Telisik Buku Tokoh NU “Berangkat dari Pesantren”: Palestina Ditulis 86 Kali

Telisik Buku Tokoh NU “Berangkat dari Pesantren”: Palestina Ditulis 86 Kali

KH Saifuddin Zuhri menuliskan perjalanan hidupnya pada buku Berangkat dari Pesantren. Mulanya buku tersebut diterbitkan Gunung Agung pada 1987. Sementara yang menjadi rujukan pada tulisan ini diterbitkan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Yayasan Saifuddin Zuhri pada 2022.

Pada buku setebal 780 halaman itu, Palestina disebut 86 kali. Sebagai perbandingan, Arab Saudi 10 kali. Mesir 43 kali. Amerika 58 kali. Inggris 35 kali. Indonesia 845 kali. Tentu saja, Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara mana pun karena latar waktu dan tempatnya di Indonesia. Dengan demikian, Palestina merupakan negara asing terbanyak yang disebut penulisnya. 

Untuk mengetahui dalam konteks apa saja Palestina disebut, pada tulisan ini akan merincinya. Pada halaman 183, Palestina disebut sekali dalam konteks Hoofd Parket (KejakasaanAgung) di Batavia mengeluarkan pelarangan doa Qunut Nazilah yang diinstruksikan oleh HBNO (PBNU) kepada cabang-cabang NU di seluruh Indonesia. Qunut Nazilah tersebut adalah upaya moral NU untuk mendoakan keselamatan para pejuang Palestina dalam menghadapi lnggris dan kaum Zionisme yang menghalang-halangi kemerdekaannya.

Pada halaman 196, Palestina disebut 2 kali. Pada halaman tersebut, KH Saifuddin Zuhri menceritakan rakyat Palestina sedang meningkatkan perjuangannya di bidang politik dan militer melawan lnggris dan Zionisme. Pada halaman tersebut, Haji Amin al-Huseini, pemimpin perjuangan rakyat Palestina sejak tahun 1937, diusir Inggris keluar dari tanah airnya.

Pada halaman 224, Palestina disebut 2 kali. KH Saifuddin Zuhri mengisahkan, “Suatu ketika aku datang lagi ke Purworejo untuk menghadiri rapat umum NU dalam peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw. Zaman itu, dalam lingkungan NU, setiap tanggal 27 Rajab disebut "Pekan Rajabiah" untuk tiga macam tujuan. Pertama: Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar. Kedua: Peringatan harlah (hari lahir) NU karena NU didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 atau 31 Januari 1926. Ketiga: Hari solidaritas Palestina, untuk meningkatkan dukungan moral dan material kaum Nahdliyyin/Nahdliyyat kepada perjuangan saudara-saudara mujahidin Palestina yang menghadapi penjajah lnggris dan kaum Zionis lnternasional (Israil).”

Pada halaman 422, Palestina disebut 4 kali. KH Saifuddin Zuhri mengakui secara terbuka tentang tepahlawanan yang diperlihatkan salah seorang pejuang Palestina masa itu, Mohammad Abdul Mun'im. Kekaguman itu memicunya untuk menulis buku tentang Palestina. Mulai dari halaman itulah, ia menceritakan isi buku tersebut. 

“Aku mulai mempelajari lebih tekun tentang perjuangan bangsa-bangsa Arab menghadapi kaum imperialisme lnggris dan Prancis, juga tentang cita-cita Palestina merdeka menghadapi kaum Zionisme. Kendati aku tengah berada dalam pergolakan kancah perjuangan politik dan militer, sambil berpindah dari satu tempat ke tempat lain di hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, aku merasa terpanggil untuk  membalas budi dan jasa saudara-saudaraku bangsa-bangsa Arab. Di mana mereka, dengan segala derita perih perjuangan berat dan panjang yang sedang dialami, dengan ancaman dunia internasional yang mungkin saja terjadi-karena melawan arus politik internasional, masih tergerak untuk memperlihatkan persaudaraan dan rasa sepenanggungan pada Indonesia,” tulisnya.  

KH Saifuddin Zuhri menambahkan, pada bulan Desember 1947, selesailah penulisan naskah buku Palestina dari zaman ke zaman yang kemudian diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang ketika itu telah hijrah dari Surabaya ke Pasuruan, dan karena gerakan militer Belanda, akhirnya hijrah buat kali kedua dari Pasuruan ke Madiun, bertempat di Jalan Dr. Sutomo 9 Madiun. 

Selanjutnya, Palestina disebut 71 kali mulai halaman 422 sampai 432. Sepuluh halaman tersebut KH Saifuddin Zuhri menyampaikan isi buku yang ditulisnya setebal 84 halaman dengan judul Palestina dari Zaman ke Zaman dicetak kembali oleh percetakan "Persatuan" Yogyakarta atas sponsor Haji Abubakar, pemimpin Perpustakaan Islam di Yogyakarta. Sementara pengantar bukunya ditulis seorang diplomat muda, Isma'il Banda M.A., duta besar Indonesia untuk Afghanistan, mantan pemimpin pergerakan Mahasiswa Indonesia di Cairo.

Pada halaman 423, Palestina disebut 5 kali. KH Saifuddin Zuhri menyampaikan: 

“Buku setebal 84 halaman tersebut kumulai dengan sejarah Palestina menjadi negeri Arab pada zaman Khalifah Umar bin Khattab (586-644 M). Sebuah negeri Arab yang telah berumur 13 abad, bilangan masa yang jauh lebih tua dibanding dengan Amerika sebagai negerinya bangsa-bangsa Amerika-Anglo, Amerika-Spanyol, Amerika-Portugis, Haiti dan lain-lain,” tulisnya. 

Palestina muncul lagi pada halaman 526 sebanyak sekali. Lalu pada 686 sekali. Pada halaman 688 sebanyak 3 kali. Pada halaman 689 sekali. Pada 690 disebut 2 kali. Pada 691 3 kali. Terakhir, pada di indeks yang terletak pada halaman 769 disebut 2 kali


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdullah Alawi
Kolomnis, Penulis buku “Pemuda Nahdoh: Sejarah Awal GP Ansor Jawa Barat 1934-1941”


Editor: Muhammad Zunus
logo