Februari lekat dengan julukan valentine. Banyak mulut mengatakan nama itu mengandung simbol kasih sayang. Orang-orang sering merayakannya dengan permen, cokelat, bunga dan obralan kata-kata manis. Kita bisa ikut menjadi bagian, boleh juga tidak. Valentine tak menjamin semua hati terisi kasih sayang. Kita boleh menduga, di salah satu sudut bumi masih tersisa manusia yang bergulat dengan perasaan pelik: patah hati.
Suara yang keluar untuk menyambut valentine tidak harus selalu afirmasi soal hal-hal yang menyenangkan. Kita bisa mengambil sisi lain, misalnya menguliti kisah berdarah-darah yang diakibatkan rasa cinta. Konon, cerita-cerita seperti itu lebih realistis dan bisa menggambarkan arti cinta dalam makna yang sebenarnya.
“…cinta memberimu sebuah mahkota, demikian juga dia akan menyalibkanmu. Demi pertumbuhanmu, begitu juga demi pemangkasanmu. Seperti halnya dia membumbung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu, membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari, demikian juga dia menghujam ke dasar akarmu, mengguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.”
Demikian penggalan tulisan Kahlil Gibran mengenai cinta dalam bukunya Sang Nabi (1923). Gibran memaknai cinta terlepas dari kalkulasi keuntungan-kerugian. Baginya, cinta adalah dasar eksistensi, tidak sebatas karena ia kodrat atau fitrah manusia. Hanya di dalam cinta, manusia menemukan dimensi kesejatian hidup yang layak dipercaya. Cinta mengandung ketulusan, kemerdekaan, penyucian, keindahan sekaligus rasa sakit.
Penghuni Indonesia mungkin tidak akan lupa dengan kisah cinta legendaris asal Sumatera Barat. Cerita tentang dua insan yang saling mencintai tetapi harus berakhir dengan tragis. Zainudin dan Hayati adalah representasi dari kisah asmara yang terhalang adat, ekonomi, dan keturunan. Mula-mula kisah mereka berada dalam novel Buya Hamka bertajuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938), lalu diadaptasi menjadi film oleh Sunil Soraya pada tahun 2013 dengan judul yang sama.
Adegan paling menyayat hati adalah saat Zainudin mendapati kabar Hayati telah menikah. Tubuh Zainudin roboh, jiwanya pesimistis menghadapi hidup. Tak ada yang bisa ia lakukan selain terbaring tanpa menyisakan harapan. Kita mengingat penggalan salah satu dialog: “Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.”
Pada akhirnya, hidup Zainudin berlanjut. Ia menyambung nyawanya dengan pena. Ia ceritakan kenestapaan yang memenuhi hatinya menjadi sebuah buku. Akhirnya, karya itu dibaca banyak mata dan menghantarkan penulisnya mengalami perubahan nasib. Tubuh Zainudin kembali menemukan gairah. Patah hati tertolong dengan menulis.
Di lain wilayah dan waktu, banyak orang tertolong hatinya dengan membaca. Buku membantu manusia menemukan perspektif baru, terutama soal cinta. Setidaknya pembaca bisa mengetahui kalau tragedi ‘patah hati’ sudah terjadi sejak dahulu kala dan ada beragam tafsir dalam memaknainya
Second Sex (1949) susunan Simone de Beauvoir adalah salah satu buku yang turut mengulas perihal cinta. Beauvoir memaparkan dikotomi pandangan antara perempuan dan laki-laki dalam melihat relasi percintaan. Cinta bagi perempuan kerap dipahami sebagai kesetiaan, penyerahan total akan tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, dan tanpa harapan mendapat imbalan apapun. Sementara bagi laki-laki, jika ia mencintai seseorang perempuan, apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuan.
Dalam Jurnal Perempuan edisi Feminisme dan Cinta (2018) juga dituliskan kerangka pemikiran Beauvoir dalam memandang cinta. Bagi laki-laki, jatuh cinta membuat mereka menginginkan objek yang dicintai menjadi miliknya dan mendaku diri sebagai subjek yang berdaulat untuk memiliki dan mengendalikan sang objek. Sedangkan bagi perempuan, jatuh cinta adalah meleburkan diri atau menyerahkan segalanya kepada objek yang dicintai.
Singkatnya, jatuh cinta bagi laki-laki dipahami sebagai ajang penaklukan, sementara bagi perempuan adalah sebuah devosi. Perbedaan dalam pemakanan itu yang kerap menjadi akar kesalahpahaman sekaligus kekerasan antara laki-laki dan perempuan dalam berelasi. Pemikiran Beauvoir membantu banyak perempuan untuk lebih protektif dalam menganalisis cinta yang berpotensi pada kekerasan.
Namun, kita boleh tidak memukul rata apa yang telah disampaikan Beauvoir. Dalam Layla Majnun (1192) gubahan Nizami Ganjavi dan Romeo Juliet (1595) karya William Shakespeare, sosok laki-laki dalam memaknai cinta digambarkan nyaris berkebalikan dengan apa yang digagas oleh Beauvoir. Tokoh laki-laki dalam karya tersebut amat mencintai kekasihnya dengan penuh ketulusan.
Beberapa referensi lain juga turut mematahkan argumen Beauvoir, misalnya pada sosok Tom Hansen dalam film 500 Days of Summer (2009) garapan Marc Webb dan tokoh Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982) gubahan Ahmad Tohari. Kita menduga, dalam kehidupan nyata, sosok Tom dan Rasus benar-benar hidup.
Pada akhirnya, ada banyak hal yang bisa dimaknai dari peristiwa ‘patah hati’. Jutaan karya telah terlahir dari tragedi tersebut. Di tengah beragam pendapat dan perspektif menyoal ‘patah hati’, membaca dan menulis adalah dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam efek paling buruk. Rasanya memang menyakitkan tetapi bisa untuk dinikmati.
Editor: Kendi Setiawan
