Tradisi Nyorog Sambut Ramadhan Masyarakat Betawi di Bekasi Jawa Barat

Tradisi Nyorog Sambut Ramadhan Masyarakat Betawi di Bekasi Jawa Barat

Masyarakat Betawi juga memiliki tradisi khusus menyambut Ramadhan. Seperti masyarakat Betawi yang tinggal di Bekasi Jawa Barat menjalankan tradisi Nyorog sebagai tradisi turun temurun yang terus diwariskan hingga kini.

Tradisi Nyorog tersebut memiliki makna filosofi dalam konteks kekeluargaan dalam masyarakat. Secara substantif, tradisi Nyorog mengandung nilai-nilai persaudaraan, kerukunan, dan kebersamaan.

Demikian hasil penelitian Abdul Qodir Zaelani dari Facultas Syariah UIN Raden Intan Lampung. Penelitian tersebut tersaji dalam artikel Tradisi Nyorog Masyarakat Betawi dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam (Studi Masyarakat Betawi di Kota Bekasi Jawa Barat) dan dimuat dalam Jurnal Al-Ulum Volumen 19 Number 1Juni 2019.

Peneliti menyebutkan Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan kepada anggota keluarga atau tetangga sebagai tanda penghormatan dan menyambut bulan suci Ramadhan serta Idul Fitri. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh yang lebih muda kepada yang lebih tua. Sebagaimana dinyatakan oleh Bani, tokoh masyarakat Ciketing, Bekasi.

"Tradisi kami setiap menjelang puasa dan menjelang lebaran biasanya membawa sesuatu yang biasa dibawa untuk orang yang lebih tua dari kami. Tradisi menjelang puasa dan menyambut Idul Fitri kami menyebutnya nyorog," kata Beni dalam penelitian tersebut.

Tradisi Nyorog di Bekasi juga menunjukkan keterkaitan antara budaya dan agama. Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas yang menjalankan nilai-nilai agama yang diwariskan turun-temurun kepada anak cucu. Tradisi ini dilakukan untuk memeriahkan bulan Ramadan dan menyambut Idul Fitri, yang merupakan hari raya besar umat Islam yang dinantikan setiap tahun.

Kegiatan Nyorog tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Betawi, tetapi juga oleh masyarakat lain yang berbeda suku dan agama. Tradisi ini menjadi bagian dari dialektika antara nash, syariat, 'urf, budaya, dan realita di Nusantara. Dialektika budaya dan agama yang terimplementasi dalam budaya Nyorog merupakan wilayah ijtihadiyyat yang bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu. Tidak masuk pada wilayah syawabit qath'iyyat.

Dalam konteks ini, terdapat tiga model dialog antara adat dan agama yang dijumpai pada masyarakat Islam di Indonesia, yaitu model "dominasi", model "akomodasi", dan model "kontekstual". Model kontekstual lebih cocok untuk menjelaskan model dialog adat dan agama di sebagian besar wilayah Indonesia, karena model ini lebih dinamis dan sesuai dengan cara kelompok-kelompok masyarakat di berbagai tempat di Indonesia beragama secara otentik, yakni menerima Islam sebagai "ideologi" utamanya, tetapi tetap menghargai budaya lokal. Tradisi Nyorog, jika dilihat dari ketiga model tersebut, masuk pada wilayah "kontekstual". Artinya, meyakini bahwa Nyorog merupakan tradisi yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan, bahkan merupakan bagian dari perintah agama.

Tradisi Nyorog yang dilakukan oleh masyarakat Betawi di Bekasi merupakan hasil dari akulturasi dan simbiosis budaya dan agama. Hal ini menjadi keunikan tersendiri, karena yang dibawakan biasanya adalah makanan khas tertentu. Tradisi Nyorog ini merupakan bagian dari akulturasi religi dengan budaya setempat (lokal), yang tentu berbeda dengan masyarakat Muslim lainnya di negara-negara Muslim dunia.

"Keberlangsungan akulturasi budaya dan kontekstualisasi budaya yang ada di masyarakat, termasuk tradisi Nyorog, merupakan bagian dari simbiosis mutualisme agama dan budaya sehingga memperkaya khasanah budaya dan agama dalam konteks lokalitas beragama. Dalam konteks ini, Yance Z. Rumahuru menyatakan bahwa Islam selalu memiliki warna lokal ketika menghampiri sebuah komunitas," tulis peneliti.

Peneliti mengungkapkan bahwa Tradisi Nyorog yang dilakukan oleh masyarakat Betawi di Bekasi, Jawa Barat merupakan hasil dari akulturasi dan simbiosis budaya dan agama dan memiliki beberapa fungsi atau peranan.

1. Merawat Kekeluargaan
Menurut peneliti merawat kekeluargaan merupakan bagian penting dalam Islam. Islam melarang umatnya memutus tali kekeluargaan.

Berdasarkan data di lapangan, tradisi Nyorog yang dilakukan oleh masyarakat Betawi, dengan mengikutsertakan anak-anaknya untuk membawa sorogan ke orang yang lebih tua, merupakan bagian dari pengajaran agama yang telah digariskan dalam ajaran Islam.

2. Sarana Silaturahmi dan Upaya Islah
Tradisi Nyorog dengan mendatangi keluarga yang lebih tua merupakan bagian dari sarana silaturahmi dan ishlah, ketika terjadi keterputuskan komunikasi, kesalahpahaman, atau konflik dalam keluarga. Bagi yang muda, Nyorog menjadi sarana efektif menjalin kembali rajutan kekeluargaan yang pernah koyak atau tertanam rasa sakit.

Datang menjelang Ramadhan dan Lebaran dengan membawa sesuatu yang disukai tentu akan menghilangkan sedikit bahkan semua luka yang pernah diperbuat. Apalagi saat Nyorog kemudian meminta maaf atas dosa yang pernah dilakukan.

Silaturahmi dan Islah adalah ajaran Islam yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, ketika dalam keluarga atau pertemanan terjadi konflik dan luka yang pernah tertusuk dalam jiwa. Maka sarana budaya yang semua orang melakukannya menjadi efektif jika dilakukan dengan kesadaran dan niat yang baik untuk menjalin hubungan lebih baik lagi.

Peneliti menguraikan bahwa silaturahmi dalam konteks ajaran agama Islam adalah berbuat kebajikan kepada orang-orang (saudara) terdekat, berusaha menyambungkan tali silaturahim antara penyambung dan yang disambung. Kadang-kadang dengan harta, kadang-kadang dengan pelayanan, kadang-kadang dengan mengunjungi dan memberikan salam, dan selainnya.

Dengan demikian, indikasi bahwa tradisi nyorog masih berjalan dan terawat di masyarakat menunjukkan bahwa tradisi ini tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Biasanya, ia berhubungan erat dengan sumber daya alam dan kondisi hidup setempat. Dengan kata lain, tradisi seperti ini sering kali lebih ramah lingkungan dan secara langsung atau tidak langsung memberi pengetahuan tentang keadaan lokal. Tradisi tersebut memberikan bekal bagi masyarakat yang mempelajarinya, termasuk generasi muda yang masih peduli dengan kondisi sekitar mereka, karena tradisi tersebut tumbuh dari masyarakatnya sendiri.

Tradisi Nyorog yang dilaksanakan oleh masyarakat Betawi di Bekasi tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga berfungsi sebagai wahana perekat sosial dan sarana untuk membangun jati diri bangsa. Tradisi ini memperkuat rasa kebangsaan dan nasionalisme, tanpa terkotak-kotak dalam status sosial, kelas, agama, golongan, atau partai politik.

3. Sarana Pendidikan Sosial, Jasmani, Rohani, dan Akal
Tradisi nyorog yang dilakukan oleh masyarakat Betawi jug  merupakan bagian dari pengamalan yang dapat diturunkan kepada anak cucu dengan berbagai tujuan.

Pertama, tujuan pendidikan sosial (al-ahdaf al-ijtimaiyah), yakni membentuk kepribadian yang utuh sebagai bagian dari komunitas sosial.

Penelitian tersebut menemukan bahwa dalam tradisi nyorog terdapat proses sosialisasi bagi anak-anak. Anak yang menjalani proses sosialisasi dengan baik akan menunjukkan perilaku yang kooperatif, ramah, dan memiliki kestabilan emosi. Mereka merasa bahagia karena adanya kehangatan dari orang tua.

Proses sosialisasi akan berjalan dengan baik apabila orang tua memberikan panduan perilaku yang jelas, sembari memberi kebebasan dalam batas tertentu. Orang tua harus dapat menjalin komunikasi yang jelas dengan anak, terutama tentang berbagai harapan dengan memberikan alasan yang dapat diterima anak.

Proses sosialisasi dalam keluarga terjadi secara dua arah. Orang tua mempengaruhi anaknya dengan mensosialisasikan nilai-nilai, sementara anak menginternalisasikan nilai-nilai tersebut. Ketika seorang anak terlahir, ia belum memahami makna tugas dan harapan orang tuanya yang mencakup sistem nilai budaya masyarakatnya. Setelah berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai nilai, sikap, tugas, dan produk budaya lainnya. Pengalaman dan pengetahuan ini diinternalisasikan dalam diri anak melalui peran keluarga.

Kedua, tradisi nyorog juga berfungsi sebagai sarana pendidikan jasmani (al-ahdaf al-jismiyah), yang bertujuan mempersiapkan manusia untuk menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi melalui keterampilan fisik.

Ketiga, sebagai sarana pendidikan rohani (al-ahdaf ar-ruhaniyah), yang bertujuan meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw.

Keempat, pendidikan akal (al-ahdaf al-aqliyah), yang bertujuan untuk mengarahkan intelegensi dalam menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan yang ada dalam tanda-tanda tersebut, sehingga meningkatkan akidah kepada Allah Swt sebagaimana dijelaskan oleh Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam.

Tradisi Nyorog juga mempengaruhi perkembangan manusia. Berdasarkan ilmu psikologi pendidikan, perkembangan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, selain oleh faktor pembawaan dan keturunan.

Tradisi Nyorog, yang melibatkan silaturahmi, akan menghasilkan kasih sayang dan menciptakan kebaikan serta saling mengasihi. Seperti yang dinyatakan oleh Abu Thayyib dalam bukunya Anna Mariana dan Milah Nurmilah, silaturahmi adalah ungkapan berbuat baik kepada kerabat. Hubungan nasab dan perkawinan memungkinkan saling berkasih sayang dan bersikap lemah lembut, meskipun ada jarak atau konflik.

Tradisi Nyorog yang mengandung silaturahmi juga berfungsi sebagai upaya mengatasi stres dan depresi. Dalam mengkaji terapi silaturahmi, Dadang Hawari berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup menyendiri.

"Sebaiknya, seseorang banyak bergaul, memiliki banyak relasi, dan tidak menarik diri dari pergaulan sosial. Dari sekian banyak sahabat dan kenalan, pasti ada yang lebih akrab, kepada siapa seseorang dapat bertukar pikiran mengenai hal-hal pribadi," tulis peneliti.


Editor: Kendi Setiawan
logo