Sekian hari lalu, orang-orang membuat peringatan 100 tahun Sitor Situmorang (1924-2024). Ia rajin menggubah puisi pengelanaan di Eropa. Puisi-puisi mengenai Toba pun terwariskan. Kunjungan ke Borobudur, Bali, Jogjakarta, dan pelbagai negeri ditulis menjadi puisi-puisi. Sitor Situmorang, pengembara dan pemberi kata. Kita sebagai pembaca turut bergerak jauh atau sekadar mencicipi pengalaman (imajinasi) tersaji dalam ratusan puisi.
Pada masa 1956-1957, Sitor Situmorang pergi ke Tiongkok. Ia menghasilkan puisi-puisi bercita rasa revolusi, berharap akrab dan terjalin dengan kecamuk revolusi di Indonesia. Sitor Situmorang memuji Tiongkok, terbaca dalam “Surat dari Tiongkok untuk Retni”. Kita mengutip: Djika kamu dewasa, Ret,/ Kenanglah Yenan!/ Sekarang musim bunga!/ Gadis-gadis sebajamu kulihat gembira,/ di mana-mana ladang hidjau ria, mentjangkul, memutar/ kintjir,/ ramai-ramai dorong gerobak,/ hingga pipi merah. Puisi ingin membuka album girang revolusi. Kita lanjutkan: Inilah kisah Long March rakjat Tiongkok,/ Kisah rakjat tertindas, lalu bangkit!/ “Warna merah djadi dalil hidup di atas mati!”/ Kenang, kenanglah, generasimu/ harus menang bersama rakjat/ untuk menjelesaikan Revolusi. Kita membaca “R” dengan huruf kapital, mengartikan kerja akbar.
Tiongkok, mencipta sejarah besar turut berpengaruh di Indonesia, sejak masa kolonial. Sitor Situmorang berkunjung saat Indonesia dan Tiongkok dalam lakon merdeka. Dua negara berbarengan untuk bersikap dalam konflik dan perdamaian global setelah Perang Dunia II.
Pada masa 1950-an, Tiongkok sangat penting bagi Indonesia. Pada 30 September-15 Oktober 1956, Sukarno berada di Tiongkok: bertemu para tokoh dan berpidato. Kita sejenak mengingat silam bertokoh Sukarno dan Mao Zedong (Mao Tse Tung). Ingatan mumpung kita menonton pertandangan sepak bola, 15 Oktober 2024: Tiongkok melawan Indonesia. Kita berharap menang meski Tiongkok pun ingin berpesta bahagia. Di stadion, para pemain berebut bola saat sejarah “bersama” terbaca lagi melalui dokumentasi-dokumentasi lama.
Kita membuka buku berjudul Presiden Sukarno di Tiongkok (1956) terbitan Pustaka Bahasa Asing. Di Peking, Sukarno berkata: “Tanpa rakjat, saja adalah orang biasa. Tanpa rakjat, saja adalah bukan apa-apa. Saja bukan pemberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. kemerdekaan bangsa Indonesia adalah perdjuangan daripada rakjat Indonesia. Saja bukan bapak rakjat Indonesia. Saja adalah anak rakjat Indonesia… Sekarang saja berada di tengah-tengah rakjat Tiongkok, rakjat 600 djuta manusia, jang berkobar-kobar semangatnja, jang terus-menerus berdjuang untuk mentjapai tjita-tjitanja.” Sukarno bangga dan bahagia di Tiongkok. Ia datang bukan bermisi sepakbola tapi politik dengan beragam dampak.
Pada 2 Oktober 1956, Mao Zedong memberi pujian. Tokoh besar itu gamblang mendekatkan diri dengan sejarah Indonesia. Mao Zedong berkata: “Sedjak dahulu kala, rakjat Tiongkok dan rakjat Indonesia adalah sahabat jang sangat baik. Selama beberapa tahun achir-achir ini, dalam usaha bersama dari rakjat kedua negeri kita untuk menentang kolonialisme dan membela perdamaian dunia….” Ia mengetahui peran besar Sukarno. Sosok dianggap menggerakkan Indonesia “berangsur-angsur membersihkan sisa-sisa kolonialisme.” Mao Zedong mengajak Soekarno minum bersama sambil berseru: “Untuk kemakmuran Republik Indonesia serta kebahagiaan rakjatnja dan untuk kesehatan Presiden Sukarno!”
Pengetahuan orang-orang Indonesia mengenai Tiongkok diperoleh sejak ratusan tahun lalu. Sejarah rumit dan menentukan masa depan. Hubungan terbentuk sejak lama tak memastikan pengetahuan besar dan lengkap dimiliki orang-orang Indonesia. Pada 1952, terbit buku berjudul Tiongkok Sepandjang Abad susunan Nio Joe Lan. Buku diterbitkan Balai Pustaka mengartikan menjadi bacaan publik agar makin mengenali dan mengakrabi Tiongkok.
Nio Joe Lan menjelaskan: “Tiongkok ialah negeri tetangga Indonesia. Selama ini perhatian di Indonesia terhadap Tiongkok tidaklah besar. Dalam waktu sebelum Perang Dunia II petjah, sekolah-sekolah Indonesia mengadjarkan sedjarah Tiongkok hanja dengan beberapa alinea sadja. Orang Tionghoa hanja dikenal dalam pergaulan dan perhubungan dagang, dan tentang kehidupannja hanja diketahui bahwa ia pandai berdagang dan peradaban Tiongkok adalah satu peradaban tertua didunia.” Situasi itu berubah saat Sukarno membawa Indonesia dalam jalinan erat dengan Tiongkok.
Masa lalu itu kata-kata menggebu. Penguasa di Indonesia dan Tiongkok mahir mengucap kata dan memberi impian terbesar. Pada suatu masa, Tiongkok-Indonesia memang mesra. Sejarah sedang hangat dan romantis meski bakal berlanjut ke babak-babak mendebarkan.
Kita tak ingin selalu mengenang dua negara dengan pidato-pidato atau dokumen resmi. Puisi pun mengingatkan erat dan rasa-sahabat. Sitor Situmorang memberi puisi berjudul “Lagu-Lagu Tiongkok Baru”. Puisi tetap menggebu meski ternikmati secara berbeda dibandingkan pidato di depan ribuan orang.
Pembaca menikmati larik-larik menggugah: Di Wuhan, di Peking, di Shanghai/ orang berbadju keper biru/ bekerdja dari pagi sampai sore/ dan malam bergiliran/ Sepandjang kaki langit,/ asap mengepul dari beribu tjerobong/ Sosialisme,/ tanda abad ke-20 telah disini.// Hari ini kita berpisah, dan/ tanah air lebih njata dalam bajangan/ masa depan./ Yang sedang dibangun disini/ adalah abad manusia/ abad listrik dan angkasa,/ jang diramaikan telaah Marxisme. Masa lalu itu mendapat pelbagai tafsir untuk erat atau renggang dalam alur hubungan Tiongkok-Indonesia. Pada abad XXI, lakon besar sedang dicipta Tiongkok-Indonesia dalam politik dan ekonomi berdampak sangat besar. Lakon itu mendapat selingan pertandingan sepak bola. Tiongkok ingin menang. Indonesia pun ingin menang. Kita menonton sepak bola, bukan lagi membaca puisi (lama).
Di Tiongkok, Sukarno mengunjungi pelbagai kota. Ia rajin berpidato menikmati jamuan makan. Sukarno menjadi saksi perubahan-perubahan di Tiongok. Pada 15 Oktober 1956, hari terakhir Sukarno di Tiongkok, memberi kata-kata perpisahan: “Sedikit waktu lagi kami akan meninggalkan bumi Tiongkok untuk kembali mendjalankan tugas kami ditanah air kami. Kami akan berdjuang terus, menjempurnakan kemerdekaan kami, menjusun perekonomian nasional kami, menjumbangkan tenaga kami untuk mentjapai perdamaian antara bangsa-bangsa…”
Pidato itu bersejarah. Kita mengutip (lagi) sambil berharap terjadi kemajuan dalam masalah sepak bola di dunia negara. Pada 15 Oktober 2024, Tiongkok-Indonesia dalam sepak bola dengan deretan sejarah “bersama” jangan pernah dilupakan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
