Kronik Kelahiran NU: Perjalanan Komite Hijaz Menemui Raja Saudi (bagian I)

Kronik Kelahiran NU: Perjalanan Komite Hijaz Menemui Raja Saudi (bagian I)

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) diawali dengan berkumpulnya para kiai pesantren Ahlussunah wal Jamaah di Surabaya pada 31 Januari 1926. Mereka semula berniat akan membentuk sebuah komite yang kemudian dinamakan Komite Hijaz. Komite tersebut bertujuan mengirimkan utusan untuk menemui penguasa Haramain (Makkah dan Madinah) pada masa itu, Raja Ibnu Saud. 

Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama menggambarkan pertemuan tersebut: 

Ketika beramai-ramai orang akan mengirim utusan, pun sebab kami merasa mempunyai hak turut merembuk hal-hal urusan agama yang berhubung dengan itu Tanah Suci, maka kami sekalian terpaksa mendirikan suatu comite, yang kami beri nama comite “Merembuk Hijaz”. 

Saat pertemuan itu, menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, tumbuh pertanyaan di antara para kiai yang hadir, siapa sebetulnya yang berhak mengirim delegasi itu? Atau dalam istilah lain, organisasi apa yang memberi mandat pada utusan Komite Hijaz tersebut? 

Karena pertanyaan tersebut, para kiai akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah perkumpulan yang kemudian bernama Nahdlatul Ulama, kebangkitan para cendekia. Nama tersebut diusulkan oleh salah seorang kiai yang hadir pada saat itu, KH Mas Alwi Abdul Aziz. 

Namun, sayangnya para penulis sejarah NU, termasuk di buku Choirul Anam tersebut, tidak menceritakan secara detail tentang perjalanan utusan Komite Hijaz tersebut ke Haramain. Beruntung para pendiri NU, KH Wahab Hasbullah mencatat peristiwa keberangkatannya sebagai utusan pada majalah Swara Nahdlatoel Oelama:  

Tanggal 7 Syawal 1346 H, bertepatan dengan Kamis, 29 Maret 1928, Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah menaiki kapal Mail Mark Plancius dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sebelum naik kapal itu, dia diiringi dan dilepas dengan penghormatan dari kaum muslimin yang jumlahnya tidak kurang dari 3.000 orang. Seminggu setelah itu, tepatnya pada Kamis 14 Syawal 1346, Ustaz Ghanaim Al-Amir, seorang mudir Madrasah Al-Mishriyah (Mesir)  menaiki kapal Mark Mail Shoretroop dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Keberangkatannya juga dilepas dengan penghormatan dari kaum muslimin yang tidak sedikit jumlahnya.  

KH Abdul Wahab Hasbullah dan Ustadz Ghanaim Al-Amir mengemban amanah menjadi utusan para ulama Jawa yang telah mendirikan perkumpulan bernama Nahdlatul Ulama titimangsa 31 Januari 1926. Keduanya membawa surat dari perkumpulan itu untuk disampaikan kepada Raja Arab Saudi.

Pada Senin, 11 Syawal, Kiai Abdul Wahab Hasbullah tiba di Pelabuhan Tanjung Pagar, Singapura. Kedatangannya disambut kaum muslimin Singapura. Dia kemudian dipertemukan dengan Syekh Ahmad Hakim di rumahnya Tuan Salim Mathar yang berada di Kampung Palembang Road.

Kemudian kedatangannya disambut pada sebuah pertemuan di Kampong Gilang Singapura. Pertemuan itu dipimpin Tuan Fadhlullah Suhaimi, Direktur Mathba’ah Al-‘Ashas dan redaktur majalah Jasa di Johor serta Imam Masjid Jami Kampung Jawa Singapura. Hadir pula Tuan Encik Mas’ud, Inspektur Madaris Al-islamiyyah dan Advisor Raad (dewan penasihat) Agama Islam di Tanah Johor. Seluruh jamuan pada pertemuan itu sungguh tiada kurang suatu apa pun. Lanjutan cerita pada pertemuan itu adalah sebagai berikut: 

Setelah ramah-tamah saling berkenal nama antara utusan beserta sekretarisnya yakni saudara Abdul Mujib (Al-kātib Al-Awwal Lijamiyyah Syubbanul Wathan Surabaya) dengan peserta yang hadir, kemudian Kiai Abdul Wahab berdiri dan menyampaikan salam ta’zhim dari kaum muslimin Surabaya khusunya a’dlāu (anggota) Jamiyyah Nahdlatul Ulama dan seluruh jamiyyah yang memiliki landasan dan tujuan yang sama yakni ahlul mutamadzhibīn bi ahadil madzāhibil arba’ah. Kemudian Kiai Abdul Wahab menerangkan tentang asas-asas Jamiyyah Nahdlatul Ulama dan sebagainya.  

Menurut Swara Nahdlatoel Oelama, Kiai Abdul Wahab kemudian menjelaskan bahwa Jamiyyah Nahdlatul Ulama tengah mengutus dirinya bersama Ustaz Ahmad Ghonaim Al-Amir yang saat itu sedang dalam perjalanan menunju Singapura, untuk menghadap Raja Makkah.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdullah Alawi
Kolomnis, Penulis buku “Pemuda Nahdoh: Sejarah Awal GP Ansor Jawa Barat 1934-1941”


Editor: Muhammad Zunus
logo