Meminimalisir Masalah Mental pada Diri Anak akibat Fatherless

Meminimalisir Masalah Mental pada Diri Anak akibat Fatherless

Kehadiran sosok ayah dalam kehidupan anak sering kali dianggap sebagai pelengkap. Ayah kerap dicukupkan perannya hanya sebagai sosok pelindung dan pemberi dukungan finansial. Akibatnya, sisi nilai, moral, dan mental seorang anak sering kali kosong. Ketika ayah tidak hadir dalam kehidupan anak—baik karena perceraian, kematian, pekerjaan yang jauh, parenting yang keras atau alasan lainnya—dampak psikologis, sosial, dan emosional yang signifikan dapat muncul, terutama dalam proses pembentukan identitas anak.

Frances Hodgson Burnett melalui novel A Little Princess (1905) menampilkan pengaruh sosok ayah dalam kehidupan anak. Sara Crewe, gadis cilik yang hidup dengan limpahan kasih sayang dari sang ayah digambarkan menjadi sosok yang cerdas, tangguh, penyayang, dan berpendirian. Pembentukan jati diri Sara dipengaruhi oleh sikap ayah yang membanjiri hatinya dengan limpahan rasa cinta.

Astrid Lindgren lewat karyanya bertajuk Madicken dan Lisabet (1985) juga menampilkan pengaruh sosok ayah terhadap anak. Ia menyuguhkan perbandingan karakter dua anak yang hidup dalam asuhan berbeda. Medita yang hidup di bawah naungan kasih sayang, tumbuh menjadi gadis yang memiliki jiwa pengasih, cerdas, dan aktif. Sementara Mia, sosok yang hidup dalam asuhan sebaliknya cenderung mengalami banyak permasalahan mental.

Pentingnya Figur Ayah dalam Identitas Anak
Identitas anak terbentuk melalui interaksi dengan orang tua, lingkungan, sekolah, dan pengalaman hidup. Akan tetapi, yang paling memiliki pengaruh adalah orang tua karena dari sanalah anak pertama kali memperoleh pendidikan. Ketika ruang tersebut absen maka akan berdampak pada perkembangan rasa percaya diri, rasa aman, dan pemahaman tentang hubungan yang sehat.

Peran ayah sering kali absen meski sosoknya ada dalam relasi keluarga. Menghilangnya peran seorang ayah bagi kehidupan anak ternyata sangat memberikan dampak besar karena akan berpengaruh pada masa perkembangannya. Fatherless adalah situasi yang menggambarkan hal demikian, yaitu peran atau figur yang menghilang dari sosok seorang ayah dalam cara mengasuh, baik fisik maupun psikologis.

Canadian Centre for Men and Families dalam tulisan bertajuk Research Brief: Fatherlessness menukilkan bahwa ketidakhadiran sosok ayah bisa menjadi masalah yang serius, baik di lingkup keluarga maupun sosial. Absennya peran ayah dalam hidup anak biasanya terjadi karena konstruk budaya yang bias gender.

Stereotip yang berkembang dalam lingkup masyarakat umumnya memposisikan laki-laki sebagai pelindung dan pemberi penghasilan. Sementara perempuan didorong untuk mengasuh dan beraktivitas di ranah domestik. Akibatnya, banyak pria tidak selalu menghargai atau menginginkan menjadi seorang ayah dan malah memilih untuk menghabiskan waktu jauh dari anak-anaknya.

Iryna Culpin melalui penelitian bertajuk Father absence and trajectories of offspring mental health across adolescence and young adulthood: Findings from a UK-birth cohort (2022) menemukan data bahwa ketidakhadiran ayah di masa anak-anak berkorelasi dengan depresi keturunan di masa remaja dan awal dewasa. Dampaknya paling kuat terjadi pada anak perempuan yang tidak mendapatkan peran ayah pada awal masa anak-anak.

Ketiadaan ayah memang sering kali meninggalkan kekosongan emosional pada anak. Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan kesulitan mengelola emosi mereka. Hal ini disebabkan oleh kurangnya rasa aman yang biasanya diberikan ketika terjalin interaksi yang dekat dengan ayah.

Misalnya, seorang anak yang kehilangan ayah akibat perceraian mungkin merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri atas perpisahan tersebut. Sementara itu, anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dan rasa aman seringkali mengalami masalah emosional yang dapat mempengaruhi cara mereka dalam memandang kehidupan.

Secara sosial, anak-anak tanpa ayah cenderung menghadapi tantangan dalam membangun hubungan dengan teman sebaya dan otoritas. Mereka mungkin kesulitan mempelajari batasan dan tanggung jawab yang sering kali diajarkan melalui interaksi dengan figur ayah

Strategi Mengatasi Dampak Ketiadaan Ayah
Meskipun dampak ketiadaan ayah begitu kompleks, anak-anak tetap memiliki peluang untuk mengatasi tantangan tersebut. Kehadiran sosok ayah memang penting, namun bukan berarti tidak bisa diantisipasi ketika fatherless terjadi. Keyword dari fatherless adalah absennya kasih sayang dan psikologis yang dibutuhkan anak dalam perkembangan hidupnya bukan hanya sekadar kehadiran fisik.

Ketika kekosongan tersebut bisa digantikan dengan sosok lain, dampak fatherless bisa diminimalisir, misalnya melalui dukungan yang penuh dari ibu, keluarga besar, atau figur pengganti lainnya. Ibu dapat mengambil peran aktif dalam memberikan kasih sayang, perhatian, dan dukungan emosional. Sementara mentor, guru, atau tokoh masyarakat dapat menjadi sosok yang membantu anak memahami peran yang mungkin hilang.

Penting juga bagi anak-anak untuk mendapatkan konseling atau terapi jika mereka menunjukkan tanda-tanda kesulitan emosional yang serius. Pendekatan ini dapat membantu mereka mengatasi perasaan kehilangan dan membangun identitas yang sehat. Ketiadaan ayah memang membawa tantangan dalam pembentukan identitas anak, tetapi dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat belajar mengatasi kekosongan tersebut dan melihat kehidupan menjadi lebih bermakna.


Editor: Kendi Setiawan
logo