Kata pembangunan acapkali mengingatkan keberadaan negara dalam menelorkan gagasan melalui kebijakan demi kebijakan. Pembangungan masih laris dan kerap digunakan di sekian pemberitaan media dan tulisan-tulisan dari kalangan para pakar. Kenyataan tersebut agaknya memberi penegasan bahwa keberadaannya tak lekang oleh waktu.
Kini kita menyengaja berbincang terkait pembangunan dan pangan. Dua kata yang masih akan menentukan Indonesia hingga kini. Sejarah pangan adalah sejarah kesadaran manusia dalam upaya untuk bertahan hidup. Kesadaran itu menautkan pada lingkungan, alam sekitar, dan daya rasionalitas. Sejarah itu kemudian menjadi bagian penyusun penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu dan pengetahuan.
Pada Edisi No. 05 – 06, Tahun Ke-57, Mei – Juni 2008, Majalah Basis terbit dengan tajuk “Pangan sebagai Gerakan Sosial”. Majalah bergambarkan sekumpulan cabai merah. Pihak redaksi mungkin ingin mengingatkan cabai itu pedas. Banyak orang suka makan dengan rasa pedas. Namun, lebih dari itu, kita cukup terkejut saat menyimak rubrik “Tanda-Tanda Zaman” yang ditulis oleh Sindhunata berjudul “Amarah dari Perut”.
Sindhunata mengingatkan: “Negara kita ini kaya raya dengan sawah ladang dan lahan-lahan pertanian, dan diberkati iklim tropis yang demikian berkawan dengan pertanian dan kelangsungan panenan. Ironis, bahwa kita pun terjebak dalam arus krisis pangan. Itu adalah bukti bahwa kita belum sampai pada kedaulatan pangan." Keterangan memberikan acuan pada persoalan pangan.
Di rubrik wawancara, kita bertemu Sajogyo, nama penting dalam isu pertanian dan sosiologi pedesaan. Wawancara dengan sosok yang pernah menjadi rektor Institut Pertanian Bogor pada 1965-1966 itu bertajuk “Pembangunan yang Baik: Cukup Pangan dan Gizi Baik”. Keterangan demi keterangan dalam wawancara kiranya penting dijadikan acuan pada situasi mutakhir untuk membicarakan pangan di Indonesia.
Sajogyo memberi penjelasan mengenai pengetahuan pangan. Ia menjelaskan: “Menurut hemat saya, yang pertama, soal pengetahuan tentang pangan dan gizi yang masih kurang. Misalnya masih sedikitnya informasi dan pengetahuan tentang bagaimana bahan-bahan pangan yang juga memiliki kualitas dan kandungan yang setara dengan beras, seperti ubi-ubian, ketela, jagung, kedelai, pisang dan sejenisnya sebenarnya juga mampu memenuhi kebutuhan karbohidrat dan protein tubuh. Jangan remehkan ubi, juga jenis bahan pangan lain yang kaya gizi dan vitamin, yang sebenarnya melimpah di sekitar lingkungan kita.”
Keterangan ingin menandaskan keterhubungan manusia pada lingkungannya. Hal tersebut juga menyorot persoalan kebudayaan dan pangan. Pangan tak melulu mengacu pada beras. Sebab, tanah memiliki karakteristik masing-masing dalam menopang jenis tumbuhan pangan. Kita ingat di perdesaan saat di mana pekarangan dan kebun masih menjadi bagian stuktur berdirinya rumah. Di balik hamparannya, orang-orang sadar untuk berkebun dan memanfaatkan hasilnya sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Penjelasan tersebut membuat penting untuk membuka buku berjudul Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan Kesehatan (Gramedia, 1985). Buku yang disusun oleh Koentjaraningrat dan A.A. Loedian memuat sekian tulisan dari nama pakar. Salah satu tulisan yang termaktub berjudul “Makanan Sebagai Suatu Sistem Budaya: Beberapa Pokok Perhatian Antropologi Gizi” garapan Nico S. Kalangie.
Ia memberi uraian: “Makanan adalah suatu konsep kebudayaan yang merupakan bahan-bahan yang telah diterima dan diolah secara budaya untuk dimakan, sesudah mulai proses penyiapan dan penyuguhan yang juga secara budaya, supaya dapat hidup dan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Pengertian dan persepsi mengenai hidup dan kesehatan dalam hubungannya dengan peranan makanan ditentukan oleh, atau merupakan bagian dari sistem budaya mereka.”
Kita mengingat saat di mana pertumbuhan kota yang terlampau cepat. Lahan-lahan pekarangan yang makin tak terlihat. Kota mengandalkan distribusi dan sajian cepat akan mencukupi kebutuhan pangan. Kota telah bergeser menjadi titik fokus administratif dengan klaim modernitas. Nasib pemasok kebutuhan pangan akhirnya mereka yang berasal desa. Mereka yang masih tekun menanam dan merawat tumbuhan pangan.
Pergeseran tersebut kiranya meninggalkan pekerjaan penting akan perhatian terhadap lanskap desa. Acapkali, keterlibatan mereka, meski menyokong kebutuhan kota, namun dipandang sebelah mata. Mereka masih mendapati tuduhan tertinggal dalam banyak aspek yang menjadi rotasi pertumbuhan kota. Di sinilah penting menghargai kebudayaan persoalan pangan yang kemudian menjadi pertimbangan pada kebijakan dan kepentingan pembangunan. Beberapa catatan mutakhir menunjukkan tantangan mengenai persoalan pemenuhan kebutuhan pangan.
Di sektor pertanian, ada permasalahan mengenai perihal regenerasi. Hasil Sensus Pertanian 2023 menyebutkan bahwa petani berumur 19-39 tahun hanya 21,93 persen dari total jumlah petani Indonesia. Hal tersebut ditengarai sebagaimana analisis pegiat Forum Pengkajian Pangan Pertanian dan Lingkungan (FP3L), Toto Subandriyo (2024) berupa fenomena urbanisasi ke kota yang masih menjadi pilihan banyak kalangan muda.
Pangan bukan persoalan sebatas pemenuhan kebutuhan. Namun, ia juga berhubungan dengan jaminan ketersediaan lahan dan kemampuan melakukan pengolahan. Dalam arus perkembangan yang terjadi, ia memutlakkan titik kesadaran dan keberpihakan. Desa-desa masih kerap mendapati ketidakadilan dalam kebijakan dan keberlanjutan. Mereka masih menemui kebingungan dalam meneguhkan pikiran akan keberadaan lahan, yang sejatinya memuat harapan besar akan kebutuhan pangan.
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir. Penulis “Buku Bersandar pada Sains” (2022)
Editor: Muhammad Zunus
