Mencuri Sandekala dari Langit Senja

Mencuri Sandekala dari Langit Senja

Saya lebih dulu mengenal sandekala sebagai perintah pulang daripada sebagai nama sebuah waktu.

“Ayo masuk ke rumah, sudah sandekala!”

Ibu atau Mbah mengucapkannya dari ambang pintu. Kami biasanya masih ingin bermain. Langit belum betul-betul gelap, permainan belum selesai, dan selalu ada alasan untuk meminta tambahan waktu. Tetapi sandekala menutup perundingan. Sesudah kata itu keluar, kami harus pulang.

Ada Wewe Gombel dalam cerita orang-orang tua. Ada makhluk tak kasatmata yang konon berkeliaran mencari anak yang masih berada di luar selepas petang. Saya tidak ingat kapan mulai meragukan cerita itu. Yang saya ingat justru perasaan ketika berlari menuju rumah: kesal, takut, sekaligus lega begitu kaki menginjak lantai. Lalu membasuh kaki, mendengar azan magrib, dan membiarkan malam berlangsung di luar sana.

Begitulah sandekala tinggal dalam ingatan saya. Ada suara orang rumah di dalamnya. Ada batas yang tidak bisa terus ditawar.

Sebagai anak generasi X, saya tidak pernah bertanya dari mana kata itu berasal. Baru setelah dewasa saya mengetahui hubungannya dengan kata Sanskerta, sandhyakala, waktu peralihan menjelang malam. Pengetahuan itu datang belakangan, ketika saya sudah lama tidak mendengar orang memanggil anak pulang dengan kata sandekala.

Sekarang senja ada di mana-mana. Sandekala malah seperti kehilangan tempat.

Saya menjumpai senja dalam foto kedai kopi, potongan lagu, iklan perjalanan, dan unggahan orang yang sedang sedih atau ingin kelihatan sedang sedih. Langit jingga, siluet seseorang, secangkir kopi. Kadang saya merasa sudah melihat foto yang sama ratusan kali, hanya orang dan nama kedainya yang berganti.

Yang mengganggu saya adalah betapa cepatnya pengalaman yang begitu beragam dipersempit menjadi satu selera. Senja harus syahdu. Harus romantis. Kalau bisa, sedikit patah hati. Pergantian hari dijadikan latar untuk menampilkan diri, lalu kita menyebutnya menikmati alam.

Saya sendiri pernah ikut memotretnya. Mencari sudut, mengatur cahaya, memeriksa hasil. Setelah itu sibuk memilih foto sementara warna langit yang ingin saya nikmati telanjur hilang. Rasanya agak konyol kalau diingat. Saya berada di sana, tetapi perhatian saya justru tersangkut pada gambar tentang keberadaan saya di sana.

Sandekala yang saya kenal dulu tidak memberi banyak ruang untuk kesibukan semacam itu. Hari sedang berubah, dan kami diminta menanggapinya. Pulang. Bersihkan diri. Berhenti bermain.

Waktu itu saya menganggapnya gangguan. Sekarang saya merindukan ketegasannya.

Orang-orang tua membaca petang dengan cara yang mungkin terdengar asing bagi kita hari ini. Mereka memperhatikan suara serangga, gelap di sela pepohonan, udara yang mulai dingin. Mereka juga membawa keyakinan tentang dunia gaib, lengkap dengan larangan yang kadang sulit dijelaskan. Semua itu menyatu dalam kebiasaan sehari-hari. Tidak harus diuraikan dulu agar ditaati.

Saya tentu tidak hendak membela setiap pamali. Ada larangan yang cuma diwariskan karena orang enggan menjawab pertanyaan anak-anak. Ada pula ketakutan yang seharusnya tidak perlu ditanamkan. Namun, menyapu semuanya sebagai takhayul juga terlalu gampang. Kita merasa sudah lebih masuk akal, lalu berhenti mencari tahu apa yang dahulu membuat kebiasaan itu bertahan.

Di kampung yang belum terang oleh listrik, petang memang mengubah keadaan. Jalan makin sulit dilihat. Halaman yang tadi aman untuk berlarian mulai menyimpan sudut-sudut gelap. Anak-anak perlu pulang sebelum terlalu jauh dari rumah. Cerita hantu bekerja dengan cepat untuk urusan itu, meskipun caranya bisa kita persoalkan.

Tetapi ada hal liyan yang terasa lebih dekat dengan hidup saya sekarang: orang-orang itu tahu kapan kegiatan harus selesai.

Saya justru sering tidak tahu.

Satu pekerjaan dibawa melewati magrib. Sesudah makan malam, ada pesan yang mesti dijawab. Lalu membuka berkas sebentar, memeriksa kabar sebentar. Kata “sebentar” rupanya bisa menghabiskan berjam-jam. Ketika akhirnya meletakkan gawai, tubuh sudah lelah, tetapi kepala masih ramai.

Lampu membuat semua ini mungkin. Layar membuatnya terasa biasa. Di meja kerja, sore dan malam tidak banyak berbeda. Cahaya yang sama jatuh ke wajah, pekerjaan yang sama menunggu dibereskan. Kita bisa terus melanjutkan, maka kita terus melanjutkan.

Saya tidak merasa lebih bebas karenanya. Sering kali justru seperti orang yang tidak kunjung diizinkan pulang, padahal tidak ada siapa-siapa yang menahan.

Dulu batas itu datang dari suara ibu. Sekarang saya harus menentukannya sendiri. Ternyata lebih sulit daripada yang saya bayangkan.

Barangkali itu sebabnya keheningan pun mulai terasa merepotkan. Begitu tidak ada yang dikerjakan, muncul urusan yang selama ini saya hindari: pekerjaan yang tak selesai, kecemasan tentang hari esok, rasa bersalah yang tidak jelas harus dibawa ke mana. Gawai menawarkan jalan keluar yang mudah. Tinggal buka sesuatu. Selalu ada yang lebih ringan dipikirkan daripada hidup sendiri.

Lalu saya teringat sandekala. Waktu remang yang dahulu membuat saya takut itu ternyata menyimpan sesuatu yang sekarang saya butuhkan: kesempatan untuk berhenti sebelum hari benar-benar habis.

Saya tidak ingin membesar-besarkannya menjadi obat bagi seluruh kegelisahan manusia modern. Duduk menghadap halaman selama sepuluh menit tentu tidak menyelesaikan tagihan atau pekerjaan yang menumpuk. Tetapi setidaknya dalam sepuluh menit itu saya tidak sedang menambah kebisingan. Ada waktu untuk merasakan lelah, mengakui bahwa hari ini tidak semuanya beres, dan membiarkan sebagian urusan menunggu besok.

Bagi saya, itulah yang hilang ketika senja hanya kita perlakukan sebagai pemandangan yang cantik. Kita mengambil warnanya, lalu melewatkan perubahan yang dibawanya. Padahal cahaya itu sedang berakhir. Ada sesuatu yang meminta kita melambat, meskipun kita boleh saja mengabaikannya.

Saya ingin bisa memperhatikan permintaan sederhana itu lagi.

Maka, sesekali menjelang magrib, saya mencoba meletakkan gawai lebih awal. Tidak selalu berhasil. Kadang tangan masih mencarinya tanpa sadar. Kadang saya sudah duduk menghadap langit, tetapi pikiran tetap mondar-mandir di pekerjaan. Ya, begitulah. Kebiasaan yang dipelihara bertahun-tahun tidak hilang hanya karena saya mendadak merindukan masa kecil.

Namun, pada petang tertentu, saya bisa diam agak lama. Mendengar suara dari rumah tetangga. Melihat halaman perlahan gelap. Tidak ada pengalaman luar biasa. Hanya hari yang selesai, dan saya akhirnya menyadarinya.

Pada saat seperti itu, suara ibu terasa dekat lagi.

“Ayo masuk ke rumah, sudah sandekala!”

Dulu saya selalu merasa dipanggil terlalu cepat. Sekarang saya sering merasa sudah terlambat berhenti.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Hakim Syah
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Palangka Raya. Wakil Ketua Lakpesdam PWNU Kalteng.


Editor: Muhammad Zunus
logo