Para santri berkumpul. Bukan untuk menghadiri shalawat akbar, bukan untuk melakukan upacara peringatan Hari Santri. Mereka bertemu karena satu alasan, solidaritas identitas. Ribuan santri tumpah di halaman Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (29/10/2024) untuk meneriakkan satu suara, menuntut pelaku kekerasan terhadap santri dihukum setimpal.
Menurut NU Online (27/10/2024) peristiwa kriminal yang melibatkan korban dua orang santri (pembimbing atau tenaga pendidik) Pondok Pesantren Al-Fatimiyah Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, terjadi lantaran ada peran minuman keras (miras). Diduga, pelaku yang melakukan penganiayaan dan penusukan berada dalam pengaruh alkohol.
Kita berharap, korban mendapat penanganan dan pemulihan dengan baik. Lalu bagi pelaku, harus mendapat hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Keadilan mesti ditegakkan agar bisa menjadi efek jera dan edukasi publik.
Dari kasus kekerasan tersebut, kita akan menengok lebih dalam persoalan miras, air yang diduga sebagai sumber kerusuhan. Cairan itu memuat beragam zat yang dipercayai menghilangkan kewarasan manusia. Kewarasan untuk berpikir dan bertindak dengan jernih.
Minuman keras dalam kacamata kesehatan, dijelaskan mengandung etanol dan sederet zat lainnya. Dalam kacamata psikologi, agama, analisis gender, dan kriminalitas, miras mengandung banyak hal yang melampaui zat-zat kimiawi.
Film A Star is Born (2018), disutradarai oleh Bradley Cooper menjelaskan miras dalam sudut pandang psikologis. Film mengisahkan perjalanan Jackson Maine, musisi pecandu alkohol yang karirnya hancur karena ketergantungan pada air tersebut.
Mula-mula alkohol dipercayai Maine sebagai penghilang depresi dan traumatik yang ia rasakan. Tetapi, lambat laun miras justru membawanya pada jurang depresi tiada akhir. Bukan hanya karir, percintaan, hubungan dengan banyak pihak, dan kehidupannya juga hancur di hadapan sebotol minuman. Kita menjadi berpikir, sebenarnya depresi yang menjerumuskan seseorang pada miras, atau miras yang akhirnya membawa seseorang pada jalan depresi? Mungkin keduanya.
Agama, tidak hanya milik para pendakwah yang menghuni mimbar rumah ibadah. Pesan agama juga dimiliki para penyanyi dangdut, salah satunya soal keharaman minuman keras. Dahulu, tahun 1997, Rhoma Irama melalui Mirasantika (1997) mengkampanyekan bahaya miras dan narkotika. Yang terbaru, panggung hiburan kembali melakukan dakwah soal bahaya miras, melalui suara Revina Alvira dalam lagunya berjudul Gara-gara Sebotol (2023).
Revina melukiskan realitas yang terjadi pada anak-anak muda di masa kini: “Gara-gara sebotol minuman/Dia jalan sempoyongan/Hobi anak muda sekarang/Yang penting botol katanya/Kalau lagi kumpul-kumpul pasti ada botol. Lalu, pendengar diajak lekas bertobat: “Sadarlah oh para remaja/ Bangunkanlah cita-cita/ Demi kemajuan bangsa.”
Musik dangdut adalah cara dakwah paling revolusioner dalam menyampaikan pesan agama. Tanpa kata “haram” dan “dosa”, penyanyi menyampaikan bahaya miras dengan kebahagiaan. Yang lebih ngeri, mereka berdakwah langsung pada titik sasaran, yaitu pada ruang-ruang yang banyak dihuni para pemabuk.
Dalam lingkup keluarga, sejuta cerita memuat bahaya miras. Kekerasan pada istri, penelantaran anak, hingga pembunuhan sering kali ditunggangi miras. Astrid Lindgren dalam novelnya berjudul Madicken dan Lisabet (1985) memuat cerita sosok suami sekaligus ayah yang kecanduan alkohol. Tokoh itu bernama Nilsson.
Nilsson digambarkan sebagai pemuja akut botol minuman. Kebiasaannya itu menjadikan ia sebagai pribadi yang tidak bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Ia tidak peduli pada pendidikan anaknya juga kesejahteraan sang istri. Kepalanya dipenuhi imajinasi nyeleneh dan anggapan bahwa ia adalah orang yang paling benar. Alkohol, membuat seseorang lupa diri dan buta realitas.
Kita menjadi teringat sebuah cerita yang terjadi di ujung pulau Sumatera. Ada seorang gadis yang berakhir menjadi pekerja seks lantaran memiliki ayah pecandu alkohol. Sepanjang hidup, hari-harinya dipenuhi peristiwa kekerasan yang dilakukan sang ayah. Bersama ibu dan adik-adiknya, ia menelan kesulitan dari hari ke hari akibat penelantaran yang dilakukan ayahnya. Alkohol, tidak hanya merusak individu, tetapi juga masa depan orang-orang di sekitarnya.
L.Sherly dalam penelitian bertajuk Alcohol Consumption and Suicide (2005) mengungkapkan keterkaitan alkohol dan bunuh diri. Ia menemukan data bahwa orang yang memilih untuk bunuh diri memiliki kadar alkohol yang lebih tinggi dalam darahnya. Sarah Ledden, psikiatri University College London, juga mengungkapkan bahwa mereka yang berada dalam kategori kecanduan pada alkohol menghadapi kemungkinan lebih tinggi untuk melakukan upaya bunuh diri dan melukai diri sendiri.
Kita menjadi paham, alkohol tidak menyisakan kebaikan secuil pun selain citra-citra manipulatif yang berupaya dipropagandakan lewat beragam media. Citra maskulin, keren, berkelas, berani, dan tren yang biasa disuguhkan dalam film, media sosial, dan kehidupan figur publik adalah omong kosong belaka.
Tubuh-tubuh yang dipenuhi miras mengandung sejuta masalah. Beragam persoalan sosial muncul akibat ketergantungan meneguk miras. Aktivitas yang mula-mula dipercayai sebagai penyelesaian dari suatu masalah, justru hanya akan menjerumuskan manusia pada neraka dunia yang tidak memiliki akhir.
Editor: Kendi Setiawan
