Bonum Commune dan Tongkonan, Falsafah Moderasi Beragama Masyarakat Lembang Uluway Tana Toraja

Bonum Commune dan Tongkonan, Falsafah Moderasi Beragama Masyarakat Lembang Uluway Tana Toraja

Nilai-nilai yang tersimpan, mengakar, tumbuh dan berkembang di masyarakat dapat memperkuat rasa toleransi dan moderasi beragama. Nilai-nilai tersebut juga menjadi ‘fondasi’ dan arah dalam pergaulan dan perikehidupan mereka.

Seperti masyarakat Lembang Uluway di Tana Toraja dengan nilai-nilai dari ikatan darah (Gemeinschaft by blood) membuat mereka terikat satu sama lain. Akibatnya, masyarakat yang sebagian besar memiliki ikatan keluarga sekalipun memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, tetap bersatu. Berbagai perbedaan agama, suku, budaya, dan lain sebagainya tidak menghalangi mereka untuk bekerjasama dan hidup rukun dalam kehidupan sehari-hari. 

Artikel hasil penelitian berjudul Mengarungi Kebhinekaan: Bonum Commune sebagai Perekat Harmoni Umat Beragama di Lembang Uluway, Mangkedek menegaskan hal itu. Artikel yang telah dimuat di Jurnal Mimikri: Vol. 9, No. 2 November 2023 itu ditulis para mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Nusantara Moderasi Beragama (KKN Nusantara MB) tahun 2023. Mereka adalah Fajar Dwi Noviantoro (UIN Sunan Kalijaga Yoghakarta), Siti Zahra (UIN Datokarama Palu), Fathin Nadia (STAIN Meulaboh Aceh), Rofiqa Zulfa Salsabila (UIN Antasari Banjarmasin), Katarina (IAIN Pare-Pare), dan Nini Safitri (IAIN Kendari).

Para peneliti menyebutkan ikatan darah menjadi alasan terkuat dalam menekan rasa ego masyarakat Uluway, sebab mereka lebih mementingkan kekeluargaan dibandingkan kepentingan pribadi. 

"Bahkan, masyarakat Lembang Uluway tidak mengelompokkan dan membedakan masyarakat berdasarkan agama mereka. Agama di lembang ini tidak dipandang sebagai alasan untuk mengotak-ngotakkan masyarakat, melainkan merupakan urusan seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga setiap orang berhak diperlakukan secara sama tanpa harus memandang perbedaan. Ikatan keluarga dipandang sebagai sesuatu yang penting untuk dijaga, sehingga mereka dapat saling bahu membahu tanpa memandang latar belakang agama,” tulis para peneliti.

Falsafah Abadi
Disebutkan juga bahwa masyarakat Tana Toraja secara turun temurun mewarisi suatu semboyan yang mengandung filosofi tersendiri bagi mereka. Falsafah ini berbunyi Misa’ Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate. Secara sederhana, semboyan ini berarti bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Falsafah tersebut disebut sebagai falsafah abadi yang akan selalu mempersatukan masyarakat Toraja, sebab nilai-nilainya telah diimplementasikan oleh setiap generasi untuk menjaga persatuan itu sendiri. Falsafah ini senantiasa diimplementasikan oleh masyarakat Tana Toraja dengan menyadari bahwa perbedaan adalah anugerah yang harus dijaga dengan persatuan yang kuat. 

Mengutip Michael, Pongtiangin, dan Arnoltus (2022:508), peneliti mengungkapkan banyaknya perbedaan, khususnya pada aluk atau aturan-aturan hidup bersama, membuat masyarakat menyadari bahwa falsafah abadi adalah harga mati untuk menjaga persatuan. Oleh sebab itu, falsafah abadi merupakan warisan aturan hidup yang menjaga persatuan masyarakat Tana Toraja. 

Hasil penelitian juga mengungkapkan falsafah abadi berkaitan erat dengan moderasi beragama. Nilai-nilai pada falsafah abadi dinilai relevan dengan pilar moderasi beragama yang dikemukakan oleh Quraish Shihab. Mengutip Toha dan Muna (2022: 23), pilar tersebut adalah keadilan, keseimbangan, dan toleransi.

Falsafah Misa’ Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate menjadikan keadilan sebagai tolok ukur yang sangat penting untuk menciptakan persatuan di kalangan masyarakat. Hal itu disebabkan ketidakadilan dalam masyarakat dapat menimbulkan ketimpangan yang berlanjut pada terciptanya konflik. Ini sejalan dengan bonum commune yang mengedepankan kebaikan bagi semua orang sehingga dapat tercipta keadilan sosial bagi siapa pun. 

Para peneliti juga menemukan bahwa nilai-nilai keadilan di Lembang Uluway dapat dilihat implementasinya pada pemberian hak yang sama kepada setiap masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, kepercayaan, serta perbedaan lainnya. 

“Masyarakat diberikan hak dan kesempatan yang sama, seperti halnya pada pengecekan kesehatan masyarakat di Lembang Uluway. Meskipun kegiatan ini dilaksanakan di dalam gereja, berbagai masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda tetap mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan kesehatannya kepada tenaga kesehatan yang datang. Kemudian pada kesempatan lainnya dalam tradisi turun sawah yang dilakukan secara khusus di Lembang Uluway, seluruh masyarakat mendapatkan fasilitas traktor yang sama banyaknya untuk menggarap sawah,” tulis peneliti. 

Keseimbangan Ibadah Agama dan Sosial
Di samping itu, Bonum Commune dalam masyarakat Lembang Uluway juga diwujudkan melalui nilai keseimbangan. Masyarakat Uluway mengedepankan keseimbangan ibadah agama dan ibadah sosial. Maksudnya adalah mereka beribadah sesuai ajaran tiap-tiap agama yang mereka anut, tetapi tetap saling menolong dalam kehidupan sosial. 

"Falsafah abadi mengajarkan mereka bahwa persatuan harus senantiasa dijunjung tinggi, sehingga tercipta rasa hubungan persaudaraan yang dapat mendorong sikap tolong-menolong. Inilah yang menyebabkan masyarakat Tana Toraja dapat bersatu, meskipun dengan berbagai macam perbedaan," lanjut para peneliti dalam artikel tersebut.

Tongkonan dan Filosofi Penyelesaian Masalah
Salah satu warisan budaya yang juga dapat dilihat di Tana Toraja adalah rumah adatnya yang dikenal dengan nama Tongkonan. Kehidupan masyarakatnya sangat terikat dengan Tongkonan. Tongkonan ini memiliki asal kata tongkon, yang memiliki arti duduk. 

Tongkonan dapat diartikan sebagai tempat duduk, rumah, tempat keluarga besar bertemu melaksanakan ritus adat secara bersama baik pada ritual Rambu Tuka’ maupun Aluk Rambu Solo’. Tongkonan biasanya difungsikan sebagai tempat membicarakan atau menyelenggarakan urusan adat. Rumah adat masyarakat Toraja ini bukan sekedar rumah keluarga besar, tetapi juga sebagai tempat yang digunakan untuk memelihara persekutuan kaum kerabat. Tongkonan memiliki beragam fungsi, baik fungsi sosial maupun budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. 

Tongkonan pada awalnya difungsikan sebagai pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus untuk pengembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Tongkonan memiliki ukiran yang beragam, dimana ukiran ukirannya melukiskan simbol-simbol dari benda dan makhluk di kehidupan manusia. 

Berbagai ukiran tersebut memiliki pesan dan makna masing-masing. Pesan-pesan tersebut juga digunakan sebagai simbol status sosial masyarakat Toraja yang merupakan falsafah hidup orang Toraja sendiri. Pusat sosial dan kegiatan religius pada kelompok keluarga masyarakat Toraja terletak pada Tongkonan.

Tongkonan mengikat masyarakat berdasarkan ikatan keluarga yang turun temurun membentuk kelompok keluarga besar (pa’rapuan) dan kelompok keluarga kecil (rapu’). Kelompok-kelompok ini biasanya dikumpulkan dalam upacara upacara khusus yang dilakukan oleh masyarakat Toraja. 

Tongkonan juga dijadikan sebagai sumber rujukan dan penyelesaian masalah bagi keluarga dan masyarakat sekitar dalam kehidupan sehari hari. Informasi yang berkaitan dengan masalah sosial, budaya, serta persoalan keagamaan dapat diperoleh di Tongkonan. Segala konflik dan perselisihan juga dapat diselesaikan di bangunan ini. Filosofi peletakan tangga masuk Tongkonan yang berada di sisi kiri menunjukkan relevansi penggunaan Tongkonan untuk penyelesaian masalah. 

Peneliti menyebutkan juga bahwa masyarakat dengan berbagai pertanyaan dan permasalahannya memasuki Tongkonan dari sisi bagian kiri. Masyarakat yang memasuki Tongkonan dapat bertemu dengan pimpinan tongkonan yang dapat ditanyai perihal permasalahan yang mereka hadapi. Apabila terjadi perselisihan, pihak pihak yang berselisih dapat menyelesaikan perselisihan mereka tersebut dengan berdiskusi di dalam tongkonan. Ketika jawaban dan penyelesaian masalah telah ditemukan, maka masyarakat tersebut dapat keluar dari sisi kanan.

Oleh karena itu, Tongkonan digunakan sebagai tempat penyelesaian masalah, sebab orang yang memasukinya dengan berbagai masalah, begitu keluar dapat menemukan solusinya. Dengan kata lain, Tongkonan juga dapat difungsikan sebagai tempat yang dapat mempersatukan seluruh anggota keluarga.

Kendi Setiawan


Editor: Kendi Setiawan
logo