Ahmad Tohari: Periuk dan Istighfar

Ahmad Tohari: Periuk dan Istighfar

Duit satu juta rupiah di tangan pengarang. Pada 1980, pengarang menerima uang itu bernama Ahmad Tohari. Uang bukan sebagai gaji atau honor. Semula, Ahmad Tohari menulis novel berjudul Kubah. Novel itu dipilih sebagai buku fiksi terbaik oleh Yayasan Buku Utama (1980). Penilaian untuk buku dalam misi kemajuan bacaan di Indonesia.

Pengarang boleh girang. Pada masa lalu, jumlah 1 juta rupiah itu besar. Ahmad Tohari juga mendapatkan piagam. Di sejarah perbukuan, hadiah untuk buku turut menentukan peningkatan mutu kesusastraan. Buku-buku dipilih tak cuma sastra. Kubah makin menjadikan Ahmad Tohari sebagai pengarang kondang dan berpengaruh.

Penghormatan diberikan oleh redaksi majalah Panji Masyarakat edisi 21 Mei 1982. Empat halaman memuat sinopsis dan ulasan Kubah. Para pembaca majalah tak terlalu kaget. Ahmad Tohari terbiasa tampil dalam majalah melalui esai atau kolom.

Penjelasan pengarang dihadirkan agar pembaca makin mengenali dan akrab. Ahmad Tohari justru mengatakan: "Barangkali dewan juri telah salah alamat." Ia tak bermaksud sombong. Kubah bersaing dengan buku-buku sastra bermutu dalam penilaian dewan juri (Sapardi Djoko Damono, Suhardi P, Lukmah Hakim, dan Dodong Djiwapradja). Ahmad Tohari tentu gembira mengetahui Kubah mengalahkan pelbagai buku buatan para pengarang di Indonesia.  

Ahmad Tohari, nama yang diperhitungkan dalam sastra Indonesia. Ia senang buku dibaca publik dan dewan juri. Novel mendapat pembaca dan penafsir, tak dibiarkan diam dan termangu. Di situ, pengarang makin membuktikan kemauan: "Itu karena saya memang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan bawah. Saya lebih akrab dengan permasalahan rakyat kecil." Di penulisan cerita, ia memihak kaum bawah dengan segala suka dan duka. Corak itu perlahan dimengerti oleh para pembaca, tersaji pula di novel-novel lain.

Pada masa 1980-an, Ahmad Tohari bekerja dan menulis buku-buku. Ia mengerti situasi perbukuan atau kesusastraan di Indonesia tak menjanjikan keberlimpahan atau kemapanan (nafkah). Sosok itu mengalami kerja jurnalistik dan mendapatkan rezeki dari sastra. Sikap hidup disampaikan mengenai sastra dan nafkah: "Secara ekonomis, menurut ukuran umum, tidak bisa! Apalagi bagi para pemula. Periuk di rumah saya sudah lama terguling bila istri tidak bekerja." Ia menginsafi kesanggupan mengabdi dalam sastra dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan keluarga.

Ahmad Tohari (2003) saat telah berada di derajat tertinggi sastra Indonesia berbagi pengalaman masa lalu: "Tahun 1979 adalah tahun penting karena saat itulah saya memutuskan memasuki dunia tulis-menulis dengan sungguh-sungguh. Keinginan itu muncul setelah saya tahu sejak lama para penulis hadir di tengah kehidupan dengan sangat nyata. Bahkan mereka tetap hadir sesudah puluhan tahun atau ratusan tahun meninggal." Ia mengaku telah mengerti berkah dalam sastra meski tak menampik ada petaka-petaka.

Pengakuan berkaitan periuk disampaikan agar orang-orang tak beranggapan pengarang abai nafkah. Ahmad Tohari mengatakan: "Dunia kepengarangan ternyata juga memberi ruang untuk mengembangkan profesi dan mata pencarian." Ia membuktikan dengan buku-buku turut menentukan nasib periuk keluarga.

Di babak-babak berbeda, Ahmad Tohari terus membuktikan dampak-dampak kegirangan dalam bersastra. Sekian hari lalu, ia pun mendapat pengharaan dari Satupena. Konon, ia berhak diganjar 50 juta rupiah. Usia pengarang bertambah tua. Dampak-dampak novel telah dipersembahkan makin bertambah. Kepantasan bagi pengarang menerima uang meski tak harus dimaknai seperti saat mendapatkan 1 juta rupiah gara-gara Kubah (1980).

Orang-orang sering mengingat Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk, bukan Kubah. Pada masa 1980-an, ia terhormat dalam kesusastraan Indonesia dengan novel berjudul Di Kaki Bukit Cibalak, Kubah, dan Ronggeng Dukuh Paruk. Pada masa berbeda, ia melulu melekat dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Keseriusan atau “sungguh-sungguh” bersastra memang terbuktikan dengan segala penghargaan dan kritik. Sejak puluhan tahun lalu, Ahmad Tohari panen kritik.

Di majalah Panji Masyarakat, 11 April 1983, kita membaca esai Ahmad Tohari berjudul “Lho, Ronggeng?” Esai mengandung pengakuan, penjelasan, dan pembelaan setelah novel Ronggeng Dukuh Paruk menimbulkan perdebatan. Novel memicu pujian dan kritik berkepanjangan. Ahmad Tohari bersuara ketimbang situasi makin tak keruan.

Ahmad Tohari berlatar santri menulis tentang ronggeng, memasuki pengisahan menguak “cabul” dan “maksiat”. Ia mendapat serangan berkaitan agama dan kecamuk sosial-kultural. Ahmad Tohari, santri dan pengarang, berada dalam pusaran kritik atau kecaman atas nama sastra.

Ia menerangkan: "Lalu, bagaimana ikhwalnya bila novel Ronggeng Dukuh Paruk dilihat oleh mereka yang memakai kacamata akidah Islam? Itulah yang bisa mengundang runyam dan ketidaksamaan pendapat. Andaikata saya adalah ustadz Abdurrahman Wahid yang pernah mengatakan bahwa hendaknya kepada seni diberikan otonomi (maksudnya otonomi terbatas) maka saya akan mudah memberi jawab. Tetapi, saya sama sekali bukan Gus Dur. Saya sekadar santri muallaf. Meski demikian saya akan berbicara karena hal ini merupakan kewajiban moral sekaligus tanggung jawab saya.” Ia menjelaskan pijakan menulis cerita itu “basmallah”.  

Penjelasan makin kokoh dan berulang disampaikan Ahmad Tohari (2003), berjarak jauh dari perdebatan rumit masa 1980-an: "Ronggeng Dukuh Paruk saya tulis atas nama pertanggungjawaban moral saya sebagai pengarang terhadap tragedi besar, 1965." Ia mengisahkan sejarah tapi sadar pijakan terkuat dalam penulisan novel itu religiositas. Ahmad Tohari mengenang novel-novel mengandung "panggung cerita serasa bertasbih sambil menghitung ayat-ayat ciptaan Tuhan.” Pada babak-babak ketenaran, Ahmad Tohari tetap menetapi kesantrian dalam kesusastraan Indonesia.

Pada abad XXI, Ahmad Tohari tetap dihormati sebagai pengarang berpengaruh. Ia tak menjadi ulama atau pendakwah meski memberi persembahan sastra religius. Penghargaan-penghargaan diberikan pelbagai pihak berurusan kepengarangan dan kesusastraan.

Dulu, ia telah mengingatkan: "Ah, sebuah novel memang bukan buku petunjuk jalan, bukan pula sebuah slogan. Saya berpendapat sebuah novel menjadi tawar bila terlalu dogmatis.” Ia tak menuntut para pembaca wajib paham. Kegagalan pembaca atau “salah baca” ditanggapi Ahmad Tohari dengan mengucap istighfar. Ia tetap menginginkan sastra terberkati ketimbang sekadar kemonceran dan periuk. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
logo