Pada setiap zaman, suasana dan pemaknaan berlebaran memiliki perbedaan. Di buku merekam masa lalu berjudul Sepanjang Jalan Kenangan (1988), Muharyo mengingat suasana masa 1930-an berlatar Jawa. Ia mengingat masa lalu itu “serba indah” sebagai bocah atau remaja. Pada saat tua, ia makin merasakan keindahan silam bila dibandingkan berlebaran masa Orde Baru.
Muharyo mengenang: “Apalagi kalau saya ingat hari-hari sekitar lebaran. Romo dan ibu pada saat-saat itu rasannya begitu riang. Dan lagi, saudara-saudara, sepupu-sepupu, mindoan-mindoan, om-om pada datang semuanya di kabupaten. Kita kumpul seluruh keluarga besar berlebaran bersama, sungkeman kepada eyang yang kebetulan memang lungguh (tinggal) di kabupaten bersama kami. Bahkan, teman-teman saya dari ELS dan HBS pada datang juga…”
Masa lalu memiliki kedamaian dan kerukunan. Kita mengingat sosok-sosok muda masa 1930-an bertumbuh dalam pendidikan modern (Barat). Mereka belajar dan bergaul dalam beragam bahasa: Jawa, Melayu, Belanda, Arab, Inggris, dan lain-lain. Biografi dibentuk dalam pergolakan dan persaingan bahasa-bahasa.
Pada saat berlebaran, mereka mungkin ragu menentukan bahasa dalam keluarga atau memberi penghormatan untuk kaum tua. Mereka memang mudik ke tanah asal tapi belum tentu sanggup “mudik” ke “bahasa asal”. Zaman “”kemadjoean” membuat mereka terpikat bahasa-bahasa Barat dan mengerti arus pembentukan bahasa Indonesia setelah peristiwa 1928. Mereka masih mungkin berbahasa Jawa tapi mudah bimbang dan “salah”.
Sungkeman di Jawa menggunakan gerak raga khas Jawa dan pengucapan bahasa “tertib” demi kesopanan. Kita terbiasa mengingat kata-kata dalam bahasa Jawa tak mudah terucap. Pada situasi hidup dan rancu bahasa abad XXI, sungkeman dengan raga itu mudah tapi sulit dalam bahasa Jawa.
Pada deretan kata awal mungkin mudah terucap: "Ngaturaken…". Tatanan kata dianggap pantas: "Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan"… Muharyo mengisahkan orang-orang dalam kancah pengaruh bahasa-bahasa masa 1930-an dalam berlebaran. Di buku, ia biasa mencampur bahasa Indonesia, Jawa, Belanda, dan lain-lain. Tulisan sebagai rekaman zaman, mengingat “mudik bahasa” memang tak gampang.
Lies Marcoes (2013) turut mengenang berlebaran dan bahasa. Ia bertumbuh dalam adab Jawa meski mengenal perubahan-perubahan besar di Indonesia. Usaha mengingat peristiwa tapi sulit dalam ketepatan bahasa: “Pada hari pertama Idul Fitri, semua anggota keluarga berkumpul. Secara bergantian kami datang menghadap bapak dan ibu untuk meminta maaf. Ucapan maaf itu dilafalkan dengan menggunakan bahasa Jawa kira-kira artinya: ‘Saya sampaikan semua kesalahan saya, semoga dimaafkan.’ Lalu, bapak dan ibu akan menyampaikan pernyataan bahwa maaf itu diterima, sebaliknya mereka minta maaf.”
Kita makin mengerti jika mudik tak sekadar pulang dari kota ke desa atau bergerak dari alamat berbeda kembali ke rumah atau tanah asal. Di situ, ada masalah bahasa. Di kota, kebiasaan dalam keseharian, belajar, dan bekerja dalam bahasa Indonesia bakal memberi kesulitan saat mudik dan berlebaran “mengharuskan” berbahasa Jawa.
***
Kita tinggalkan dulu masalah kenangan-kenangan mudik dan berlebaran dari dua tokoh. Di hadapan kita, tersaji puisi mengenai mudik tapi bukan cuma masalah macet, duit, atau rindu. Ook Nugroho (2009) menggubah puisi berjudul “Dongeng Mudik 1”. Puisi cukup “menghibur” dan “mengejek” kita melulu berpikiran busana, makanan, dan pelesiran mumpung berlebaran bersama keluarga di tanah asal.
Ia menulis: "Jika kata-kata ini dibolehkan mudik/ Ke mana kiranya mereka bakal mudik?// Kukira mereka akan kembali/ Ke mula bahasa, ke pangkal bunyi. Kita mengerti saat berlebaran bersama itu ramai atau berisik. Ratusan atau ribuan kata terucap oleh orang-orang minta diperhatikan dan ditanggapi. Lebaran itu keramaian kata dalam beragam bahasa. Kita mengetahui repetisi dan klise. Jenuh dan gagal dalam pikat bahasa menimbulkan kelelahan saat berlebaran bersama. Mulut dianjurkan terus berucap “maaf” ditambah deretan kata demi akrab dan sopan. Telinga mungkin mendengar itu basi tapi sulit mengelak. Kita berpikiran kata tanpa gairah untuk serius. Kita teringat mudik dan bahasa saat kesulitan mencipta keselarasan. Berlebaran memerlukan kata-kata meski menimbulkan bosan dan capek."
Di puisi berjudul “Dongeng Mudik 2”, kita agak dientengkan dalam berimajinasi oleh Ook Nugroho. Perbandingan tempat dan suasana. Ia mengisahkan: "Sesudah ditinggal/ Mudik kata-kata/ Kota kami jadi lebih/ Sunyi dan aneh rasanya. Kota-kota besar menjadi sepi ditinggalkan orang-orang dan kata-kata dalam peristiwa mudik."
Ook tak ingin melulu mengisahkan orang. Ia memilih mengajak pembaca memikirkan kata atau bahasa. Pada bait berbeda, ia mengungkapkan: "Tinggal hanya beberapa/ Tanda baca berjaga/ Setia di persimpangan/ Bersama waktu sepertinya// Mereka sedikit kesepian/ Sejumlah tanda seru/ Gagal menghidupkan/ Kota ini agaknya memilih. Kita dibuat terkejut kota (sepi) ditinggal mudik kata-kata. Keramaian (kata) justru tercipta di desa atau tanah asal."
Pada suatu masa, berlebaran dengan keluarga besar ditandai kaleng Khong Guan di atas meja. Mereka berkumpul menghadirkan kerumitan berbahasa antara kaum tua dan kaum muda. Bahasa (warisan) tak sanggup lagi terucap dan dimengerti bocah dan remaja saat sungkeman atau berbagi cerita. Gagal atau salah tingkah diatasi dengan makan Khong Guan.
Di hadapan kaleng dan rebutan isi, mereka mungkin lekas terhubung sekian kata dan tawa. Berlebaran dengan kata-kata dalam bahasa Jawa itu sulit mendingan menikmati Khong Guan agar tetap bersama dan terhindar salah-salah besar.
Mudik bisa berarti “pulang” atau “kembali” ke Khong Guan. Mudik ke roti kondang dan biasa jadi rebutan itu malah mengingatkan kata. Kita membaca puisi berjudul “Sabda Khong Guan” gubahan Joko Pinurbo (2019). Petikan cukup mengingatkan bagi orang-orang di hadapan kaleng tetap harus memikirkan diri dan kata. Joko Pinurbo menulis: “Tak ada lagi/ yang bisa/ dikatakan kata/ ketika kata/ telah terisi benci dan prasangka.” Pada saat berlebaran bersama keluarga besar, “maaf” itu kata terpenting. Permintaan maaf dan pemberian maaf bisa “menghilangkan” benci dan sengketa.
Anggapan itu mudah salah saat kita mengetahui kemampuan berbahasa di zaman bergawai makin menurun kadar sopan dan memicu keberingasan kata untuk saling menghancurkan atau melukai. Kini, kita agak mengerti bila berlebaran bersama keluarga besar di tanah asal menimbulkan “mudik ke kata” dengan beragam sulit dan klise. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Faizin
