Misteri Cincin Sultan

Misteri Cincin Sultan

Udara dingin merayapi tubuh ketika kutapaki jalanan berbatu di antara bangunan kuno Istanbul. Suara langkah menggema di bawah lampu redup dan bayang panjang pepohonan. Kucing liar di sudut gang mengamati dengan mata tenang dan waspada, sementara yang lain berlompatan di atas batu basah, menyelinap di celah rumah-rumah. Mereka beruntung hidup di antara orang-orang Istanbul yang dikenal penyayang kucing.

Kota masih terlelap tidur. Aku melangkah menuju Hagia Sophia untuk salat subuh—sebuah pengalaman yang tak ingin kulewatkan. Temaram lampu jalan menambah kesunyian, membungkam kota menunggu fajar membangkitkan sejarah Hagia Sofia yang terkubur di dindingnya.

Hagia Sophia berdiri megah, kubah-kubah raksasanya dibalut cahaya sephia dari lampu sorot di bawahnya. Setiap langkah kurasakan seperti menelusuri lorong masa, tembok batunya menceritakan kisah penaklukan dan pengkhianatan. Masjid yang baru difungsikan kembali di era Erdogan ini memancarkan aura berat dan misterius.

Di dalam masjid yang juga remang, keheningan terasa lebih menyergap, berat, dan sakral. Langit-langit menjulang menyangga kubah  kaligrafi Arab berpadu cahaya redup dari jendela besar yang memantulkan warna-warni kaca patri. Pilar-pilar raksasa menopang ruangan bangunan ikonik Turki ini membuat siapa pun di dalamnya serasa tertelan.

Di sudut gelap para jamaah bermantel tebal duduk tenang seperti sekumpulan prajurit Gotik yang kelelahan. Bau lembab permadani berdebu bercampur udara dingin menambah kesan mistis.

Muazin sudah selesai mengumandangkan iqamat, tetapi tak ada yang bergerak. Tak satu pun dari mereka maju menjadi imam. Hanya ada gema pelan suara napas, sementara sorot-sorot mata bertemu dalam kebisuan, seolah takut akan mengganggu kesucian tempat ini. Lalu, seorang pria tua di barisan depan menoleh padaku. Dengan senyuman tipis dan isyarat tangan, ia memintaku maju.

“Anta... Imam,” bisiknya dalam bahasa Arab dengan aksen Turki yang kental.

Aku kaget tak sempat menolak. Keheningan itu begitu berat dan memaksa. Dengan langkah perlahan, aku mengambil posisi di depan shaf. Segera terdengar gema bacaan Al-Quran memantul dari dinding ke dinding bekas Gereja Agung Bizantium ini. Suasana Hagia Sophia yang megah dan bersejarah membuat setiap ayat yang kubaca terasa dalam, menyatu dengan keabadian bangunan.

Setelah selesai, kutolehkan kepala ke kanan. Di sana seorang pria berdiri tersenyum. Usianya sekitar lima puluhan, wajahnya tenang, dengan janggut hitam lebat dan sorot mata tajam lembut.

“Kopi di rumahku,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih, “akan menjadi kehormatan jika Anda mau datang.”

Aku terdiam sejenak, menyadari betapa anehnya ajakan ini.

“Rumah Anda di dekat sini?”

“Ya, sangat dekat. Saya Sultan Mehmed,” jawabnya tenang.

Aku tertawa kecil, mengira ini hanya gurauan orang yang terlalu larut dalam sejarah.

“Sultan Mehmed, penakluk Konstantinopel?” tanyaku, mencoba bercanda.

Dia hanya mengangguk, lalu berjalan menuju pintu belakang masjid. Dengan ragu dan penasaran, aku mengikutinya. Kami melintasi lorong berbatu yang semakin sepi dan gelap. Tak lama kemudian, terlihat gerbang besar menjulang. Pintu kayu tua terbuka perlahan, dan di baliknya Istana Topkapi berdiri megah.

Topkapi berbatas langsung dengan Selat Bosporus yang di subuh gelap ini terlihat biru dan kelam. Asin udara laut berhembus segar. Lampu-lampu emas memantulkan cahaya lembut, menyinari halaman luas yang sunyi. Kami berjalan melewati bangunan mewah dengan ornamen emas dan batu pualam langka. Mungkin dulu digunakan untuk menjamu tamu kerajaan. Namun pria itu tak berhenti di sana.

Ia membawaku menuju ruang pribadi. Ruangan sederhana namun memancarkan aura kebesaran. Kursi-kursi tua dan perabot kayu yang sudah pudar menghiasi interiornya. Di ruangan ini, kesunyian kembali terasa. Dia duduk, lalu menatapku dengan sorot berwibawa.

“Kamu darimana?”

“Sleman.”

“Kamu membaca Al-Quran dengan sangat indah tadi,” katanya.

“Mengingatkanku pada masa muda, masa-masa kejayaan Ottoman. Pernah mendengar penaklukan Konstantinopel?”

Aku tersenyum kecil, mengira ini bagian dari permainan sejarahnya.

“Tentu saja. Konon, Sultan Mehmed sangat terobsesi menyaingi Alexander Agung. Ia menaklukkan ke arah barat, seperti Alexander menaklukkan ke timur. Tapi banyak yang meragukannya”

Pria itu menarik napas dalam, pandangannya surut, seolah-olah sedang membangkitkan ingatan masa lalu yang berat. Wajahnya bersih, kulitnya putih, dengan guratan bekas luka kecil di pipi kanannya, seperti tanda pertempuran lama. Janggut hitamnya rapi, menambah wibawa, sementara mata tajamnya menatapku penuh perasaan. Mata itu memancarkan kedalaman, seolah menyimpan rahasia dan beban yang tak pernah dibagikan kepada siapa pun. Setiap gerakannya penuh ketenangan.

“Benar,” ujarnya pelan.

“Usiaku masih muda saat itu. Banyak yang menentangku. Mereka bilang aku terlalu ambisius, terlalu berani". Aku teringat pilpres di tanah air.

"Tapi, mereka tidak tahu beban yang kutanggung. Alexander adalah pahlawan bagi semua orang, dan aku ingin menjadi pahlawan bagi umatku.”

Dia bicara dengan nada tulus, seolah sedang bercerita pada teman lamanya. Aku mulai merasa ini bukan sekadar lelucon. Ada sesuatu yang nyata dalam caranya bicara, dalam kesedihan yang terlihat jelas.

Matahari mulai terbit ketika aku berpamitan. Sebelum pergi, aku serahkan gelang kayu cendana dari Malioboro.

“Untuk kenang-kenangan,” kataku.

Mehmed tersenyum, berdiri memeriksa laci dan almari, mencari sesuatu. Kemudian kembali dengan membawa sebuah kotak kayu berisi lima buah cincin batu. Salah satunya dia serahkan padaku.

“Ini dari ibuku,” katanya pelan. “Jaga baik-baik.”

Siang harinya, aku bergabung dengan rombongan tur universitas yang hari ini akan ke destinasi wisata Istanbul. Salah satunya ke istana Topkapi.

Ketika sore hari memasuki istana aku heran. Suasananya tampak lebih modern, dindingnya baru dipoles. Lebih terkejut lagi saat pamandu tur membawa ke ruangan pribadi Sultan Mehmed. Semuanya berubah. Hiasan dinding dan perabotan Subuh tadi bergeser atau hilang. Masih heran bagaimana para tukang bisa mengerjakan begitu cepat, datang kejutan baru: pemandu tur menunjukkan sebuah kotak kayu dalam kaca. Kotak cincin Mehmed. Aku berdebar-debar.

“Bapak Ibu, inilah kotak keramat  lima cincin Sultan Mehmed II. Pemberian ibunya” kata pemandu menerangkan ke rombongan kami.

“Salah satu cincin ini hilang tiga abad lalu. Pemerintah Turki telah berulang kali meminta pengembaliannya secara internasional.”

Dadaku berdegup kencang. Pelan kuraba saku celanaku. Cincin Sultan ada di sana!

***

Berjalan keluar dari Istana Topkapi, aku memandang langit biru Istanbul dengan Selat Bosporus di kejauhan. Di sanalah, Sultan Mehmed Al Fatih pernah memandangi laut yang sama, merencanakan penaklukan Konstantinopel dan mengakhiri 1500 tahun kekaisaran Romawi. Mehmed kemudian menandai era baru Kesultanan Ottoman. Aku hanya wisatawan, yang datang untuk keperluan akademis biasa, namun kini membawa sekeping sejarah besar Turki.

 Cincin sultan kugenggam erat.

"Jaga baik-baik..."

Pesan itu kembali terngiang, kali ini lebih jelas dan kuat, menggema ke sudut-sudut Istanbul.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.


Editor: Fajar WH
logo