Rhoma Irama dan Dangdut sebagai Pemersatu

Rhoma Irama dan Dangdut sebagai Pemersatu

Auditorium utama Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mendadak dipenuhi ratusan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Tak ada kursi tersisa. Di sisi kanan-kiri pun dipenuhi orang-orang berdiri. Antusias dan tujuan langkah mereka hanya satu; melihat langsung sang legenda hidup, Rhoma Irama.

Hari itu, Rabu pagi, 30 Oktober 2024,  Sang “King of Dangdut” hadir di sana untuk menjadi tamu penting dalam talkshow bertajuk “Musik, Spiritualitas, dan Kehidupan Keragaman Kita” yang diadakan dalam rangka Road to Milad Ushuluddin ke-62.

Tak perlu lama baginya untuk membuat auditorium gemuruh. Itu terjadi ketika Bang Haji—panggilan akrabnya, melantunkan “Keramat”. Lagu yang dirilis pada 1977 ini memuat potongan ayat Al-Qur’an dan hadist. Al-jannatu tahta aqdāmil ummahāt,  bahwa ridhonya Allah terletak pada ridho orang tua, terutama Ibu. “Bersyukurlah teman-teman yang masih memiliki ibu, berbaktilah, insyaallah Allah akan mengangkat derajat Anda,” serunya.

Ciri khas Rhoma dalam menyampaikan pesan moral setiap penampilannya menjadi daya tarik tersendiri yang kemudian membuat dangdut memiliki tempat di industri musik Indonesia. Semua itu merupakan buah perjalanan panjang dalam karir bermusik sosok bernama lengkao Raden Haji Oma Irama itu.

Semua bermula ketika Rhoma kecil berkenalan dengan berbagai genre musik yang kelak turut mempengaruhi perjalanan kariernya. Dimulai dari sering mendengar musik Barat berkat ibunya dan juga lagu-lagu India yang diputar lewat radio. Lata Mangeshkar dan Mohammed Rafi adalah idolanya kala itu.

Beranjak remaja, ia membentuk grup band yang membawakan musik rock dan orkes Melayu. Hingga akhirnya, pada Desember 1970, dari semua jenis musik yang diminatinya dia mendirikan Soneta Group. “Saya memilih concern di dangdut karena terpanggil melihat bagaimana dangdut dimarginalkan,” imbuh sosok bernama asli Raden Haji Oma Irama itu.

Dangdut Rhoma, beda dengan dangdut di mana pun. Itu karena dia membuat gebrakan dengan memasukkan unsur-unsur musik rock dalam orkes melayu. “Saya merevolusi orkes melayu untuk bisa sejajar dengan rock. Kalau enggak, bisa hanyut,” kata pria kelahiran 11 Desember 1947 itu.  

Dakwah Karena Resah

Namun pengalaman dari panggung ke panggung dan bergaul dengan sesama musisi membuatnya resah. Mereka dekat dengan alkohol, pergaulan bebas, dan meninggalkan shalat. “Dalam kegelisahan itu hampir setiap doa saya menyampaikan: ‘Ya Allah...seandainya musik ini hanya memperlebar jalanku ke neraka tolong dicabut, tapi kalau seandainya musik bisa bimbing aku, tolong bimbing’,” tuturnya.

Keresahannya itu kemudian mendorongnya ingin menjadikan dangdut sebagai sarana dakwah. Namun itu bukan hal mudah, bahkan terbilang mustahil, sebab agama dan musik sering kali dianggap berseberangan tapi Rhoma percaya ada celah untuk menyisipkan dakwah dalam dangdut.

Keputusan besar pun dia ambil. Pada Oktober 1973, Rhoma mencanangkan Soneta Grup sebagai  "Voice of Moslem". Tujuannya agar musik melayu bisa dipadukan dengan aliran musik lainnya. Inilah yang lantas membuat setiap lagu Rhoma Irama memiliki cita-rasa yang berbeda.

“Karena dakwah saya dalam musik, setiap pentas saya awali dengan sapaan ‘Assalamualaikum’. Itu jihad pertama saya adalah saat manggung di Ancol. Langsung melayang sandal, lumpur dan sebagainya,” Rhoma tertawa mengenang pentas pertamanya.

Insiden berikutnya yang sempat membuat heboh Republik ini, kata dia, adalah ketika ia melantunkan kalimat “La ilaha illallah”.  “Saya merasa terpanggil untuk menyampaikan ini,” katanya.

Namun respons yang didapatnya sungguh tak terduga.  “Rhoma Irama menjual agama,” katanya mengingat tuduhan yang dialamatkan padanya.

Akibat dia pun dipanggil pengurus Majelis Ulama Indonesia. Sejumlah ulama dan wartawan pun berkumpul untuk menyidang dirinya. Dalam “pengadilan” itu, Rhoma memutarkan dan menjelaskan lagu tersebut. “Akhirnya saya diizinkan untuk membuat lagu dakwah dalam musik,” katanya.

Setelah itu, dengan rekomendasi MUI, ia terus membuat lagu-lagu dari keresahan yang dirasakannya. Beberapa karya di antaranya, “Buta Tuli” yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Quran, seperti QS. Al A’raf ayat 79.

Menyadari bahwa hidup di Indonesia masyarakatnya  heterogen, ia memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan nasionalisme, toleransi, dan persatuan lewat lagu. Terbitlah lagu Kita Adalah Satu, yang terinspirasi dari QS. Al-Hujurat ayat 13.

Rhoma menemukan bahwa efektivitas dakwah melalui musik ternyata sangat diapresiasi. Termasuk dari luar negeri.  Itu terjadi ketika tampil di World Music and Dance di Jepang, Rektor Universitas Tokyo bertanya soal lirik yang ditulisnya:  “Mengapa lirik lagu Anda bernuansa politik, religi, dan sosial?”

Tanpa pikir panjang, Rhoma menjawab because music is not just fun, but it has responsibility to Allah and human beings. Kalimat ini kini menjadi moto dalam perjalanan karier musiknya, sebagai pengingat bahwa seni musik tak sekadar untuk hiburan semata, tetapi juga pertanggung jawaban kepada Tuhan dan kepada manusia.

Dangdut sebagai Sarana Pemersatu

Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ismatu Ropi mengatakan musik dangdut menjadi penting karena bahasa universal Rhoma Irama menjadi contoh bagaimana musik memberikan nilai besar membuka ruang spiritualitas dan moral yang besar.

“Kita ingin belajar dari Rhoma bagaimana media, komunikasi tentang humanitas bisa disuarakan melalui medium yang berbeda-beda,” jelasnya.

Tak hanya berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Rhoma juga menyisipkan kritik terhadap realitas sosial melalui lagu-lagunya.Lagu-lagunya seperti “Judi” dan “Perjuangan dan Doa” menjadi bukti bahwa musik bisa menjadi medium kritik yang efektif.

“Lirik lagu dari Bang Haji Rhoma Irama isinya macem-macem, dakwah termasuk tentang perjuangan dan doa bahkan sempat menyinggung HAM. Apa yang dilakukan Rhoma Irama untuk merevolusi lagu bukan sekadar dari liriknya tetapi juga dari instrumen dangdut, itu luar biasa,” jelas  Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Wahid.

Rhoma Irama berhasil menjadikan dangdut sebagai medium dakwah yang kuat, menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab sosial serta nilai spiritual.

Karya-karyanya menjadi cermin dari keinginan untuk membawa perubahan, bukan hanya dalam dunia musik, tetapi juga dalam cara pandang masyarakat terhadap moralitas dan kemanusiaan.  Rhoma Irama telah membuktikan bahwa musik bisa menjadi kekuatan yang baik, merangkul semua lapisan masyarakat dalam satu harmoni yang tak terputus.

=============      
 Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
 


Editor: Fajar WH
logo