Arina.id - Ketika mendengar nama Tan Malaka, pasti tak akan asing di telinga sebagian besar mahasiswa terutama mereka yang aktif di organisasi kampus dan memiliki pandangan kiri. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu pemikir revolusioner yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Bahkan, ia pernah dijuluki sebagai Bapak Republik Indonesia oleh Muhammad Yamin, sebuah julukan yang mencerminkan besarnya peran dan ide-idenya dalam perjuangan kemerdekaan.
Julukan tersebut tidak muncul begitu saja. Salah satu alasannya adalah karena karya bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku ini ditulis Tan Malaka di Tiongkok setelah ia diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam buku itu, ia menggagas konsep Indonesia sebagai sebuah republik merdeka jauh sebelum ide ini menjadi kenyataan.
Pemikiran visionernya tidak hanya memberikan kontribusi dalam dunia politik, tetapi juga dalam pendidikan, termasuk metode menghafalnya yang dikenal dengan nama Jembatan Keledai. Metode ini turut berperan besar dalam penulisan buku magnum opusnya yang lain, berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika).
Jembatan Keledai lahir akibat kekecewaan Tan Malaka terhadap buku bukunya yang hilang dirampas oleh polisi penjajah. Namun, Madilog adalah salah satu buku yang berhasil selamat dari penggeledahan mata polisi. Hal ini disebabkan huruf Madilog yang terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tidak menarik perhatian sama sekali.
Tan malaka sebenarnya ingin seperti Leon Trotsky dan Drs. Mohammad Hatta, yang ditemani berpeti-peti buku saat berada di tempat pembuangan. Namun hal tersebut tak bisa ia lakukan dan selalu gagal ketika mencoba mewujudkannya. Hingga akhirnya Tan Malaka sempat berhasil membawa buku dalam jumlah tidak lebih dari satu peti besar ketika menjalankan pembuangan yang pertama pada 22 Maret 1922. Peti tersebut berisi buku agama, Al Qur’an dan Bible, Buddhisme, Confucuisme dan lain lain.
Namun malang nasibnya, ia terpaksa meninggalkan peti itu di Nederland (Belanda) ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Moskow. Hal ini disebabkan ia harus melewati Polandia, yang pada saat itu sangat bermusuhan dengan komunisme. Dari buku-buku yang sempat ia bawa, dapat ditebak ke arah mana kecenderungan pemikiran Tan Malaka.
Tan malaka juga terinspirasi membuat Jembatan Keledai ini dari kisah Imam Al Ghazali yang kehilangan semua bukunya ketika dirampok. Tan malaka mengungkapkan kisah tersebut sebagi berikut;
“Al-Ghazali pemikir dan pembentuk islam, kalau saya tidak keliru pada satu ketika dirampok. Perampok juga rampas semua bukunya. Sesudah itu Al Ghazali memasukkan semua isi bukunya ke dalam otaknya dengan menghafalkan. Bahagia (gunanya) menghafalkan itu dibuat Al Ghazali, sekarang sudah terang sekali kepada kita.”
Metode jembatan keledai dalam menghafal dan kritik Tan Malaka terhadapnya
Cara kerja Jembatan Keledai sebenarnya cukup sederhana, kita mengubah kalimat panjang atau konsep rumit menjadi singkatan atau kata kunci. Metode ini sering dianggap efektif untuk membantu mempermudah ingatan, terutama terkait hal-hal yang sulit dihafal.
Contoh misalnya ketika kita menghafal spektrum warna maka jembatan keledainya adalah ME-JI-KU-HI-BI-NI-U. MEJIKUHIBINIU menyederhanakan kata MErah, JIngga, KUning, HIjau, BIru, NIla dan Ungu.
Metode ini juga sering dipraktikkan di kalangan pesantren. Mereka banyak menghafal pelajaran dengan berbentuk nadzam, seperti ketika ingin menghafalkan tanda kalimat isim berupa jar, tanwin, nida’, kemasukan al dan lain lain. Para santri cukup menghafalkan nadzam atau bisa disebut jembatan keledainya yakni;
بِالجَرّ وَالتَّنْوِينِ وَالنِّدَا وَآلْ # وَمُسْنَدٍ لِلاسْمِ تَمْيِيزٌ حَصَل
“Dengan jar, tanwin, nida, al dan musnad isim dapat dibedakan (dari lainya)”
Namun Tan Malaka mengkritik cara belajar dengan mengahafal tersebut. Menurutnya, kebiasaan menghafal tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan bodoh, mekanis seperti mesin. Sebab menghafal hanya membuat seseorang mengingat tulisan tanpa memahami maknanya. Selain itu, jika pelajaran terlalu banyak, tentu tidak semuanya bisa dihafalkan.
Tan Malaka memang mengakui manfaat dari pengetahuan yang tersimpan dalam otak melalui hafalan. Namun, ia menyarankan jalan tengah, yaitu tetap menghafal tetapi hanya pada hal-hal yang benar-benar dipahami seperti Jembatan Keledai. Wallahu a’alam
Identitas Buku
Judul buku; Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika)
Penulis; Tan Malaka
Penyunting: Tim NARASI
Penerbit; NARASI
ISBN; 978-602-5792-40-3
Halaman; 560 halaman
Genre; Social Science
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
