Kenangan masa kecil kadang menuntun ke sejarah meski penggalan-penggalan. Pengalaman sebagai anak mengingatkan keluguan. Beragam kejadian dan tokoh ingin diceritakan semua tapi tanpa jaminan “kebenaran”. Pengisahan untuk menjadikan biografi bertumbuh ketimbang membiarkan masa lalu itu membisu.
Kita kembali ke silam melalui pengisahan Amiroeddin (1919) ditulis oleh Amiroeddin. Buku tipis tapi “tebal” dalam membuka biografi dan menilik sejarah. Buku ditulis oleh orang terpelajar. Ia memiliki babak-babak bermain dan belajar saat godaan pendidikan (modern) membesar di tanah jajahan.
Ia menceritakan situsi akhir abad XIX: “Pada kebanjakan boemi poetera, meskipoen pendidikan anaknja tiada berapa diperhatikannja, kebaikan djoega jang ditoedjoe hatinja sebagaimana pada orang Poetih. Djika anaknja dimaki-makinja bagaimana sekalipoen, kebaikan djoega diharapkan bagi anaknja, melainkan djalan mendidiknja itoelah sahadja kebanjakan salah adanja.”
Pengasuhan dan pengajaran terwarisi dari para leluhur perlahan mendapat ralat. Tatanan hidup berubah berakibat anak-anak memerlukan pendidikan “baroe”, tak selalu harus merujuk adat. Sumber pendidikan dan pengajaran itu bisa berselera Islam atau mengikuti kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial mengenalkan sekolah modern (Barat).
Amiroeddin sering berpindah rumah, mengikuti bapak biasa berpindah tempat kerja. Pindah itu memberi pertambahan kisah. Amiroeddin bisa membedakan keunikan pelbagai tempat. Ia tak terlalu sulit untuk selaras dalam tata cara hidup berbeda di sekian tempat. Pada suatu masa, ia tinggal di Bagelen. Di situ, ia mendefinisikan diri di hadapan anak-anak di desa. Pengakuan beradasrkan masa lalu: “Pada masa itoe oemoerkoe kira-kira 8 tahoen, tetapi sombongkoe terlaloe. Pada pikirankoe: akoelah terlebih pandai dan berani dan koeat dari pada segala anak-anak dalam doesoen itoe. Barangkali karena asalkoe datang dari negeri itoelah, maka akoe pandang dirikoe lebih dari pada boedak-boedak goenoeng itoe.”
Tinggal di suatu tempat tak lama, berpindah lagi. Pada umur 11 tahun, Amiroeddin tinggal di kota berbeda, berbarengan kemampuan belajar membaca-menulis berhuruf Jawa dan Belanda. Masa bertumbuh menjadi remaja itu membuat ia mengerti kemodernan tapi lekas menginsafi keimanan. Amiroeddin perlahan “berbudi santri”. Ia belajar agama dengan tata cara berbeda saat menjalani pendidikan modern (Barat).
Ia mengenang: “Selang beberapa lamanja, aku dibelikan bapakoe Koer’an besar, 30 roepiah harganja. Disoroehnja akoe mengadji dikampoeng Kaoeman. Pada goeroe jang bernama Kiai Moertala.” Ia memang pergi untuk mengaji meski malu dan lambat dalam pengetahuan berbahasa Arab atau keagamaan. Ia justru mengingat penampilan jika pergi mengaji: “Dengan berkain batik dan berikat pinggang karet dan berbadjoe parner merah atau hidjoe serta bertarboes merah….”
Soetomo (1936) pun memiliki kenangan jika berada di rumah kakek-nenek di Jawa Timur. Di sana, ia merasa kerasan dan mengerti ikhtiar para santri belajar agama di rumah kakek-nenek. Rumah besar dan memiliki lahan luas untuk pelbagai tananam. Ada tempat mengaji dan beribadah. Ingatan masa kecil tak menjadikan Soetomo menempuhi “jalan santri”. Pada masa remaja dan dewasa, ia berjalan lurus dalam godaan pendidikan Barat sampai ke Batavia. Di situ, ia belajar untuk menjadi dokter dan “mencipta” sejarah bersama kaum muda bernama Boedi Oetomo.
Pada akhir abad XIX, anak-anak bumiputra biasa berada dalam pengasuhan sesuai adat. Pengaruh Islam perlahan membesar, memberi petunjuk agar anak-anak itu belajar agama: dimulai dari usaha mengaji kitab suci sampai ke pemerolehan ilmu-ilmu diajarkan para kiai di pesantren. Pada peralihan abad, lakon pendidikan-pengajaran berpijak adat dan agama mendapat saingan saat pemerintah kolonial mengajukan Politik Etis. Pendidikan “baroe” atau modern memberi impian-impian besar. Anak-anak mengetahui “kemadjoean” dan janji-janji perubahan nasib jika mengikuti jenjang dan arah pendidikan modern.
Masa lalu dalam kenangan Amiroeddin dan Soetomo masih bisa terbaca saat pendidikan-pengajaran berdasarkan Islam mengantar para santri mengerti jalan ilmu dan dakwah. Ingatan lekas mendapat tumpukan kejadian dan pertumbuhan gagasan-gagasan baru di tanah jajahan. Keinginan “berbudi santri” masih terwujud tapi gejolak identitas kaum muda perlahan berkiblat Barat. Kita bisa membandingkan dengan rekaman zaman diungkapkan Mochtar Boechari (1923) saat mengetahui kaum muda mula-mula belajar di pesantren mulai ingin memajukan ilmu menggunakan bahasa-bahasa Eropa (Belanda, Inggris, Perancis) agar tetap turut dalam arus “kemadjoean”. Mereka bereferensi santri tapi sanggup membentuk diri menjadi manusia modern saat meraih ilmu-ilmu modern.
Pada babak berbeda setelah Perang Dunia II, anak-anak dan kaum muda di Indonesia makin “dibujuk” untuk masuk ke sekolah-sekolah modern sambil mengimpikan pekerjaan-pekerjaan mapan. Dunia dalam tata baru mengandung risiko-risiko besar berkaitan ideologi, iman, dan identitas. Di Indonesia, kaum terpelajar dianggap mengalami “kerusakan akhlak” atau menipis keimanan jika selalu mengikuti Barat. Pada masa 1950-an, “berbudi santri” dan “berbudi modern” berpengertian Barat biasa diperdebatkan.
Kita simak buku berjudul Menudju Bahagia (1952) garapan Raden Poera di Redja. Ia menjelaskan kepentingan mengabarkan bahagia dan memberi peringatan-peringatan atas nasib anak dan remaja di Indonesia. Ia mengamati “kerusakan achlak” dan “crisis moreel”. Di buku, ia memaparkan hal-hal penting agar kaum remaja atau kaum muda memiliki pedoman dalam kehidupan. Pemerolehan ilmu-ilmu dan cara hidup baru (modern) itu lumrah tapi pembentukan diri berakhlak menjadi keutamaan.
Pada situasi rumit, orang-orang mudah membedakan dampak-dampak pendidikan bercorak agama (pesantren) dan bercorak modern merujuk perubahan-perubahan global. “Berbudi santri” dianggap memiliki keistimewaan saat arus revolusi biasa memunculkan pertikaian nilai-nilai hidup. Pemodernan di pelbagai pesantren terjadi dengan beragam pertimbangan agar para santri selaras dalam penguatan iman dan hasrat-hsarat kemodernan.
Fragmen atas gejolak “berbudi santri” dan godaan-godaan kemodernan berlatar revolusi di Indonesia bisa ditemukan dalam novel berjudul Dari Hari ke Hari (1975) gubahan Mahbub Djunaidi. Pada masa bocah, ia tinggal di Kauman (Solo). Ia mengikuti pelajaran di sekolah dan berusaha mempertebal pengetahuan agama. Kita mengutip percakapan bocah dan kiai mengenai situasi pendidikan masa lalu.
Kiai berkata: “Mengaji di mana sekarang, kamu?” Si bocah menjawab: “Di rumah.” Jawaban singkat mendapat pembenaran dari kiai: “Itu lebih baik. Bapakmu termasuk kiai. Jadi mesti mengajar anaknya. Apa kamu tidak tahu banyak anak kiai jadi berandal? Yang curi lonceng masjid pun ada.” Si bocah diajak berpikir dan merenung mengenai dampak-dampak belajar ilmu-ilmu modern di sekolah dan mengaji kitab suci. Pengasuhan dan pendidikan di keluarga turut memberi pengaruh besar.
Si bocah sempat mengabarkan bakal dikirim oleh bapak belajar ke pesantren di Lasem. Kiai itu berpesan jika bocah memang bakal belajar di pesantren: “Yang penting kesungguhan diri sendiri sebab di sana bebas.” Si bocah mendengarkan tapi belum tentu paham. Kiai melanjutkan keterangan: “Ya, mau bodoh bisa, mau pintar bisa. Ada temanku lima tahun di pesantren. Hasilnya cuma bisa masak melulu. Ada juga yang pulang jadi jago main bola. Tapi, kalau mau tekun, di situlah tempatnya.”
Novel itu mirip biografi. Kita mengandaikan si tokoh bocah dalam novel itu Mahbub Djunaidi. Pada masa dewasa, ia tetap “berbudi santri” tanpa wajib menjadi kiai di pesantren. Mahbub Djunaidi justru menjadi “kiai sastra” dengan beragam cerita dipersembahkan kepada para pembaca. Ia pun menjadi “kiai kolom” dengan mengabarkan pengetahuan dan menghibur umat agar tertawa melalui ratusan tulisan terbit di Tempo dan Kompas. Pada abad XXI, kita masih terus menanti orang-orang “berbudi santri” rajin menggubah sastra dan memberi tulisan-tulisan saat orang-orang terlena tontonan dan “lupa” khasiat-khasiat keaksaraan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
