Melihat Toleransi yang Nyata di Tana Toraja

Melihat Toleransi yang Nyata di Tana Toraja

Program moderasi beragama adalah upaya Kementerian Agama yang bertujuan untuk membangun komitmen sekaligus memelihara keutuhan dan persatuan Indonesia. Program moderasi beragama juga menyasar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di berbagai wilayah, salah satunya adalah di IAIN Bone. Program moderasi beragama ini diejewantahkan dalam bentuk KKN Moderasi Beragama dengan memilih daerah yang secara kultur dan demografinya sesuai dengan indikator output kegiatan KKN.

Tahun 2023 ini KKN Moderasi Beragama IAIN Bone dilaksanakan di Kabupaten Tana Toraja tepatnya di Desa Lembang Buntu Tabang dengan mayoritas penduduknya adalah non-Muslim. Kegiatan ini dilaksanakan kurang lebih 40 hari yakni sejak 11 Juli hingga 27 Agustus 2023. Para peserta KKN berasal dari beberapa kampus PTKIN yang berbeda di wilayah Indonesia Timur.

Ammar, mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara IAIN Bone menuturkan bahwa kegiatan ini sangat memberi impact positif bagi peserta sebab disajikan best practice terkait menjaga kerukunan umat beragama dan sosial kemasyarakatan.

"Jujur ini adalah pengalaman terbaik yang pernah saya rasakan dan memberi arti tersendiri bagi saya dan teman-teman terkait apa itu moderasi beragama yang selama ini hanya kita dapatkan lewat diskusi-diskusi teoritik. Kali ini kami merasakannya langsung di lapangan," ujarnya dalam wawancara Sabtu (22/12/2023).

Senada dengan Ammar, Sattuo yang juga peserta KKN Moderasi Beragama menuturkan bahwa ada beberapa hal menarik yang ia dapatkan selama kegiatan KKN ini berlangsung.

"Kondisi sosio-kultural masyarakat di sini sangat jauh berbeda dengan daerah asal saya. Namun yang paling menarik adalah bagaimana kami selalu diperlakukan sama seperti masyarakat di sini pada umumnya bahkan kegiatan ibadah sholat pun kami sering diingatkan oleh warga yang notabenenya adalah non-Muslim," kata Sattuo.

Menurutnya, kegiatan KKN ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan tinggi dalam pengembangan masyarakat lewat pengabdian lapangan dan diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kental dengan Penerapan Toleransi

Ammar kembali menuturkan bahwa daerah KKN yakni Lembang Buntu Tabang sangat kental akan nilai-nilai toleransi.

"Yang kami lihat selama KKN kami diajarkan masyarakat bagaimana gotong royong itu tidak lagi ada rasa curiga atau melihat embel-embel agama. Contohnya dalam acara adat, peran non-Muslim dan Muslim itu sama dalam hal menyediakan makanan, mereka punya dapur masing-masing yang sedikit berjauhan untuk memisahkan makanan agar tidak bercampur, bahkan alat dan bahannya itu dibawa dari rumah masing-masing sehingga sangat terjamin kebersihan dan keamanan konsumsinya," urainya.

Saat pelaksanaan KKN, diadakan kegiatan tanam bersama yang menurutnya sarat akan nilai-nilai agama untuk menghargai pemberian Tuhan."Kegiatan selalu dimulai dengan doa setiap ingin mulai dan selesai melakukan kegiatan," ujarnya.

Ammar menceritakan, daerah Buntu Tabang masih memiliki banyak lahan pertanian yang terawat strukturnya geografinya. "Lahan persawahan dan pertanian lainnya di sini itu ada yang digarap oleh orang-orang Muslim, namun pemilik lahannya adalah non-Muslim. Begitu pun sebaliknya agar tanah yang ada tetap terkelola dengan baik sehingga masalah ekonomi bagi mereka yang secara ekonomi golongan menengah ke bawah bisa teratasi dengan sangat baik dengan adanya kondisi simbiosis mutualisme seperti ini," kata Ammar kemudian menambahkan bahwa hal ini sudah berlangsung sejak lama.

Salah satu juga yang menarik di daerah KKN ini adalah adanya program pengajian rumah tangga yang rutin dilaksanakan untuk memberi pemahaman mendalam terkait paham keagamaan. Tujuannya agar harmonisasi kehidupan dapat terus terjaga dengan pemberian edukasi pengajian rumah tangga.

Menurut Ammar pengajian rumah tangga ini dilaksanakan secara bergilir. "Ini tentunya menjadi inspirasi bagi kita di daerah lain untuk bisa melakukan hal yang sama agar pemahaman keagamaan yang kita percayai bisa semakin mendalam, tentunya dengan konten agama yang sejuk dan damai," kata Ammar.

"Pengajian rumah tangga ini berjalan rutin di setiap rumah-rumah warga yang berbeda sehingga paham keagamaanya dapat silaturrahimnya juga kita dapat, sehingga potensi perpecahan atas nama perbedaan itu bisa teratasi," ujarnya

Ammar menuturkan, hubungan emosional antara pemuka agama terjalin begitu harmonis terlihat antara Pendeta dan Imam ataupun Ustadz saling akrab satu sama lain. Mereka bahkan berboncengan ke rumah ibadah.

Daerah Buntu Tabang direkomendasikan menjadi daerah wisata religi mengingat kondisi sosialnya begitu terbangun dengan baik. Selain itu banyak lokasi yang biasa menjadi titik kunjungan belajar serta kegiatan-kegiatan adat yang sangat kaya akan nilai-nilai kehidupan.

Ammar menuturkan rumah-rumah ibadah yang berdiri di daerah ini khususnya bangunan masjid itu bahkan berdiri di atas tanah wakaf orang non-Muslim yang mungkin bagi orang awam menganggap ini adalah hal yang aneh atau berlebihan.

"Bayangkan saja rumah ibadah umat Muslim di sini ada yang berdiri di atas tanah wakaf non-Muslim dan mereka tetap hidup damai di tengah mayoritas umat Kristiani. Di tempat ini mengajarkan kita apa itu arti toleransi yang tidak sekedar tentang menghormati dan menghargai perbedaan, tetapi sudah pada tataran kemenerimaan terhadap yang berbeda itu secara legowo," ujar Ammar dengan mantap.

Pioner

Warek III IAIN Bone, Lukman Arake berharap peserta KKN Moderasi Beragama ini dapat menjadi pionir dalam penyebaran nilai-nilai moderasi beragama yang santun. Dengan begitu PTKIN dapat menjadi pusat pengkajian keagamaan yang inklusif bagi semua golongan sesuai dengan harapan Kementerian Agama.

"Saya harap adik-adik mahasiswa KKN ini menjadi contoh dan teladan dalam menyemai nilai-nilai agama yang ramah dan sejuk di tataran perguruan tinggi secara umum dan IAIN Bone secara khusus," pungkasnya.

Jumadi, aktivis NU tinggal di Bone

 


Editor: Kendi Setiawan
logo