45 Menit: Sepakbola dan Puisi

45 Menit: Sepakbola dan Puisi

Prabowo Subianto itu beruntung. Ia memiliki 45 menit untuk membuat jutaan orang Indonesia iri. Presiden Indonesia bertemu dan bercakap bareng Zinedine Zidane di negeri asing, 23 Januari 2026. Pertemuan memang mustahil terjadi di Indonesia. Prabowo Subianto memiliki acara-acara besar di pelbagai negara asing. Jeda dari acara-acara formal, ia berhasil duduk bersama Zidane di depan sorotan kamera.

Dua tokoh dalam penampilan berbeda. Di hadapan kamera, publik ikut melihat percakapan. Sepakbola membuat mereka mampu memberi kata-kata dan mendengar. Prabowo Subianto mengatakan rencana-rencana besar, tak sungkan meminta saran Zidane. Kita justru sulit mengetahui omongan-omongan Zidane. Pihak paling berkepentingan tentu Prabowo Subianto. Peristiwa 45 menit bisa dijadikan rujukan saat nanti memberi perintah bertema sepakbola di Indonesia. 

Sekian hari lalu, Prabowo pergi ke Eropa bukan bermisi sepak bola. Berita mengenai 45 menit itu imbuhan meski sempat membuat orang-orang terkejut. Di sana, Prabowo Subianto tangguh berpidato dengan memberi kabar capaian-capaian besar di Indonesia. Ia belum perlu mengabarkan sepakbola di Indonesia moncer. Kita menduga sepak bola masih tema “meragukan” bila dipamerkan di dunia. Indonesia gagal mengikuti Piala Dunia 2026. Gagal dijadikan dalil bagi Prabowo minta nasihat Zidane meski legenda Prancis itu bukan pengamat sepakbola di Indonesia atau Asia.

Kita cuma mendapat sedikit “kutipan” dari peristiwa 45 menit. Berimajinasi jumlah kata selama percakapan mereka tak membantu kita mengerti sepakbola. Mereka di depan kamera, menampilkan gerak dan wajah saling menghormati. Berita telah tersiar tapi kita memilih berpikiran sumber-sumber berbeda agar masih bisa berimajinasi sepakbola.

Berita singkat belum tentu berdampak. Kita berganti membaca esai saja dalam majalah Matra edisi Juli 1993. Esai pendek bisa dibaca selesai cuma 7 menit. Di situ, ada esai buatan Seno Gumira Ajidarma berjudul “Sepakbola: Kerepotan yang Indah.”  Penulis cerita pendek dan novel itu mengingatkan: “Sepakbola adalah suatu cara untuk melanjutkan tradisi besar para pemain masa lalu – suatu cara pencapaian keindahan, sebagai suatu pencapaian budaya. Maka, membangun persepakbolaan yang jaya adalah soal membangun tradisi dengan jiwa yang bergelora.” 

Kalimat itu dibuat setelah ia membaca buku-buku berbahasa Inggris dan menghormati para pemain asing dalam taraf dunia. Seno Gumira Ajidarma sadar bakal sulit membahasa sepakbola Indonesia atau memuliakan tokoh-tokoh dalam sejarah dan perkembangan sepakbola di Indonesia. Kita diajak menginsafi sepakbola itu “asing” meski diakrabi jutaan orang di Indonesia terbiasa memainkan di jalan, lapangan, pekarangan, dan lahan kosong. 

Sepakbola tidak selalu tontonan di lapangan. Kita bukan sekadar penonton pertandingan sepakbola di Inggris, Jerman, Spanyol, dan Itali melalui siaran (langsung) di televisi. Sepakbola tak selesai dalam debat dan gurauan di media sosial. Sepakbola pun bukan 45 menit pertemuan di negara asing. Pada misi berbeda, sepakbola itu bacaan. Kita malah dibujuk untuk menghormati sepakbola itu puisi.

Kita jangan membaca puisi-puisi masa lalu. Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, JE Tatengkeng, dan Chairil Anwar bukan penggubah puisi-puisi tentang sepakbola. Mereka memiliki tema-tema sesuai situasi zaman. Pada masa kolonial dan geliat revolusi, mereka belum sempat memberi perhatian dan pemuliaan dengan menaruh sepakbola dalam puisi. Kita telat dalam “persekutuan” sepakbola dan puisi.

Di Indonesia, kita bisa menikmati puisi-puisi gubahan Hasan Aspahani. Ia menulis seri puisi sepakbola walau tak pernah mendapat undangan membacakan puisi saat tim nasional Indonesia bertanding di stadion (Jakarta). Penggubah puisi itu belum pernah diundang di studio agar bersaing omongan dengan para komentator biasa memberi ulasan-ulasan klise. Kita tetap beruntung mendapatkan sepakbola itu puisi. Sepakbola di lembaran kertas, tak selalu di lapangan atau stadion.

Di buku berjudul Telimpuh (2009), kita menemukan puisi berjudul “Dengan Demikian Sebuah Epitaf Telah Dituliskan.” Pembaca terjebak sedih gara-gara sepakbola. Puisi menguak kecamuk perasaan dalam sepakbola. Kita membaca tanpa teriak dan gemuruh tepuk tangan: Sehabis pertandingan final yang tak bisa ia lupakan skornya/ ia mampir di kedai tukang sablon, “Tolong, ganti segera/ nama dan nomor punggung kaos lecek-lecek ini,” katanya.// Si tukang sablon tua memandang kaos bernomor 10 itu, lalu/ tiba-tiba disergap kenang dan bayang, matanya pun tergenang.// “Maaf, kaosmu hanya perlu dicuci. Kebetulan aku kehabisan/ stok huruf dan angka,” katanya, mengemas rapi lagi kaos/ lecek-lecek itu. Penyerang itu diserang kesebelasan tanya, lebih/ berat dari tim yang baru saja hidup dan mati ditarunginya. Sejak mula, puisi itu kesedihan dan kekecewaan.  

Kita jangan berharap puisi disajikan kepada Prabowo Subianto. Puisi bisa bikin sedih. Prabowo Subianto setelah peristiwa 45 menit ingin sepakbola di Indoneisa maju. Ia berhak memberi perintah agar setiap sekolah baru mengadakan lapangan. Murid-murid memiliki kesempatan bermain sepakbola. Sekolah dan lapangan sudah direncanakan bakal mengubah lakon sepakbola Indonesia. Presiden belum kepikiran puisi berguna dalam pemajuan sepakbola. 

Tokoh dalam puisi gubahan Hasan Aspahani gampang membuat pembaca terharu. Kita mengerti nomor punggung 10 milik para pemain ampuh. Kalah dan menang bagi pemain bernomor 10 itu lazim membawa duka panjang atau girang. Sepakbola tak selalu menjanjikan menang. Derita dan malu bisa ditanggungkan pemain nomor 10. Kalah dengan tatapan jutaan pasang mata di stadion dan siaran televisi memberi penghukuman mirip cicilan neraka. Pembaca sedikit ikut tertekan: “Penyerang itu diserang kesebelasan tanya.” 

Kita mengingat nama pemilik nomor punggung 10: Pele, Maradona, Messi, Zidane, Messi, dan lain-lain. Kini, mata dunia sedang mengikuti lakon Mbappe sebagai pemilik nomor punggung 10 di Real Madrid. Sejak dulu sampai sekarang, 10 itu keramat dalam sepakbola. Di puisi, kita justru membaca pemain bernomor 10 ditimpa derita berat. Ia merana tanpa jawaban. Hasan Aspahani malam menambahi bobot penderitaan: Ia tak lagi punya pilihan, selain berlari kembali ke lapangan/ Sambil menghayati luka di kaki, dan duka di hati, ia bertemu/ wasit tua yang tak pernah berhenti menyempritkan peluit, “Hei, belum sampai waktumu. Jangan kembali ke lapangan itu/ Tak aka nada yang merayumu,” katanya sambil terus meraba/ sesuatu yang berwarna merah di saku baju/ sebuah kartu. Pembaca turut berduka tanpa ujung. 

Kita mendingan tak mengajukan puisi gubahan Hasan Aspahani sebagai bacaan Prabowo Subianto. Puisi dapat melemahkan gairah. Presiden sudah telanjur bertemu selama 45 menit bareng pemain bernomor punggung 10 (Zidane). Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo