1994 itu Gus Dur. Presiden RI tetap Soeharto. Kita mengingat 1994 itu berita-berita bertokoh Gus Dur. Koran dan majalah sering memberitakan Gus Dur. Berita-berita terus membesar sampai 1996. Pemberitaan terpenting di koran dan majalah tetap Soeharto tapi Gus Dur memberi pikat unik. Orang-orang memilih mengikuti berita dan opini bertema Gus Dur. Segala hal mengenai Soeharto sudah menjenuhkan. Kita menganggap 1994 itu Gus Dur gara-gara NU.
Ingatan terpenting: Muktamar NU di Cipasung. Peristiwa itu menimbulkan debat dan geger panjang. Indonesia sibuk memikirkan nasib NU. Di situ, ada Gus Dur. Di berita-berita dan album opini selama 1994-1996, orang-orang bergantian memberi perhatian kepada Gus Dur dan NU. Sekian pihak memilih memikirkan kemanunggalan Gus Dur-NU. Masalah-masalah bermunculan tanpa jawaban. Situasi itu membuat pesona Gus Dur membesar. Pengaruh Gus Dur melewati batas-batas. Ia pantas diingat sebagai tokoh terpenting ketimbang Soeharto, menteri, atau artis. Kita mungkin bisa membuktikan melalui kliping masa 1990-an.
Di majalah Ummat, 5 Februari 1996, redaksi memberi penjelasan:
“Kini, di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU mengalami proses transformasi sosial-politik dan kultural yang menakjubkan. Gus Dur telah mengajak jamaah NU berkelana ke dunia ide dan aksi yang kosmopolitan dan mendunia. Bukan saja lewat pembaruan pemikiran keagamaan tapi juga lewat visi politiknya. Namun tetap memolesnya dengan doktrin ahl al Sunnah wa al-Jamaah.”
Keterangan itu mengesankan keberpihakan kepada Gus Dur sebagai penggerak dan pemimpin NU ketimbang (kubu) Abu Hasan. Sejak peristiwa di Cipasung, perbincangan tentang NU mencipta dua kubu: Gus Dur dan Abu Hasan. Konon, NU retak dan membutuhkan islah.
Gegeran di NU membedakan pihak-pihak memberi pujian atau kecaman. Di majalah Ummat, kita sering menemukan pujian kepada Gus Dur. Sikap itu mengesankan pengakuan kepemimpinan Gus Dur di NU:
“Melalui Gus Dur, NU menjadi diskursus dan ulasan yang tak henti-hentinya dari media massa maupun pengamat dalam dan luar negeri. Ini tak pernah terjadi dalam sejarah kepemimpinan NU sebelumnya. Begitu menyatunya Gus Dur dengan NU, hingga orang sulit membedakan pemikiran dan tindakan Gus Dur sebagai pribadi, dengan sikap NU sebagai organisasi.”
Pada masa 1990-an, Gus Dur tak sekadar tokoh. Gus Dur sebagai tema menggerakkan dan menentukan Indonesia, tak sekadar NU.
Greg Barton (2002) mengingatkan pesona Gus Dur dalam segala debat itu memiliki keterjalinan: 1992 dan 1994. Kita mengikuti penjelasan berlatar 1992:
“Gus Dur mengadakan rapat akbar untuk ulang tahun ke-66 berdirinya NU… Rapat akbar itu bagian dari kampanyenya untuk menjauhkan perpolitikkan Indonesia dari sektarianisme, menghadapi tekanan kuat yang dilakukan Soeharto yang berusaha memasukkan sektarianisme dalam politik Indonesia.”
Peristiwa itu bermasalah di mata rezim Orde Baru. Gus Dur tampak sulit dipatuhkan dan ditertibkan dalam kepentingan kekuasaan Soeharto. Di mata penguasa, Gus Dur itu manusia mempersembahkan seribu satu tanda seru. Rezim Orde Baru mengecap sebagai momok untuk disingkirkan dan dikalahkan. Greg Barton melanjutkan:
“Gus Dur tengah mengalami tekanan serius dari kelompok Soeharto agar NU menyatakan dukungannya kepada Soeharto untuk masa jabatan presiden berikutnya. Kegiatan-kegiatan Gus Dur yang kontroversial, termasuk pernyataan-pernyataannya yang keras dan terbuka mengenai dialog antaragama dan usaha memajukan reformasi pemikiran Islam, telah mendatangkan banyak musuh bagi dirinya di dalam NU sendiri. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana ia masih mendapatkan dukungan dari NU.”
Situasi 1992 membuat kita berpikir lakon Gus Dur pada 1994. Muktamar NU di Cipasung itu pembuktian rentetan pihak-pihak menekan dan memusuhi Gus Dur.
Kita mengingat masa 1990-an itu masa “pikat” Gus Dur di Indonesia. Sosok membikin repot pelbagai pihak. Mereka dibikin bingung dan tegang dalam menentukan sikap atas segala omongan Gus Dur. Soeharto memang tetap berkuasa. Ia perlahan kehilangan pesona. Gus Dur memastikan menjadi sosok dan tema tanpa tandingan.
Fachy Ali (1996) berpendapat saat mengamati perseteruan kubu Gus Dur dan Abu Hasan, berkaitan peristiwa 1994:
“Kekuatan Gus Dur terutama terletak pada penguasaan simbolik. Sebagai tokoh ‘darah biru’ NU, Gus Dur dengan sendirinya terposisikan di puncak hierarki jaringan simbolis NU, terutama di Jawa.”
Posisi dan peran Gus Dur di NU menampilkan kekuatan besar, berlanjut saat ia menggerakkan ide-ide demokrasi dan (toleransi) keagamaan di Indonesia. Kekuatan-kekuatan itu makin membuat rezim Orde Baru pusing. Gus Dur bakal sulit dipatuhkan!
Pada akhir 2025, kita kangen Gus Dur. Kangen itu mengembalikan kita ke masa 1990-an saat Gus Dur sadar berhadapan dengan kekuasaan dan pihak-pihak berseberangan dalam ikhtiar menggerakkan NU. Gus Dur memang pantas teringat sedang “berebut” pesona, tampak berhasil “mengalahkan” Soeharto. 1992 itu Gus Dur. 1994 itu Gus Dur. Puncak dari rentetan segala debat terjadi pada 1998. Orang-orang menjadi saksi kejatuhan Soeharto dan mengerti lakon menakjubkan Gus Dur. Orang-orang mulai mengenali Gus Dur dengan PKB. 1999 itu Gus Dur setelah melampaui pesona rezim Orde Baru. Gus Dur berperan sebagai Presiden RI.
Kejutan besar di Indonesia. Daniel Dhakidae (2015) mengajak kita mengingat 1999:
“Dunia terkejut dan hampir semua koran dan majalah asing tidak mengerti apa yang terjadi… Gus Dur sendiri yang menertawakan dirinya ketika dikatakannya bahwa pasangan presiden (Gus Dur) dan wakil presiden (Megawati) adalah pasangan ideal karena presidennya yang buta bisa dan mampu berbicara tentang segala-galanya, sedangkan wakil presiden yang melihat segala-galanya bisu tentang banyak hal.”
Kelakar itu teringat saat Desember mau berakhir dan Indonesia dibingungkan oleh omongan-omongan Prabowo Subianto. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
