Pada akhir 1999, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melawat ke Tiongkok. Lawatan atas nama kekuasaan, berharap menimbulkan dampak-dampak besar bagi Indonesia, Tiongkok, dan dunia.
Gus Dur bertemu dan berbincang dengan Jiang Zemin. Kita mengenang itu babak awal pesona Tiongkok berkaitan nasib Indonesia setelah situasi krisis (1997-1998) dan keruntuhan rezim Orde Baru.
Dulu, Gus Dur dianggap sengaja membuat poros Jakarta-Beijing dengan tambahan New Delhi. Lawatan tak sembarangan dalam mencipta sejarah dan masa depan.
Gus Dur menjadikan Tiongkok sebagai alamat awal dalam lawatan panjang di pelbagai negara. Kita mengandaikan Gus Dur dalam diplomasi dan percakapan tingkat tinggi tak lupa berbagi humor. Di buku Greg Barton (2002), kita diajak mengingat tahun penting saat Gus Dur menjadi Presiden RI dan makna Tiongkok dalam penentuan masa depan Indonesia: 1999. Sikap politik Gus Dur itu membuat publik berdebat dan kisruh. Barton membuktikan jika paradoks-paradoks Gus Dur memang mendewasakan demokrasi di Indonesia, termasuk pilihan melawat ke Tiongkok.
Kini, 2024, Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden RI. Ia segera menunaikan kerja-kerja. Jumat, 8 November 2024, Prabowo Subianto tiba di Banda Internasional Capital Beijing, Tiongkok. Peristiwa atas nama kunjungan kenegaraan pertama, berlanjut ke negara-negara berbeda. Lawatan itu tak mendebarkan dan penuh debat dibandingkan Gus Dur. Konon, lawatan-lawatan kenegaraan Prabowo demi “keberimbangan” dalam jalinan negara-negara berkepentingan ekonomi, politik, militer, dan sosial-kultural.
Di Kompas, 10 November 2024, kita melihat foto dua penguasa bersalaman: Prabowo Subianto dan Xi Jinping. Pertemuan penting dan bersejarah terselenggara di Great Hall of the People, Beijing, 9 November 2024. Mereka berhasil membuat kesepakatan-kesepakatan bermisi “perkuat relasi” Indonesia-China. Di situ, mereka tak sekadar bercakap dan bertanda tangan. Prabowo pun diajak menikmati perjamuan makan malam dalam lezat dan akrab.
Kita tak mengetahui lawatan Prabowo bakal dijadikan buku atau album dokumentasi. Dulu, lawatan Gus Dur lekas terlewat dengan beragam peristiwa dan debat-debat besar. Hubungan erat Indonesia-Tiongkok masih terbaca “dekat” jika kita membaca lagi buku dokumentasi berjudul Presiden Sukarno di Tiongkok (1956). Buku apik dan istimewa itu diusahakan oleh Republik Rakyat Tiongkok. Orang-orang bisa membaca dalam edisi bahasa Indonesia.
Foto terpenting dari masa lalu tentu Sukarno dan Mao Tse Tung. Mereka tampak akrab dan tebar pesona. Di hadapan Mao Tse Tung dan ribuan orang, Sukarno mengatakan: “Rakjat Tiongkok bagi rakjat Indonesia bukanlah sahabat jang baru. Kita mengenal satu sama lain telah beratus-ratus tahun, bahkah telah beribu-ribu tahun. tetapi, ada lagi satu hal jang membuat kita bersimpati satu sama lain, lebih-lebih daripada persatuan sedjarah itu, jaitu bahwa kita, rakjat Tiongkok dan rakjat Indonesia, pernah mengalami penderitaan-penderitaan.” Kini, Tiongkok itu negara besar dan sangat berpengaruh di Indonesia. Derita menjadi istilah boleh diralat atau dicoret. Penderitaan di Indonesia masih ada.
Pada masa lalu, kita memiliki buku dokumentasi bercorak berbeda dari lawatan Sukarno, Gus Dur, dan Prabowo. Buku lawas itu berselera jurnalistik berjudul Ke Tiongkok Baru (1952) susunan Kwee Kek Beng. Kita mengurangi dulu kadar politik dengan membaca buku lawas mendahului kunjungan Sukarno ke Tiongkok. Kwe Kek Beng pernah melawat ke Tiongkok pada 1933. Lawatan dilakukan lagi pada 1951.
Kwee Kek Beng dan rombongan menuju Tiongkok naik kapal. Selama di Tiongkok, mereka mendatangi pelbagai kota sering naik kereta api. Kunjungan di pelbagai kota membuat takjub saat melihat tembok-tembok dan pelbagai tempat terpasang poster untuk penguasa Tiongkok. Poster menjadi propaganda dan penciptaan “galeri kekuasaan”.
Kwee Kek Beng mengisahkan: “Seperti djuga dulu di Indonesia djaman bersiap, hampir tiada tembok kosong jang tidak penuh slogan andjuran dan propaganda, begitupun sekarang diseluruh Tiongkok, tembok-tembok sekolah, pabrik, dan apa sadja penuh dengan gambar dan tulisan-tulisan propaganda… Hotel Ai Chun di Canton jang tingginja lebih dari sedosin tingkat, pernah tertutup depannja dengan foto dari Map Tse Tung jang besarnja dari tingkatan paling atas terus ke bawah.”
Pemandangan “bersejarah”. Pada masa berbeda, kota-kota di Tiongkok berubah rupa dan kegagahan. Pemandangan dari masa 1930-an dan 1950-an itu sekadar nostalgia. Lawatan di sana juga mengisahkan toko buku, gedung sandiwara, makanan, dan lain-lain. Kwee Kek Beng merasa kagum: “Bukan sematjam mode importan baru, tapi tjuma balik kembali pada kebiasaan dulu. Djuga lagu-lagu RRT baru banjak jang berdasar atas lagu-lagu kuno rakjat jang tjuma dirubah perkataannja atau ditjotjokkan dan begitupun tarian-tarian jang sekarang sangat digemari ada berdasar tari rakjat kuno.” Jurnalis itu pelesiran tapi bertanggung jawab kepada pembaca agar itu mengalami, merasakan, dan hadir di Tiongkok.
Para pembaca di Indonesia bisa menambah pengetahuan Tiongkok dengan membuka buku berjudul Tiongkok Sepandjang Abad (1952) susunan Nio Joe Lan. Sejak lama, Tiongkok memang pesona. Kita sering terpikat atas beragam kepentingan: sastra, makanan, kain, senjata, dan lain-lain. Sejak awal abad XX, bacaan-bacaan bertema Tiongkok terus terbit dan membuat hubungan Indonesia-Tiongkok erat ditambah pertemuan para penguasa.
Nio Joe Lan menerangkan gerakan pengajaran besar-besaran di Tiongkok masa 1930-an dipengaruhi pengadaan buku agar penduduk di kota dan desa menjadi pembaca berpengetahuan. Sastra menjadi pijakan penting dalam pembuatan buku-buku dan mencipta filsafat dianut bersama.
Sejarah itu menentukan: “Jang luar biasa ialah gerakan ‘seribu huruf’ jang telah banjak membantu dalam membasmi buta huruf diantara rakjat Tiongkok, akibat langsung dari turutnja Tiongkok dalam Perang Dunia I (1914-1919).” Pada masa 1930-an, usaha-usaha besar terus dilakukan demi martabat dan kemajuan Tiongkok. Nio Joe Lan suguhkan masa lalu di Tiongkok masa 1930-an: “Gerakan Hidup Baru untuk melenjapkan kebiasaan-kebiasaan djelek dan tidak sehat jang masih meradjalela di antara rakjat.” Pengertian ringkas dan sederhana: “Gerakan Hidup Baru adalah suatu tjara hidup jang mewadjibkan orang berlaku bengis kepada diri sendiri dalam hal kebersihan djasmani dan rohani atas dasar pengadjaran Confucius. Gambar-gambar Gerakan Hidup Baru digantungkan dalam rumah-rumah sekolah. Pada gambar-gambar ini orang menampak anak-anak sedang berlatih olahraga, mandi, menjikat gigi, dan lain-lain lagi.”
Tiga buku dari masa lalu itu dokumentasi dan pengisahan. Kita masih menanti dokumentasi lawatan Prabowo ke Tiongkok. Lawatan itu sempat menimbulkan penundaan pengumuman nama-nama pahlawan. Di Indonesia, Gibran menjadi pengganti dalam acara resmi dan ziarah untuk peringatan Hari Pahlawan. Selama di Tiongkok, Prabowo mungkin berbincang bersama Xi Jinping mengenai negara besar memiliki pahlawan-pahlawan besar. Kita diajak mencatat lagi: Tiongkok itu penting dalam arus politik Indonesia. Lawatan-lawatan penting oleh Sukarno, Gus Dur, dan Prabowo menjadi bukti. Kita pun mengakrabi Tiongkok melalui buku-buku lawas bercorak jurnalistik, sejarah, dan sastra. Tiongkok, negara besar tak pernah pudar sepanjang masa. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan
