Mencecap Suasana Keberagaman di Kepulauan Banda

Mencecap Suasana Keberagaman di Kepulauan Banda

Memandang gunung, laut, dan bentangan alam yang terhampar di jagat raya niscaya selalu menggetarkan hati. Rasanya seperti langsung berhadapan dengan Yang Mahaesa, lalu serta-merta membayangkan bagaimana tangan Tuhan menciptakan gunung gagah itu, juga laut tenang itu. Gunung gagah yang mampu memuntahkan lahar dan laut tenang yang mendadak bisa melahap seluruh kota.  Getaran itu menjadi ganda ketika saya menyambangi Kepulauan Banda, Maluku Tengah. 

Betapa indah sekaligus penuh misteri melihat gunung api berhadap-hadapan dengan laut. Gunung Api Banda yang berada di hadapan saya itu terakhir meletus pada tanggal 8 Mei 1988 dan tetap tenang hingga sekarang. Ahli geologi Belanda, Rogier Verbeek, menjuluki gunung yang pernah mengalami erupsi pada tahun 1586, 1579, 1609, 1615, 1683, dan 1690 itu sebagai Etna van Indonesia, karena sama dengan karakter letusan Gunung Etna di Italia, yakni berupa semburan bara api susul menyusul.

Saya melancong ke Kepulauan Banda beberapa waktu lalu untuk menjalani sebagian laku hidup slow living, sambil mencari inspirasi. Orang-orang biasa menyebutnya wisata sejarah. Sebelum berangkat, saya telah membekali diri dengan sejumlah informasi dari berbagai sumber, bahwa di Pulau Banda atau Banda Neira terdapat 24 situs arkeologi dan 7 di antaranya telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Di Pulau Lonthor telah ditemukan 11 situs arkeologi. Pulau-pulau kecil lain juga merekam  kisah-kisah sejarah.

Pulau-pulau yang ada di Kepulauan Banda meliputi Pulau Banda/Banda Neira, Banda Api, Lonthor, Run, Hatta, Sjahrir, Pulau Ai, Pulau Pisang, dan Pulau Karaba. Terdapat pula sejumlah pulau karang yang tidak berpenghuni yakni Pulau Suanggi, Nailaka, dan Batukapal. 

Di antara peninggalan-peninggalan bersejarah di sana, adalah Benteng Belgica (dibangun tahun 1611), Benteng Nassau (1607), Benteng Hollandia (1624), Benteng Revengie (1616), Benteng Concordia (1630), Istana Mini (1683), dan Gereja Hollandische Kerk atau Gereja Tua Neira (1611). 

Benteng Belgica yang terletak 30 meter di atas permukaan laut di Pulau Neira dibangun untuk mengoreksi kekeliruan dalam Pembangunan Benteng Nassau yang berada di pinggir pantai yang dengan mudah diserang musuh. Adapun Benteng Hollandia yang terletak 100 meter di atas permukaan laut itu berada di Pulau Lonthor dan digunakan sebagai tempat pemantauan aktivitas rakyat Banda dan lalu-lintas perairan di sekitar pulau. Pada tahun 1743 benteng itu rusak berat akibat gempa bumi dan dibangun kembali pada 1796 oleh Francois van Boeckholtz. 

Terdapat rumah-rumah pengasingan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yakni Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Hatta dan Sjahrir tiba di Banda pada 11 Februari 1936 dan tinggal di rumah Cipto Mangunkusumo sebelum pindah ke rumah masing-masing yang berdampingan, sepekan kemudian. Rumah Hatta yang pernah dipugar pada tahun 1980—1983 cukup besar, 441 meter persegi di atas tanah seluas 1000 meter persegi. 

Bung Hatta memang spesial di Banda. Tentu saja. Bahkan Pulau Rosengain diubah namanya menjadi Pulau Hatta sebagai penghormatan atas jasanya mengajar dan menjadi guru bagi warga Banda Neira selama proklamator tersebut menjalani pengasingan.

Setelah mengunjungi benteng-benteng dan situs bersejarah, saya mulai mengulik soal kehidupan sosial--budaya warganya, mengenai bagaimana warga Banda memaknai plurarisme secara sederhana. Rasa ingin tahu yang wajar mengingat sejumlah “perang etnik” di masa lalu dan sejarah penyebaran agama Islam dan Kristen yang menorehkan banyak kisah. Tentu saja saya yakin tingkat toleransi di Banda sangat tingggi mengingat kemajemukan di sana sudah terjadi sejak kedatangan Belanda pada awal abad ke-17.

Pada tahun 1621, terjadi perang besar di Kepulauan Banda (pelayaran Hongi). Penduduk asli yang tidak mau tunduk pada kemauan Belanda terpaksa pindah atau mengungsi ke pulau-pulau lain. Belanda yang membutuhkan banyak tenaga untuk mengelola perkebunan pala, kemudian mendatangkan tenaga dari berbagai daerah, antara lain dari Pulau Jawa, Papua, dan Sulawesi, termasuk Buton. 

Sebelum itu, di Kepulauan Banda sudah tinggal berbagai bangsa lain, seperti Portugis, Cina, Arab, Filipina, Arab, Mozambik, Persia, dan Koromandel. Dalam waktu yang panjang, berbagai suku dan golongan ras itu berbaur. Kini, masyarakat Banda sangat majemuk. Ada campuran Jawa dan Buton, Sulawesi dan Arab, Jawa dan Portugis, dan masih banyak lagi (Suhardi dan Djoko M.R dalam Kepulauan Banda dan Masyarakatnya, 2000).

Masjid Salamon 

Saya dan beberapa teman sampai di Masjid Salamon menjelang dzuhur. Masjid Salamon berada di Pulau Lonthor atau Lonthoir atau Banda Besar, pulau terbesar di Kepulauan Banda. Kami sampai di Masjid Salamon dalam keadaan basah kuyup setelah snorkeling di Pulau Hatta. Kami salat dzuhur dan asar dijamak taqdim, sekaligus bersih-bersih wajah, kepala, tangan, lutut-kaki lutut-kaki. Tujuan lain yang tidak kalah syahdu adalah melihat dari dekat masjid bersejarah yang sebagian besar telah luluh lantak sebelum dibangun kembali pada tahun 2012. 

“Masjid di tempat ini pertama dibangun tanggal 23 Februari 1557 oleh Imam Abdurrahman bin Bara. Beliau adalah imam generasi ketiga dari keturunan Imam Bara yang menjadi imam pertama Masjid Nagri Salamon yang merupakan masjid tertua di Banda Neira”.

Tulisan itu ditempel di dinding masjid, dicetak di atas baru marmer. Di atasnya tertulis Masjid Besar Adat Nagri Salamon. “Bismillahirrahmanirrahim dengan mengucapkan syukur pada Allah Swt Masjid Salamon diresmikan pada tanggal 15 April 2012 oleh Raja Nagri Salamon, Taha Harun”.

Marbot masjid mengatakan, Masjid Salomon tidak hanya menjadi simbol keberadaan umat muslim di pulau, namun benar-benar menjadi tempat berkumpul warga untuk berbagai hajatan. “Tidak hanya untuk sembahyang tapi juga untuk pengajian dan kumpul-kumpul di terasnya pada waktu-waktu tertentu,” katanya.

Catatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tengah 2017 menyebutkan, pemeluk Islam di Kecamatan Banda berjumlah 20.801 orang, Protestan 105 orang, Katolik 17 orang, Hindu 4 orang, Budha 6 orang, dan Konghuchu 20 orang. 

Menurut Harun, warga Pulau Run, meski jumlah pemeluk agama Kristen, Katolik, dan Hindu sangat sedikit dibanding pemeluk Islam, kehidupan berjalan harmonis. Tidak ada perlakukan intoleran. 

“Saat terjadi kerusuhan etnik dan agama di Ambon dan Halmahera tahun 1999, warga Kepulauan Banda tetap tenang. Banyak yang mengungsi ke Banda namun kami saling melindungi,” kata Harun, yang membuka usaha warung dan penginapan kecil-kecilan. 

Namun menurut warga Pulau Lonthor, Pongky van den Broeke (generasi ke-13 dari Pieter van den Broeke yang datang ke Banda tahun 1612), keluarganya dibantai saat kerusuhan Ambon. “Kondisinya sangat mengerikan waktu itu, tapi syukurlah sejak itu tidak pernah terjadi lagi,” kata Pongky yang masih mengingat dengan detail peristiwa kerusuhan itu.  

Pulau Lonthoir kini tenang. Pulau seluas 26,37 km² itu juga masih menyimpan kekayaan rempah. Meski Pulau Lonthor adalah pulau terluas di antara pulau-pulau lain di Kepulauan Banda, penduduknya tidak sebanyak penduduk Pulau Banda. 

Tanpa harus membuka catatan statistik, hal itu tampak nyata. Setelah melewati satu kampung, kita akan mendapati hamparan pepohonan, bentangan ladang, dan kebun-kebun. Setelah itu, barulah kita akan menjumpai kampung lagi. Pantas saja hanya ada 2 desa di pulau seluas itu. 

Sebagai warga kota besar, saya terus terang paling cocok berada di Pulau Banda Neira, yang merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Banda dan memiliki berbagai fasilitas yang cukup lengkap. Meski hanya seluas sekitar 4,2 km2, Pulau Banda berpenduduk padat, tersebar di 4 desa dari 10 desa sekecamatan. Di Pulau Banda juga terdapat bandara untuk pendataran pesawat kecil, kafe-kafe unik, serta beragam tingkatan penginapan untuk wisatawan.

Gereja Tua Neira yang ada di Pulau Banda disebut-sebut sebagai gereja tertua di Asia Tenggara, dibangun pada tahun 1611, dan setelah runtuh akibat gempa bumi dan direnovasi pada tahun 1850. Di bawah gereja dikubur 39 tokoh-tokoh dan orang-orang kaya Belanda waktu itu, dan nama-namanya diukir di lantai gereja. Ukiran nama-nama itu persis di lantai ruang utama, sehingg para jamaah  bebas saja berjalan berlalu-lalang di atasnya.

Gereja Tua Neira

Lokasi gereja sangat strategis, dekat dengan alun-alun dan pusat keramaian. Menurut Ega, warga Pulau Banda, gereja tidak hanya digunakan untuk misa saban hari Minggu, tapi kadang-kadang juga untuk kegiatan anak-anak muda di hari lain. Gereja terbuka untuk para wisatawan dan dapat dibuka kapan pun.  

Begitulah. Tidak cukup satu–dua hari untuk pelesiran ke Banda. Mana mungkin? Sepekan pun masih terasa kurang. 

Sebagai salah satu pusat jalur rempah Nusantara di masa lalu, Kepulauan Banda mustinya tidak hanya dijadikan semacam “musem sejarah”, namun dihidupkan lagi menjadi destinasi festival, tujuan wisata prioritas, beragam kegiatan budaya, hingga konferensi-konferensi. Lautnya indah, terumbu karangnya cantik,  pala dan cengkihnya bermutu tinggi, situs-situs sejarah yang menarik untuk dikulik, dan penduduknya toleran serta terbuka.

Tidak mudah, memang, karena infrastruktur belum memadai dan biaya transporasi pun mahal. Mampukah Banda seperti Bali? 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Susi Ivvaty
Eks Jurnalis Harian Kompas. Founder alif.id


Editor: Muhammad Zunus
logo