Punggahan, Tradisi Sambut Ramadhan di Desa Kenteng, Semarang Jawa Tengah

Punggahan, Tradisi Sambut Ramadhan di Desa Kenteng, Semarang Jawa Tengah

Masyarakat Muslim di Indonesia memiliki kekhasan dalam menyambut datangnya bulan atau hari tertentu. Seperti menjelang Ramadhan, bermacam-macam ritual digelar masyarakat Muslim di berbagai daerah. 

Di Desa Kenteng Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Jawa Tengah masyarakat menyambut Ramadhan dengan mengadakan punggahan.

Hal itu sebagaimana diulas Devi Sri Yuliyani dari Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Devi Sri Yuliani melaporkan pengamatannya dalam tulisan berjudul Mengenal Tradisi Menyambut Ramadhan (Studi tentang Tradisi Punggahan dan Pudunan) dimuat di Jurnal Sosial Budaya Vol. 19, No. 1, Juni 2022.

Yuliani mengungkapkan bahwa Desa Kenteng yang terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, dan merupakan salah satu desa yang berada di daerah dataran tinggi, dengan ketinggian 914 meter di atas permukaan laut. Desa ini memiliki luas wilayah 357 ha, dengan batas wilayah sebagai berikut: di utara berbatasan dengan Desa Candi, di selatan berbatasan dengan Desa Banyukuning, di barat berbatasan dengan Desa Jetis, dan di timur berbatasan dengan Kecamatan Sumowono.

Desa Kenteng terdiri dari 7 RW dan 29 RT, serta memiliki jumlah penduduk sebanyak 5.428 jiwa, yang terdiri dari 2.723 laki-laki dan 2.705 perempuan. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani (50,46%), dengan sebagian lainnya bekerja di sektor perdagangan (11,59%), jasa (9,26%), industri (5,59%), dan sektor lainnya. Hasil bumi yang diproduksi oleh masyarakat Desa Kenteng dipasarkan ke masyarakat desa maupun ke desa sekitarnya (Sugeng, 2021).

Proses Pelaksanaan Tradisi Punggahan di Desa Kenteng
Punggahan adalah tradisi sedekah dan syukuran yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan, sementara Pudunan adalah tradisi yang dilaksanakan menjelang Idul Fitri (Hidayat, 2018). Kedua tradisi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu menyambut bulan suci Ramadhan dengan mengirimkan doa kepada leluhur yang telah meninggal, seperti membaca tahlil dan surat ikhlas.

Tradisi Punggahan dan Pudunan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan strata sosial, dan dipandu oleh seorang kiai atau orang tertua di desa. Wawancara dengan Sumarno, Modin Dusun Kenteng, Bandungan menyatakan perbedaan antara Punggahan dan Pudunan terletak pada waktu pelaksanaan dan jenis bingkisan yang disajikan, yang dalam masyarakat Desa Kenteng disebut "berkat".

Punggahan
Punggahan, yang dalam bahasa Jawa berarti "munggah" atau naik, dimaknai oleh masyarakat Desa Kenteng sebagai usaha untuk menaikkan catatan amal baik dan buruk umat Islam selama setahun terakhir. Tradisi ini berfungsi sebagai pengingat bahwa amal perbuatan umat Islam sedang dilaporkan kepada Allah Swt.

Wawancara yang dilakukan dengan Turoto, Sesepuh Dusun Kenteng, Bandungan mengungkapkan Punggahan dilaksanakan setahun sekali, yakni 2 atau 3 hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, tepatnya pada pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 bulan Sya’ban, yang dikenal dengan sebutan bulan Ruwah dalam masyarakat Jawa. Acara ini biasanya diadakan di rumah masing-masing, dengan mengundang kerabat dan tetangga untuk berdoa bersama bagi arwah leluhur. Selain itu, pemilik acara menyajikan bingkisan berupa sembako seperti beras, mie instan, gula, telur, teh, dan makanan ringan.

Sementara Sumarno mengutarakan bahwa  sejak tahun 2000-an, bingkisan yang dulunya berupa nasi dan lauk pauk kini digantikan dengan sembako. Masyarakat kini lebih memilih pelaksanaan yang sederhana, mengingat kesibukan yang harus diselesaikan.

Pudunan
Pudunan, yang dalam bahasa Jawa berarti "mudun" atau turun, dimaknai sebagai waktu dimana catatan amal umat Islam selama setahun akan turun dan dicatat oleh malaikat.

Tradisi ini dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadhan (Selikuran), dimulai setelah Ashar hingga malam sebelum Tarawih.  Wawancara dengan Yatiman, Sesepuh Dusun Kenteng, Bandungan menyebutkan bingkisan dalam tradisi Pudunan terdiri dari ketan, apem, pasung, dan pisang, yang masing-masing memiliki makna simbolis sebagai berikut:

Ketan: Melambangkan kedekatan dengan Allah SWT, serta kewajiban untuk menjalankan ibadah seperti salat wajib, shalat sunnah Tarawih, puasa, tadarus Al-Qur’an, dan lain-lain.

Apem dan Pasung: Pasangan ini menggambarkan perlindungan di dunia dan akhirat.

Pisang: Melambangkan kesetiaan kepada perintah Nabi Muhammad Saw

Makna yang Terkandung dalam Tradisi Punggahan dan Pudunan

Punggahan

Mengutip Sholikhin (2009), Yuliani mengungkapkan bahwa Tradisi Punggahan di Desa Kenteng dimaknai sebagai upaya untuk menaikkan catatan amal umat Islam selama setahun terakhir. Ini mengingatkan umat bahwa amal perbuatan mereka sedang dilaporkan kepada Allah, dan ini berimplikasi pada kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat.

Punggahan juga dimaksudkan untuk mengingatkan manusia akan amalan mereka dan memohon ampunan serta tempat yang layak bagi arwah leluhur. Dalam acara ini, doa dipanjatkan untuk memohonkan ampunan bagi arwah serta kesalehan dari para ahli waris yang hadir .

Tradisi Punggahan dilaksanakan pada tanggal 15 Sya’ban (Malam Nishfu Sya’ban), yang juga memiliki makna historis terkait dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti pemindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Ka'bah pada tahun kedelapan Hijriyah.

Meskipun ada perubahan dalam bentuk bingkisan dari nasi dan lauk pauk menjadi sembako, makna yang terkandung dalam tradisi ini tetap tidak berubah, yakni sebagai bentuk sedekah atau rasa syukur kepada Allah atas kecukupan yang diberikan kepada keluarga.

Sedekah, yang berasal dari bahasa Arab "Shadaqah", berarti komitmen untuk selalu berada pada jalan kebenaran, yang diwujudkan dalam bentuk memberi derma dengan tulus kepada yang membutuhkan, seperti fakir miskin dan anak yatim.

Tradisi Punggahan dan Pudunan di Desa Kenteng tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur, kepedulian sosial, dan pengingat akan amal perbuatan selama hidup di dunia.


Editor: Kendi Setiawan
logo