Tabuhan gendang, tambur dan simbal terdengar gemuruh mengiringi gerak penari Barongsai. Dua penari berkostum kepala singa dan bersisik naga itu saling unjuk diri memperlihatkan gerakan melompat, berguling, mengayun angin. Aksi ini mengundang sorak sorai tepuk tangan masyarakat dan ratusan peserta pawai ta’aruf gema salawat Babakan yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Di tengah ingar-bingar ini, hadir pula santri dan pelajar dari berbagai sekolah melakukan parade mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, memainkan drama kolosal yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat desa, dari petani hingga kiai. Suasana semakin semarak dengan kehadiran Drum Band dari berbagai sekolah serta anggota TNI, yang menambah energi dalam gelaran pawai taaruf.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2014, gema salawat telah menjadi salah satu kegiatan tahunan yang dinantikan masyarakat Dukuh Babakan, Desa Jatimulya, Lebaksiu, Tegal. Berawal dari inisiatif untuk mempererat hubungan antarwarga dan santri, kegiatan ini telah menjadi wadah bagi masyarakat dan tokoh lintas agama untuk bersama-sama merayakan keberagaman dan memperkuat persaudaraan.
Meski dikenal sebagai desa santri-lantaran ribuan santri bermukim di beberapa asrama yang ada di pedukuhan. Setiap tahunnya, kegiatan ini tak hanya melibatkan para santri dari pesantren di sekitar desa, tetapi juga mengundang kelompok kesenian Barongsai dari Kelenteng Adhi Dharma Slawi dan perwakilan berbagai organisasi masyarakat, seperti GP Ansor, Fatayat, Muslimat NU, dan Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia).
Tokoh agama di desa sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Kiai Syafi’i Baidlowi mengatakan kegiatan ini wujud nyata dari kebersamaan yang diinginkan untuk mengikis sikap intoleransi dan menumbuhkan sikap saling menghargai.
“Dulu, para kiai dan santri bersama masyarakat berjuang melawan penjajah dan hidup berdampingan dengan damai. Kami ingin meneruskan semangat itu melalui gema salawat ini. Agar masyarakat bisa merasakan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan untuk saling menguatkan,” jelas Syafi’i saat melepas 5.000 peserta pawai, Ahad (3/11/2024).
Selain pawai, rangkaian kegiatan Gema Salawat juga diisi dengan pameran budaya di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah. Di pameran ini, para santri diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat warisan budaya lokal seperti gamelan dan keris, yang diperkenalkan oleh budayawan setempat. Harapannya, melalui kegiatan ini para santri bisa semakin mencintai budaya sendiri dan memahami bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan tradisi tanpa harus kehilangan identitasnya.
Ketua Panitia Gema Salawat, Suratman menambahkan melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat selalu kompak dan rukun untuk bersama menjaga persatuan dan kesatuan. Kerukunan ini dihadirkan melalui pawai taaruf yang mengundang sejumlah elemen untuk turun ke jalan salah satunya menghadirkan kesenian barongsai dan lintas agama.
Tsuroya Ridwan, salah seorang warga Dukuh Babakan menyatakan kebanggaannya terhadap tradisi yang sudah berlangsung sekitar 12 tahun ini. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan masyarakat dengan santri, tetapi juga membuktikan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia merasa bersyukur melihat hubungan masyarakat yang semakin dekat, di mana santri kini lebih mudah berbaur dengan warga setempat. “Dulu, santri cenderung sibuk dengan kegiatan mengaji dan tidak terlalu berbaur. Tapi sekarang, mereka sudah dianggap bagian dari masyarakat,” tuturnya.
Yang menarik, seluruh pendanaan untuk Gema Salawat tidak ditopang oleh bantuan dari luar, melainkan hasil rewang masyarakat desa. Dari sumbangan kecil hingga bantuan tenaga, semua dilakukan secara mandiri oleh masyarakat Babakan.
“Ini bukan hanya soal merayakan Maulid Nabi, tapi juga soal bagaimana kita bisa saling mendukung dalam menjalankan kegiatan bersama,” ujar Aya, sapaan akrabnya.
Puncak acara Gema Salawat berlangsung pada malam hari, di mana digelar pengajian akbar Maulid Nabi dan dialog kebangsaan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat setempat. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Syafi’i menyampaikan pentingnya menjaga keharmonisan dan menghindari perpecahan.
“Para santri, pelajar, dan masyarakat harus mengerti bahwa mereka adalah fondasi dari kekuatan bangsa ini. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memulai menjaga persatuan dari lingkup kecil di desa ini, dengan menghargai perbedaan dan saling menghormati,” tuturnya.
Acara Gema Salawat di Babakan bukan hanya menjadi perayaan keagamaan semata, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan. Di tengah keberagaman yang ada, Desa Babakan terus merawat harmoni yang telah terjalin, membuktikan bahwa kebersamaan bisa tetap kokoh di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa kerukunan tidak perlu dicari jauh-jauh—ia tumbuh dari kepedulian dan gotong royong yang dimulai dari masyarakat itu sendiri.
Sejarawan Ahmad Baso mengatakan bahwa budaya lokal di Indonesia memiliki peran signifikan dalam memperkuat hubungan antarumat beragama. Dalam buku-bukunya, seperti Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma' Ulama Indonesia, Baso membahas bagaimana pendekatan Islam yang mengintegrasikan tradisi budaya setempat mendorong terciptanya lingkungan yang toleran dan inklusif.
Menurutnya, ketika agama diselaraskan dengan budaya, masyarakat dapat mengekspresikan keyakinan mereka tanpa harus kehilangan identitas budaya asli. Pendekatan ini, seperti yang terlihat di banyak desa dan komunitas di Indonesia, telah berhasil mengurangi ketegangan sosial dengan mendorong kebersamaan melalui kegiatan-kegiatan budaya.
=============
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
Editor: Kendi Setiawan
