Kata-kata mudah menimbulkan kutukan atau hujatan. Pada suatu hari, Emha Ainun Nadjib memberi kata-kata. Orang-orang terbakar dan timbul onar. Emha Ainun Nadjib diminta meralat omongan dan “mengurangi” penggunaan kata-kata yang dianggap menghina penguasa atau menguak bobrok-bobrok di Indonesia.
Sosok rajin menulis esai, puisi, dan cerpen itu mendapat olok-olok. Bermula dari kata-kata, ia justru menjadi sasaran kebencian. Orang-orang memberi kata-kata kasar, kejam, dan norak untuk menghina Emha Ainun Nadjib. Mereka “memastikan” Emha Ainun Nadjib berdosa. Hari demi hari berlalu, Emha Ainun Nadjib tetap menunaikan misi-misi hidup dengan kata-kata, menghasilkan tulisan-tulisan. Ia tak selesai dengan omongan atau pengajian.
Kita ingin bergerak mundur ke masa lalu. Emha Ainun Nadjib membuat catatan harian, terbit menjadi buku berjudul Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu (2000). Judul mengesankan anak itu bersalah. Anak ingin mendapat hukuman. Anak memerlukan peringatan dan kesadaran. Tulisan-tulisan dibuat selama Emha Ainun Nadjib berada di Eropa: 1985. Berkelana jauh tapi alamat terpenting tetap ibu. Tulisan berupa catatan harian itu telat diterbitkan tapi “bara” ingatan dan peringatan tetap berlaku sampai sekarang.
Pembuka untuk buku berupa puisi digubah pada 1992 berjudul “Ibunda”. Kita membaca pemuliaan ibu. Emha Ainun Nadjib dalam larik-larik mengaitkan ibu dan Indonesia:
Rakyat adalah ibunda sejarahmu/ Rakyat bukan bawahanmu,/ melainkan atasanmu/ Jangan kau tengok mereka ke bawah/ kakimu, karena justru engkau/ adalah alas kaki mereka yang/ bertugas melindungi kaki mereka/ dari luka-luka/ Rakyat bukan anak buahmu/ yang engkau berhak/ menyuruh-nyuruh dan mengawasi/ Rakyat adalah tuanmu,/ yang di genggaman tangannya terletak/ hitam putih nasibmu/ di hadapan mata Tuhan.
Puisi digubah masa 1990-an, masa rezim Orde Baru terus membual pembangunan nasional. Soeharto tetap tegak sebagai penguasa dengan segala capaian dan petaka. Indonesia diceritakan bakal menjadi negara besar, tak ada mimpi buruk sebagai negara-gagal. Soeharto telah lama berkuasa, rajin memberi pidato-pidato. Indonesia itu “diharuskan” sesuai perintah dan keinginan Soeharto. Lelaki tua ditakuti meski orang-orang perlahan membenci.
Emha Ainun Nadjib tak menempatkan Soeharto sebagai tokoh utama dalam sejarah. Ia memilih menulis dan mengisahkan ibu. Pada sosok ibu, ia mengerti nasib ratusan juta orang di Indonesia. Kesadaran atas ulah penguasa dan orang-orang mengaku berhak mengubah nasib Indonesia saat duduk di DPR. Orang-orang mengaku terhormat dan berkuasa malah menimbulkan kehancuran Indonesia.
Pada masa lalu, kata-kata Emha Ainun Nadjib mungkin mendebarkan bagi orang-orang merasa di jalan kekuasaan dan jalan uang. Emha Ainun Nadjib mengingatkan:
Rakyat negerimu adalah/ ibunda sejarahmu/ Demi nasibmu sendiri jangan/ pernah injak kepala mereka/ Demi keselamatanmu sendiri jangan/ curi makanan mereka/ Demi kemaslahatan anak cucumu/ sendiri jangan pernah hisap darah mereka/ Jangan pernah rampok tanah mereka.
Kita mengingat konsekuensi puisi dalam lakon politik masa Orde Baru. Emha Ainun Nadjib sadar sedang memberi puisi berapi mudah mendapat kutukan dan hukuman dari penguasa. Kini, puisi boleh dibaca (lagi) saat hari-hari di Indonesia makin ruwet dan bergelimang kemarajan. Puisi tak mengajak gegeran tapi bujukan renungan-renungan demi kebaikan di Indonesia.
Kita beralih dari puisi ke catatan harian. Emha Ainun Nadjib membuat pengakuan, berisi salah dan permintaan petunjuk. Sosok terpenting itu ibu. Catatan dibuat 24 Agustus 1985: “Anak-anakmu sering ngobrol mesyukuri ibu dulu mogol sekolah di kelas V madrasah karena ayah sudah kebelet mempersunting. Dengan sedikit minta maaf kepada Tuhan dan ibu, anak-anakmu ber-alhamdulilah ibu tak meneruskan sekolah, kuliah, mengalahi karier pribadi menjadi anggota DPRD, mengurusi masalah-masalah besar yang tak pernah mampu diselesaikannya. Syukur, ibu menjadi rakyat, bukan wakil rakyat, yakni si bukan rakyat yang amat jarang sukses mewakili rakyat.” Anak-anak berbahagia mengetahui ibu bukan sosok di parlemen. Ibu membentuk biografi sederhana: tak berpendidikan tinggi, menikah saat usia muda, dan mengasuh anak-anak untuk mengerti hidup.
Ibu di desa justru memiliki kebaikan-kebaikan terberikan. Sederhana menjadi pijakan agar mengerti kehendak dan derita ditanggungkan orang-orang desa. Ibu memilih menjadi pemberi kasih tanpa tuntutan gaji, gelar, dan tepuk tangan. Biografi itu menjadi referensi bagi anak-anak. Emha Ainun Nadjib menulis:
“Ini hanyalah rasa syukur anak-anakmu bahwa apa yang ibu mampu kerjakan di desa sangat jauh melebihi segala omong besar dan lagak modern anak-anakmu. Ini juga suatu rasa penasaran bahwa pengertian tentang kebesaran dan kekecilan, tentang reputasi dan karier, tentang kepintaran dan fungsi sosial, ada baiknya terus digosok lagi warna buram permukaannya.”
Di desa, ibu berbuat dan berarti ketimbang nafsu orang-orang memerintah Indonesia dan menempatkan diri di kota-kota besar.
Kita kepikiran dengan ulah dan omongan orang-orang berada di parlemen beralamat di Jakarta. Mereka sibuk dan cekatan mengurusi demokrasi. Orang-orang justru curiga dengan “kerja keras” mereka dalam membuat “roman demokrasi” menjadi picisan dan bergelimang kesesatan. Kita diajak mengingat ibu, bukan melulu para bapak mengaku memiliki kekuasaan untuk membuat undang-undang dan memberi perintah-perintah demi demokrasi amburadul.
Ibu itu Indonesia. Puisi dan catatan harian mengajak kita menghormati ibu dan memuliakan Indonesia. Ibu menjadi penentu. Kita tak boleh durhaka dan menghinakan ibu. Kita mengerti Indonesia itu milik bersama dalam tebaran kasih dan pelajaran-pelajaran hidup.
Pengertian ibu dan Indonesia pun terbaca dalam puisi berjudul “Ibu Pertiwi” gubahan Joko Pinurbo (2021). Puisi mengandung prihatin atas nasib Indonesia, dimunculkan dengan referensi keibuan. Joko Pinurbo menulis:
Ke manakah hutan, sawah,/ ladang dan kebun kami, Ibu?// Sebagian menjadi hidangan/ di meja makan.// Sebagian menjadi pesta pora.// Sebagian menjadi air mata// Sebagian menjadi/ bilur di punggung petani.// Sebagian menjadi/ saldo minus tabungan kami.
Ibu, alamat untuk sambat dan minta jawaban. Ibu tak mudah memberi petunjuk atas jawaban saat Indonesia memang terlalu rumit diceritakan gara-gara beragam kebijakan mengaku konstitusional dan pidato-pidato menjadikan Indonesia makmur.
Kita berpikiran (lagi) ibu dan Indonesia saat lakon “bapakisme” memberi kecewa dan derita. Pengembalian ingatan dan referensi keibuan Indonesia memang sering terlambat tapi kita memang tak ingin terlalu lama terpuruk. Ibu itu Indonesia. Kita merasa dalam kedekatan tanpa jebakan slogan dan bualan-bualan berdalil kekuasaan. Begitu.
============
Baca artikel terkait MOZAIK atau kumpulan kolom lainnya dari BANDUNG MAWARDI
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
