Kronik Kelahiran NU: Perjalanan Komite Hijaz Menemui Raja Saudi (bagian 2)

Kronik Kelahiran NU: Perjalanan Komite Hijaz Menemui Raja Saudi (bagian 2)

Pada hari Selasa 26 Syawal 1346, kedua utusan Nahdlatul Ulama yakni KH Abdul Wahab Hasbullah dan Ustadz Ghanaim Al-Amir berangkat bersama dari Singapura menaiki Kapal PROMATius, menempuh perjalanan kurang lebih 3 minggu. 

Pada tanggal 17 Dzulqa’dah atau 8 Mei 1928 sekitar pukul 9 pagi tiba di Jeddah dengan selamat. Kedatangan utusan Komite Hijaz itu bersamaan dengan tibanya Jalalah Al-Mulk Abdul Aziz yang baru pulang dari Negeri Nejd, juga bertepatan dengan datangnya Tuan Sir Gilbert Clayton yakni utusan dari Kerajaan Inggris. 

Pada Rabu 19 Dzulqaidah, kedua utusan menghadap ke Konsulat Hindia Belanda di Jeddah untuk melaporkan urusan dan keperluan mereka di sana, serta meminta bantuan kepada para pejabat Konsul supaya dapat membantu urusan tersebut. Pejabat Konsul lalu menelepon wazier dari Jalalah Al-Mulk dan menyampaikan informasi tentang kedatangan dua orang utusan dari Nahdlatul Ulama beserta maksud-maksud dan keperluannya menghadap Raja Makkah. 

Kemudian menerima balasan dari Tuan Raja bahwa kedua utusan diperkenankan menghadap Tuan Raja pada Kamis tanggal 20 Dzulqa’dah sekira jam 2 siang bertempat di Rumah Dinas Raja Baitun Nāshif, diundang atas nama instansi atau organisasi para utusan masing-masing.

Sampailah pada saat kunjungan menghadiri undangan Raja, Tuan Raja menjamu para undangan dengan sangat layak, waktu kunjungan tidak kurang dari satu jam dengan dihadiri oleh 3 orang Mustasyar dan satu orang Wazier kerajaan beserta sekretarinya. Lalu utusan Nahdlatul Ulama menyampaikan surat mandat. Pada pertemuan itu, kedua utusan diminta untuk kembali menghadap Kerajaan atas nama Jamiyyah Nahdlatul Ulama setelah ‘Arafah (Wukuf Arafah pada bulan Haji _pen) dengan membawa permohonan-permohonan Jamiyyah Nahdlatul Ulama. 

Tuan Raja berjanji akan menerima segala masukan dan permohonan selama masih sejalan dengan Alquran wal Ahādīts as-shahīhah yang pernah dijalankan oleh Ashābur Rasūl wa Salafus shālih wa Ākharuhum Al-aimmah Alarba’ah. Dan semua permohonan supaya dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan para ulama Jawi yang mukim di Tanah Makkah. 

Pada hari Sabtu 22 Dzulqa’dah 1346 H, sekitar pukul 11 siang kedua utusan berangkat menggunakan Motor Dodge. Pada malam Ahad sekitar pukul 8 tiba di Robi’ dan menginap satu malam di sana. Esok harinya pada jam 7 pagi kedua utusan berangkat melanjutkan perjalanan, sampai Misil tepat jam 5 sore dan menginap lagi satu malam di sana. Lalu esok harinya kedua utusan kembali melanjutkan perjalanan, berangkat jam 7 pagi dari penginapan dan tiba di Madinah jam 10 siang bertepatan pada hari Senin tanggal 24 Dzulqa’dah 1346. Kedua utusan menginap di Hotel Kaukabus Syara. Selama di hotel mereka bertemu dengan para jamaah haji yang berasal dari berbagai daerah seperti Muwashil, Halb, Kurdy dan lain-lain. Mereka saling berkenalan dan berbagi kabar tentang keislaman di negara mereka masing-masing.

Kedua utusan mukim di Madinah selama 7 hari, setelah melaksanakan ziarah ke berbagai tempat seperti Qabāin, Ahad, Qaba, dan tempat lainnya. Kemudian pada hari Ahad jam 8 pagi tanggal 30 Dzulqa’dah kedua utusan berangkat pulang menuju Makkah dan mulai menaiki motor dari jam 4 sore. 

Pada hari kamis tanggal 4 Dzulhijjah jam 4 sore, kedua utusan diundang oleh Raja ke Baitul Muktamar yang ada di Kampung Jiyad untuk beramah-tamah dan mendapatkan jamuan secukupnya, kemudian diperlihatkan Tirai Ka’bah (Kiswah) yang baru selesai dibuat. Sekitar jam 6 sore acara ramah-tamah selesai dan para tamu undangan pun pulang ke tempat mereka masing-masing.

Adapun para tamu dan orang-orang besar yang turut serta dalam acara ramah-tamah tadi tidak kurang dari 400 orang, di antaranya ada akhiy al-mukarram Ahmad Hambali Kudus, akhir al-mukarram Ahmad Qusyairi Pasuruan, selain itu ada pula I’yālu Sultan Perak, Al-mulk Al-qāithiy, dan raīs Jamiyyah Al-hadits Alhindiy.

Pada acara tersebut Raja berpidato tentang ajakan bertauhid kepada Allah dan supaya menghindari perbuatan syirik, Raja juga menyatakan bahwa dirinya dan orang-orang di sekelilingnya mengikuti mazhab Hambali.

Hari Jumat jam 4 sore kedua utusan diminta untuk menunggu di kantor Pengadilan Negeri, kemudian jam 5 dijemput oleh mobil dinas Kerajaan. Baik kedua utusan dan semua undangan juga dijemput menggunakan mobil dinas menjadi beberapa rombongan, semuanya diantar menuju ke rumah dinas kerajaan, Al-qushair Al-aly. Sesampainya di rumah dinas kerajaan, semua tamu kemudian melaksanakan salat magrib di tempat tersebut. Setelah salat lalu dipersilahkan menempati kursi atau bangku yang telah disediakan. Tampak bentuk bangunan, tata ruang, dan seluruh perabot di dalam rumah tersebut tidak ada yang menyamainya di seantero Makkah, bahkan lampunya sudah menggunakan listrik dengan dinding berbahan tegel.

Kurang lebih satu jam setengah para tamu undangan berada di ruangan tadi dengan ditemui oleh Kakanda sang Raja. Para tamu diberi suguhan khas Kopi Baduwiy Arab yakni kopi pahit campur kapulaga tanpa gula, dan hanya sedikit kira-kira satu gram. Para pelayan kerajaan berkeliling sambil membawakan minuman Es, semua dipersilahkan minum menggunakan gelas.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdullah Alawi
Kolomnis, Penulis buku “Pemuda Nahdoh: Sejarah Awal GP Ansor Jawa Barat 1934-1941”


Editor: Muhammad Zunus
logo