan bagi anak yang berusia dua belas tahun pun tatapan itu akan tampak janggal, apalagi Sara Crewe baru berusia tujuh tahun."

Sarah adalah gadis kecil kaya-raya. Ayahnya menyekolahkan Sarah di asrama milik Miss Minchin. Di sana, ia mendapat perlakuan khusus dan bermewah-mewahan. Namun, ketika ayahnya meninggal, Sarah harus menjalani hidup sebaliknya: miskin dan penuh derita. Perubahan hidup itu tidak lantas membuatnya berkecil hati, ia tetap menjadi pribadi yang baik, membayangkan dirinya sebagai Little Princess.

Setiap perlakukan buruk yang diterima selalu diimajinasikan Sarah sebagai petualangan dan kisah menarik. Kemampuan itu didapat dari buku-buku yang dibacanya. Setiap waktu, ia memenuhi kepala dengan bacaan: “Sarah sendiri duduk meringkuk di sebuah kursi di tepi jendela, membuka buku, dan mulai membaca. Buku itu tentang Revolusi Perancis, dan tak lama kemudian ia sudah tenggelam dalam kisah yang menjabarkan tentang para tahanan di penjara Bastille.” Cerita itu membuatnya tegar menghadapi rasa sepi, lapar dan dingin. Pikirannya melewati beragam waktu dan wilayah. Buku menjadi penyelamat.

Kini, perdebatan tidak lagi hanya menyoal apakah buku sebagai petaka atau penyelamat. Obrolan melompat pada pertanyaan: Apakah buku fisik itu akan tetap ada? Kecanggihan teknologi menjadikan segalanya serba digital. Persentuhan tubuh dengan buku memasuki masa kritis. Kisah-kisah yang diceritakan di atas darurat hilang. Tidak ada lagi adegan tidur bersama buku, mati tertimpa buku, mencuri buku, berebut buku, berkeringat karena buku, berdebu karena buku dan sederet aktivitas lain. Semua hilang, tergeser sebuah  peradaban bernama “klik”.

Apakah buku tetap harus ada di hadapan era digitalisasi? Dugaan saya: Ya, penyelamatan buku cetak sangat diperlukan. Buku fisik punya rasa lebih melekat ketimbang digital. Ageng Indra, dalam epilog buku berjudul Kenapa Masa Depan Kita Bergantung Pada Perpustakaan, Membaca dan Melamun? (2023) menjelaskan bahwa buku cetak tidak bisa tergantikan dengan digital: "Membaca buku adalah bentuk lain percakapan, baik berbentuk cetak, e-book, atau audio buku. Namun, dalam mewariskan imajinasi, buku lebih efektif."  Peristiwa bersama buku cetak melibatkan banyak gerak dan melahirkan pengetahuan yang lebih melekat dalam ingatan.

Yulita Putri, bergiat di Bilik Literasi dan Kamar Kata Karanganyar


Editor: Kendi Setiawan
logo