Puasa Ramadan ditutup dengan gema takbir dan sholat Id. Ibadah itu diselenggarakan satu tahun sekali. Saf selalu ramai jemaah. Orang-orang memenuhi masjid. Pakaian rapi dan bersih terlihat di mana-mana, banyak wajah menunjukkan sukacita menyambut Lebaran.
Di masjid, jumlah jemaah sering membeludak melampaui sajadah-sajadah yang tergelar di keramik. Situasi itu membutuhkan pengalihan. Jemaah boleh ikut salat meski tidak di dalam ruangan. Halaman dan jalan sekitar masjid kerap menjadi pilihan. Alas salat yang dipilih tidak hanya berbahan katun atau beludru, jemaah membutuhkan koran.
Lembaran kertas buram itu tergelar di aspal atau paving. Huruf-huruf yang tercetak tak penting lagi. Paling diutamakan fungsinya sebagai penghalang dari yang kotor. Koran menemani manusia sujud, berserah diri kepada Tuhannya. Hari Raya Idu Ffitri membutuhkan koran.
Di luar peribadatan, koran bisa menjadi media komunikasi. Lembaran itu memungkinkan terciptanya percakapan antar manusia. Bentuknya yang berlembar-lembar dan bisa dipisahkan memungkinkan dibaca oleh tiga hingga lima orang dalam waktu bersamaan. Tak seperti buku dan gawai, koran sepertinya didesain tidak dalam motif individualisme.
Dalam dunia perfilman, koran menjadi properti yang juga penting. Fungsinya tak hanya sekadar pemberi informasi. Koran bisa menjadi alat spionase hingga pembunuhan. The Tourist (Florian Henckel, 2010) menggunakan koran sebagai benda untuk memata-matai Elise Clifton (Angelina Jolie). Irrational Man (Woody Allen, 2015) juga melibatkan koran sebagai pengalih perhatian dalam aksi pembunuhan.
Sejarah Indonesia juga lekat dengan koran. Arsip Nasional Republik Indonesia memamerkan koran di tangan pendiri bangsa. Mohammad Hatta terlihat memegang koran dengan kedua tangannya. Ia berdiri menatap koran dengan lekat di antara enam orang yang sedang mengantre di TPS Gedung Olahraga. Foto diambil pada tahun 1955. Koran bisa menjadi simbol identitas. Pembaca koran sering disandingkan dengan melek bacaan.
Koran hadir di banyak tempat dan peristiwa. Di ruang pendidikan, koran muncul pada sampul buku anak. Sampul itu bisa menandakan kondisi ekonomi dan kesulitan yang dihadapi keluarga. Siswa yang tidak sanggup membeli sampul bergambar atau berwarna mesti puas dengan wajah surat kabar.
Di dunia perdagangan, koran juga memiliki peran. Penjual makanan membutuhkan koran sebagai pembungkus. Ingatan pada sate, nasi uduk, pecel, dan gorengan sering melibatkan koran. Pedagang di pasar juga kerap menutupi makanannya dari debu dan kotoran dengan koran. Lembaran itu punya multiperan di tangan banyak orang.
Nasib Koran
Napas koran sudah terasa terengah-engah. Detak jantungnya makin melemah. Kita menduga hidupnya sudah mendekati ajal. Percepatan arus teknologi hingga perubahan cara hidup manusia menjadi faktor pendukung kematian koran.
Philip Meyer, profesor emeritus University of North Carolina, Amerika Serikat, melalui bukunya, The Vanishing Newspaper (2004), memperkirakan koran akan mati tahun 2043 atau sekitar 20 tahun ke depan. Sebelumnya, pada tahun 1990, Bill Gates juga sempat meramal bahwa koran akan berakhir pada tahun 2000, tetapi meleset. Keterangan itu tertuang dalam Kompas (27/3/2025).
Berita itu bukan kabar yang menyenangkan untuk diterima telinga. Kematian koran bukan hanya persoalan perubahan dalam memperoleh informasi tapi juga hilangnya berbagai cerita yang menyusun hidup. Meski teknologi menjanjikan kecepatan dan kemudahan, peran koran sepertinya sulit tergantikan.
Forbes (29/6/2017) menceritakan kisah Jim Moore, sosok yang gandrung pada koran. Ia mengungkapkan hubungannya dengan koran cetak. Moore membaca The Washington Post di tiga platform: cetak, telepon, dan desktop. Ia mengapresiasi kehadiran teknologi, tak bermaksud meninggalkannya. Namun, baginya, koran masih menjadi tempat berlindung utama. Koran cetak membuatnya merasa terhubung dengan editorial, kolumnis, reporter, obituari, komik, laporan pasar saham, dengan cara yang tidak bisa dilakukan elektronik.
Ia juga mengungkapkan lebih merasa nyaman saat menyentuh koran, membolak-balik dari satu bagian ke bagian lain dari sampul ke halaman berikutnya, hingga membengkokkan koran untuk memisahkan cerita yang menarik tanpa diliputi rasa gelisah dari iklan atau promosi daring.
Meski secara nyata koran punya multiperan yang strategis dalam hidup manusia, kabar tutupnya berbagai perusahaan media cetak di Indonesia tetap bertambah. Tempo (1/7/2023) mengabarkan beberapa nama yang memutuskan beralih ke digital hingga berhenti beroperasi: Koran Sindo, Harian Republika, Majalah Mombi, Tabloid Nova, Majalah Bobo Junior, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Indopos, Majalah Rolling Stone Indonesia, Surat Kabar Sinar Harapan, dan beberapa nama lain.
Mungkin permasalahan ini bisa kita sandingkan pada peristiwa di dunia pendidikan. Beberapa tahun terakhir, Finlandia memutuskan untuk mengembalikan proses pembelajaran ke arah konvensional. Negara itu kembali menggunakan buku cetak sebagai media pembelajaran setelah menggunakan teknologi dalam kelas, termasuk pemberian laptop gratis kepada siswa berusia 11 tahun ke atas.
Mereka meyakini penggunaan perangkat digital yang berlebihan berdampak buruk pada siswa. Beberapa dampak yang dirasakan meliputi penurunan fokus dan keinginan siswa untuk segera menyelesaikan tugas agar bisa kembali bermain gim atau berselancar di media sosial. Hal itu berbanding terbaik dengan cara tradisional, membaca dari buku cetak yang dirasa lebih meningkatkan fokus dan pemahaman materi.
Pada akhirnya, kemudahan yang dijanjikan teknologi tak selalu berbanding lurus dengan manfaatnya. Era digital adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari apalagi dikutuk. Namun, menghilangkan hal-hal yang selama ini telah memberikan banyak manfaat dalam hidup dengan dalih digitalisasi sepertinya bukan tindakan yang bijak.
Kecepatan tak selalu lebih baik dari proses yang lambat tapi memberi banyak makna pada hidup manusia. Begitulah yang terjadi pada nasib koran. Lebih lambat dari kecepatan media digital tapi jauh lebih besar dalam memberikan makna bagi kehidupan manusia
Editor: Kendi Setiawan
