Anjing, Ibu, dan Kisah

Anjing, Ibu, dan Kisah

Biografi tidak hanya dimiliki manusia, tapi juga hewan. Kita mengenal riwayat hidup tikus dalam The Tale of Despereaux (2003), katak dalam The Wind in the willows (1908), angsa dalam The Golden Goose (2008), dan babi dalam Animal Farm (1945). Lalu, kini kita dihadapkan pada biografi seekor anjing dalam buku A Dog’s life.

A Dog’s Life (2005) merupakan karya gubahan Ann M Martin. Novel berkisah hidup anjing dengan pemakaian orang pertama sebagai narator. Orang pertama tersebut adalah seekor anjing bernama Squirrel. Ia memiliki ibu bernama Stream dan kakak bernama Bone. A Dog’s Life memuat potret sosok ibu, keadaan kota dan desa, hari raya agama dalam tatapan anak-anak, situasi keluarga, dan kehidupan lansia.

Yang ingin ditarik dalam tulisan ini bukan tokoh utama, melainkan Stream, sosok yang disebut sebagai Ibu. Squirrel, sang anjing muda mengisahkan kenangan bersama ibunya: “Kenang-kenanganku yang paling mula-mula adalah tentang kehangatan, rasa nyaman, dan makanan…Tidur atau bangun kami meringkuk di dalam sarang kami, saling merapat, dan menempel pada Ibu.” Cerita berlanjut pada kisah-kisah sang ibu dalam mengajarkan cara bertahan hidup, hingga perpisahan karena tragedi penembakan.

Berkali-kali, Squirrel mengingat sang ibu ketika tidak kunjung menemukannya kembali. Ia mengenang masa-masa mendapat perlindungan secara fisik dan batin. Dari ibunya ia belajar untuk tegar, mandiri, dan tabah dalam segala kondisi.

Dari kisah Squirrel, sang anjing malang, kita teringat cerita-cerita tentang ibu lainnya dalam ruang lain. Sosok itu tersimpan dalam banyak bentuk. Ibu dapat ditemui pada lagu, film, novel,  dan biografi para tokoh.

When I was just a little girl/ I asked my mother, What will I be?/ Will I be pretty? Will I be rich? Penggalan lagu milik Jay Livingston dan Ray Evans berjudul Que Sera Sera (1955). Lirik mengingatkan kita pada masa kecil yang rajin melontarkan tanya. Ibu adalah sumber jawaban dari banyak ketidaktahuan.

Di hadapan Queen, dalam lagu Bohemian Rhapsody (1975) ibu sebagai tempat kembali dari rasa putus asa: “Mama,ooooo/ I don’t want to die/ Sometimes wish I’d never been born at all.” Telinga kita akrab mendengar ucapan: “Telah berpulang pada Yang Maha Kuasa si fulan”, “Telah kembali pada jalan yang lurus si fulan”. Kita belum familiar dengan kalimat “Telah kembali pada pelukan ibunya, si Fulan.” Kalimat itu penting, sebab tempat kembali umat manusia selama di dunia adalah dekapan ibu.  

Gambaran akan sosok ibu tidak selalu menyenangkan. Di film Incendies (2010) garapan Denis Villeneuve, kisah ibu mengaduk perasaan dan berujung pada seember air mata. Para ibu di jalur konflik, terutama daerah Timur, tidak punya  banyak cerita selain kesedihan, rasa sakit, pengorbanan batin, dan luka fisik.

Di novel, kita menemukan berjuta ibu. Tidak selalu berperan pengasih dan penyayang, terkadang sosok itu digambarkan sebaliknya. Yang bisa teringat adalah Mayan (2009) gubahan Sanie B. Kuncoro dan Matilda (1988) gubahan Roald Dahl.

Mayan (2009) menyuguhkan sosok Ibu dengan rasa kasih melampaui gunung: “Ibuku adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan tak berkesudahan, ketangguhan yang tak tergerus oleh penderitaan apapun, dan kasih tak terbatas pada keluarga, terutama anak-anaknya.” Kutipan yang membuat siapapun merindukan sosoknya.

Adegan paling membekas adalah saat ibu Mayan berlari mengejar mobil para turis untuk menunjukkan buku catatan anaknya. Saat berlari, kakinya tidak membawa lelah tapi harapan  untuk membebaskan anaknya dari kemiskinan dan kebodohan. Ibu memberikan pengorbanan penuh tanpa menghendaki ucapan terima kasih.

Dalam Matilda (1988) ibu tampil sebagai sosok egois, acuh, dan dingin: “Matilda ini oleh ayah dan ibunya tidak dianggap sama sekali, atau paling-paling dianggap seperti ketombe. Jadi, sebagai sesuatu yang mengganggu saja.” Yang ditunjukkan Matilda, gadis cilik yang pintar adalah penghormatan tidak berkesudahan meski ia punya seribu cara untuk membalas perbuatan ibunya. Kita menjadi teringat perkataan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib: “Jangan gunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan Ibumu yang dahulu mengajarimu bicara.”

Dalam biografi tokoh yang disebut-sebut raksasa di dunia sastra, kita menemukan peran ibu yang amat sentral. George Orwell dan Pramoedya Ananta Toer adalah dua dari banyak pribadi  yang hidupnya memiliki kesan amat dalam dengan sang ibu.

Dikisahkan dalam Memikirkan Kata (2019, Galeri Buku Jakarta) Orwel menceritakan kegagalannya dalam pergaulan sosial karena menjadi pribadi penyendiri akibat hasrat menulis yang amat besar. Saat hal itu terjadi, ibunya dengan tulus berada di sisinya. “Saya menulis puisi pertama saya pada usia lima tahun. Saya mendiktekan dan ibu saya menulisnya, jadi saya merasa ibu saya saja yang mengerti dunia menulis saya," ungkap  Orwell dalam wawancara yang dihimpun Sabiq Carebesth.

Dalam sebuah wawancara bersama Rudy Kousbroek Schrijver, Pramoedya menceritakan peran ibu dalam pembentukan biografinya. Dikisahkan setiap sore, Pram kecil mencari rumput untuk makanan kambing. Ketika berpapasan dengan para murid-murid sekolah, Pram merasa malu karena diejek. Ia lekas mengadu pada ibunya, sang ibu berkata : “Yang harus malu itu mereka, karena mereka takut pada kerja. Kamu kan kerja. Kau tidak boleh malu. Mereka yang harus malu, tidak berani kerja. Semua orang yang kerja itu adalah mulia. Yang tidak bekerja itu tidak punya kemuliaan.”

Nasihat lain yang masih diingat Pram dari sosok sang Ibu: “Jangan menjadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri, dan itu dibuktikan dengan kerja. Kalau kau nanti sudah besar, belajarlah di Eropa.” Dalam karakter dan karya Orwell juga Pram yang kita kagumi, mengalir sosok ibu di dalamnya. 

Jadi, mula-mula kita membaca biografi seekor anjing bersama ibunya lalu teringat kisah-kisah menyoal ibu yang membentang pada lagu, film, novel, dan biografi para tokoh. Kisah tidak selalu berakhir tepuk tangan atau rasa kagum. Beberapa membuat kita kesal dan marah. Namun, bagaimanapun kisah yang tersaji, sosok bergelar Ibu sudah selayaknya diberikan penghormatan tak berkesudahan. Dari rasa sakit, lelah, dan ketabahannya-lah para manusia bisa lahir mencicipi pahit manis kehidupan. 
 


Editor: Kendi Setiawan
logo