Awal tahun ini jagat maya diramaikan berita selebriti muda tengah healing di Maldives setelah diterpa isu miring. Foto-foto mewahnya di resor eksklusif tersebar, dihiasi caption seperti, “Healing my soul in paradise”. Postingannya langsung banjir komentar. Hampir semuanya memuji langkah melarikan dirinya. Pertanyaannya, benarkah perjalanan mewah menyembuhkan luka atau hanya menunda pertemuan dengan kenyataan menyakitkan?
Fenomena healing-trip sudah menjadi komoditas (barang dagangan). Mencari ketenangan disamakan dengan destinasi eksotis, resor mahal, dan pengalaman unik untuk dipamerkan di medsos. Liburan tak lagi refreshing, tetapi sarana menunjukkan ke publik bahwa dirinya baik-baik saja. Seakan kebahagiaan dan ketenangan bisa dibeli, difoto, dan dibagikan. Sungguhkah pemulihan? Ataukah hanya pelarian dibungkus estetika?
Slavoj Žižek, filsuf Slovenia, sudah lama mencermati cara kapitalisme menyusup ke ranah pribadi, termasuk dalam cara mencari kebahagiaan. Sistem kapitalis sangat lihai mengubah apa pun menjadi menarik dijual. Fenomena healing trip adalah contohnya. Kegelisahan batin dikemas menjadi produk tamasya, kita diajak percaya kebahagiaan ada di hotel bintang lima, taman bunga, air terjun atau tempat lain yang memanjakan mata dan tubuh. Bukan ditemukan di dalam diri.
Ironisnya, dalam pelarian ini kita justru diperbudak ekspektasi sosial. Kita merasa harus pergi ke tempat tertentu, melakukan aktivitas tertentu, kemudian unggah di medsos. Padahal kebahagiaan sejati tidak membutuhkan validasi. Maka muncullah ironi kita ingin “sembuh” tetapi dengan cara memperparah luka, karena kita terus-menerus membandingkan. Alih-alih pulih kita hanya berpindah dari satu ilusi ke ilusi lain.
Lari dari masalah bukan solusi. Hidup harus diterima seutuhnya, termasuk penderitaan. Friedrich Nietzsche menyebutnya Amor Fati (mencintai takdir). Filsuf Jerman ini mengajak kita bukan hanya menerima tetapi juga mencintai hidup secara menyeluruh. Penderitaan dan sesuatu yang menyakitkan bukan dihindari, tetapi dihadapi sebagai bagian proses pematangan diri.
Sayangnya, kita anak kebudayaan yang membenci rasa sakit. Kita dibombardir iklan dan konten yang menawarkan kebahagiaan instan mulai dari produk kecantikan, gadget baru, hingga paket healing. Rasa sakit dianggap gangguan yang harus diatasi dan dibuang, dianggap bukan bagian alami kehidupan. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan menjalani hidup bersama rasa sakit dan belajar darinya. Kita tidak sanggup perihatin.
Healing-trip tidak bermakna jika tidak dibarengi perjalanan ke dalam diri. Diperlukan spirit khalwat [mensunyikan pikiran untuk mengenal diri dan Tuhan], menyingkir sementara dari hiruk pikuk dunia untuk menghadapi diri, mengasah intuisi, menundukkan ego, menyelami batin, dan mencari kesejatian. Inilah healing sesungguhnya.
Berbeda dengan budaya konsumerisme yang menjual ketenangan fisik, tradisi spiritual – seperti sufisme -- menempatkan ketenangan sebagai buah perenungan dan penerimaan. “Apa yang kamu cari, sedang mencarimu,” kata Rumi. Artinya, ketenangan yang kita cari sebenarnya tidak jauh, tetapi di dalam diri. Tetapi kita tidak menyadarinya lantaran sibuk dan ruwet sendiri.
Jadi healing bukan destinasi, bukan ke mana kita pergi, tetapi proses ruhani melihat ke dalam. Tak perlu jauh-jauh ke Labuan Bajo atau Maldives, sebab yang kita butuhkan hanya duduk tenang, mendengar suara hati, dan berkata, “Aku siap menghadapi diriku sendiri.”
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor: Fajar WH
