Samarkand: Makam, Bait Puisi dan Novel

Samarkand: Makam, Bait Puisi dan Novel

Makam dalam bujukan kekuasaan. Pada masa 1950-an, Sukarno tampil sebagai pemimpin besar dihormati di dunia. Ia terbaca melalui tulisan-tulisan. Orang-orang terkesima melihat ia berpidato di panggung atau mimbar. Masa lalu itu tak cuma memuat pujian dan tepuk tangan. Sukarno pun rajin berdoa meski tak harus dijadikan “pertunjukan” untuk kekuasaan. Ia mengerti ibadah, tak melulu tampil dalam “teater akbar” politik. Di luar tulisan dan pidato, ia menjadi peziarah. Sukarno mendatangi makam untuk berdoa. Makam untuk membuka lagi sejarah dan memberi terang dalam arus dakwah Islam.

Pada saat dunia dalam ketegangan. Khrushchev mengundang Sukarno agar datang ke Uni Soviet. Dua penguasa itu bakal menjadi gegeran di dunia bila bertemu, berbincang, dan bermufakat. Sukarno memaksa Khrushchev mencari dan memuliakan makam Imam Bukhari. Permintaan itu harus dipenuhi jika ingin ada kunjungan berdampak pembesaran Blok Timur.

Situasi pelik bagi Khrushchev. Semua bisa terwujud. Di Kompas, 22 September 2024, kita diingatkn lagi peristiwa bersejarah: “Akhirnya, Khrushchev menyanggupinya, dan setelah ditemukan, Bung Karno bergegas ke makam Imam Bukhari dalam lawatannya ke Uni Soviet.” Peristiwa terjadi pada 1956. Pada masa berbeda, Megawati Soekarnoputri hadir di makam Imam Bukhari dalam tampilan berbeda. Kedatangan pun dalam misi berbeda di negara Uzbekistan, tak lagi Uni Soviet.

Berita di Kompas membuat kita terharu dan insaf sejarah: “Presiden ke-5 RI Megawati  Soekarnoputri akhirnya bisa menjejakkan kaki di salah satu persinggungan bersejarah ayahnya, semasa masih menjabat Presiden RI.” Megawati berziarah di makam beralamat di Samarkand. Kehadiran istimewa dengan penampilan istimewa: “Megawati sengaja memakai kerudung putih warisan ibunya, Fatmawati, yang selama ini disimpannya dengan baik.” Masa lalu terbawa dalam kunjungan singkat tapi mengesankan. Samarkand, tempat teringat dengan kedatangan Sukarno dan Megawati berbeda masa dan kepentingan.

Kedatangan ke Samarkand menghasilkan puisi. Pengarang tenar Indonesia bernama Sitor Situmorang berkelana sampai Samarkand. Datang bukan dalam kepentingan politik atau anugerah keintelektualan. Di sana, ia takjub dan menghasilkan puisi. Kita membaca puisi berjudul “Samarkand” merasa ikut berada di sana: Lembahnya melandai indah,/ Melimpah air menyuburkan puing sejarah/ Berdiri Ulukbek meneliti bintang di langit,/ Meneropong zaman datang, di puncak bukit.

Pengelana itu belum selesai berpuisi. Ia terus mengajak kita berkelana sampai Samarkand dengan puisi digubah pada waktu berbeda tapi berjudul sama: “Samarkand”. Puisi beralamat Uzbekistan, kejadian di Samarkand. Sitor Situmorang (1977) menulis: Sebuah kubah sisa mesjid/ zaman lalu/ dan bukit teropong bintang/ puing kejayaan tak terjangkau/ tugu kefanaan di tengah padang. Ia melihat warisan silam, menuju babak-babak cerita tragisdi Samarkand. Di sana, ada pertautan asmara, iman, ilmu, sastra, dan arsitektur.

Samarkand pun mengingatkan sosok kondang dalam sejarah: Omar Khayam. Nama menguak puisi, anggur, ilmu, iman, dan kekuasaan. Pada suatu masa, ia berada di Samarkand. Ia mengerti kecamuk kekuasaan, perselisihan iman, dan gegeran ilmu. Di Samarkand, ia masih sanggup menuliskan puisi bakal menjadi warisan besar di dunia.

Kita mendapat pengisahan Omar Khayam di Samarkand melalui novel gubahan Amin Maalouf berjudul Samarcande. Novel itu diterjemahkan dan terbit di Indonesia: 2008. Novel mencengangkan bagi para pembaca ingin menemukan “sejarah” dan memasuki halaman-halaman “biografi”. Novel itu penting gara-gara Samarkand: bukan sekadar kota tapi pesona. Kita masih bisa merasakan meski pengisahan terjadi pada abad XI.

Keributan di jalan. Lelaki tua dihajar dan dihinakan. Kemalangan bagi lelaki tua gara-gara tuduhan. Seseorang mengatakan: “Kami tidak mau ada filsuf lagi di Samarkand!” Omar ingin melindungi lelaki tua tapi orang-orang sudah terbakar marah. Seruan itu mendapat tanggapan setuju (makin) membesar: “Bagi orang-orang ini, istilah ‘filsuf’ itu dimaksudkan untuk setiap orang yang terlalu memperhatikan ilmu-ilmu duniawi bangsa Yunani, dan secara lebih umum, segala sesuatu yang bukan ilmu agama atau kesusastraan.” Omar lekas sadar diri: ia pun sudah terkenal sebagai filsuf di pelbagai negeri. Kerumuman orang sedang mengutuk dan menghukum filsuf. Samarkand sedang “mengharamkan” filsuf. Seruan itu bisa dibantah tapi orang-orang telanjur membuat onar.

Omar datang dari negeri berbeda. Ia mengunjungi Samarkand dengan babak awal ketakutan dan penghinaan. Nasib tak keruan. Omar menjadi sasaran marah. Hidup bisa segera tamat. Amin Maalouf memberi situasi genting: “Omar tidak melihat mereka, tidak mendengar mereka. Baginya, jalanan  itu lengang, bumi tak bersuara, langit tiada berawan, dan Samarkand masih tetap tempat impian yang ditemukannya beberapa hari sebelumnya.”

Pada masa lalu, Samarkand itu kota “terpenting” dalam arus iman, pengetahuan, kekuasaan, dan kesusastraan. Kita mesti bergerak jauh ke abad-abad penuh ketegangan: perang, kematian, dendam, benci, dan rusuh. Iman menjadi pusat sengketa untuk beriringan atau bercampur dengan perselisihan kekuasaan. Omar dalam situasi terang-gelap untuk membuktikan kemajuan ilmu dan sastra. Samarkand itu memukau tapi “mematikan” jika salah dan lengah.

Di batas samar selamat atau mampus, Omar mendapat sejenis ejekan meski bermaksud menghindarkan dari petaka besar. Kadi di Samarkand bernama Abu Taher berkata: “Omar, kau bukan orang yang tidak dikenali di Samarkand. Meskipun kau masih muda, pengetahuanmu sudah menjadi teladan. Keunggulanmu dibicarakan di sekolah-sekolah. Bukankah di Ishafan kau sungguh telah membaca sampai tujuh kali kitab susunan Ibnu Sina yang tebal sekali. Dan, sepulangmu ke Nishapur, kau bisa mengulanginya di luar kepala?” Pembaca dipastikan menerima keistimewaan Omar. Sosok tak pantas habis oleh kemarahan picik.

Debat seru malah terjadi antara Abu Taher dan Omar. Debat berpijak iman bergejolak di Samarkand. Tempat itu menginginkan ketaatan. Pembuktian tentu ibadah. Taat pun harus diwujudkan dengan penghindaran perkara-perkara “sesat”. Omar sadar berada di negeri menuntut iman. Ia berkata: “Aku tidak termasuk golongan yang imannya hanyalah ketakutan akan pengadilan terakhir, yang sembahyangnya hanyalah sujudnya. Caraku berdoa? Kutatap setangkai mawar, kuhitung bintang-bintang, aku kagum melihat lama, kagum melihat sempurnanyasemua itu diatur…” Omar ingin terhormat di hadapan dan tatapan orang-orang menghendaki “kepatuhan”. Omar tetap lantang berpendapat. Ia tak mau takluk secara murahan dan tolol.

Omar selamat dari kemarahan massa. Ia berhak tinggal di Samarkand. Di situ, ia malah menggubah puisi-puisi telat terbaca oleh dunia. Omar ingin mengerti Samarkand itu kota ramah, damai, tenang, dan indah. Ia memerlukan keterangan-keterangan dan setumpuk argumentasi. Penjelasan sedikit diperoleh atas susana kota berantakan: “Setiap kekerasan di sini terjadi akibat ketakutan. Keimanan kami diserang dari segala penjuru…” Kota bisa tegak dan maju oleh iman. Omar berusaha maklum tapi iman terlalu menentukan di Samarkand.

Samarkand memang Imam Bukhari dan Omar Khayam. Agustinus Wibowo (2007) justru melihat Samarkand itu “segala permata arsitektur”. Ia terpukau melihat bangunan-bangunan terlihat oleh orang-orang pada abad XXI untuk bertualang jauh ke silam. Ia membahasakan: “melemparkan diri ke masa keemasan jalur sutera.” Kunjungan singkat memberi kesan-kesan mendalam. Ia pun berujar: “Siapa tak akan terpekur di bawah keagungan nama Samarkand?”

Kagum itu berbeda dengan abad-abad terdahulu. Samarkand biasa dalam situasi sulit dan tegang. John Man (2010) saat mengisahkan Genghis Khan memerlukan menunjuk Samarkand dan Bukhara dalam lakon (rebutan) kekuasaan. Ia menceritakan: “Setelah itu pasukan Mongol bergerak ke arah timur menuju Samarkand, ibu kota baru, yang dijaga antara 40.000-110.000 tentara, yang berlindung di parit, tembok kota, dan benteng… Para pedagang kaya atau ulama Samarkand, yang tidak siap untuk mempertaruhkan nyawa mereka bagi orang seperti itu, mengajukan perdamaian dan menerima perlakuan yang sama dengan penduduk Bukhara, di mana para komandan Mongol dan keluarganya merampas harta, perempuanm dan tukang ahli.” Samarkand, tempat bersejarah kelam sekaligus cemerlang. Abad-abad itu telah berlalu.

Pada abad XXI, kita masih terpesona Samarkand. Di buku-buku sejarah atau sastra, Samarkand mengabadi dengan puncak-puncak dan “kejatuhan”. Masa lalu itu memberi warisan-warisan tak pernah lengkap. Kita membaca Omar sambil mengandaikan Samarkand silam. Megawati datang ke sana bukan terpanggil oleh Omar. Ia dalam hajatan intelektual dan kenangan. Samarkand memberi panggilan dengan jejak-jejak Sukarno memuliakan (makam) Imam Bukhari. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo