Hala dan Dumia mungkin tidak pernah membayangkan kegetiran macam apa yang akan mereka jumpai ketika keduanya menginjakkan kaki kembali, ke tanah asal keluarga mereka yang sudah diduduki oleh Israel. Musim panas 1967, dua saudari ini datang ke Perpustakaan Nasional Israel dan Perpustakaan Universitas milik Hebrew University untuk menengok kembali harta yang terampas, deretan buku-buku yang memuat jejak catatan tangan ayah mereka, Khalil As-Sakakini.
As-Sakakini adalah seorang penulis dan pendidik asal daerah Katamon, Yerusalem yang kemudian pindah ke Mesir lalu menetap di tanah pengasingan itu sampai akhir hayatnya. Ia dan keluarganya terpaksa harus meninggalkan rumahnya pada 30 April 1948 setelah kawasan tersebut diambil alih oleh pasukan Haganah, sebuah organisasi milisi yang menjadi salah satu alat pukul di bawah kendali kelompok zionis selama masa pendudukan Inggris, yang di kemudian hari bergabung dalam pasukan militer Israel setelah negara tersebut resmi didirikan.
Tahun 1948 adalah waktu yang menimbulkan bekas luka permanen bagi kebanyakan penduduk bangsa Palestina. Tahun tersebut diinggat sebagai tragedi Nakba, saat ratusan ribu warga Palestina diusir dari kampung halaman mereka. Antara Desember 1947 hingga September 1949 sedikitnya terdapat 670.000 sampai 760.000 orang terpaksa pergi dari kampung halaman mereka disebabkan pendudukan oleh orang-orang yang hendak mendirikan negara Israel.
Mereka yang pergi tidak hanya meninggalkan rumah, melainkan juga menanggalkan akar sejarah dan memori kolektif bangsa Palestina yang tersimpan dalam lembaran puluhan ribu buku yang ikut dirampas oleh orang-orang Israel. As-Sakakini menjadi salah satu dari mereka yang perpustakaan pribadinya dijarah, dan terpaksa pergi dari tanah airnya dengan hanya membawa kenangan.
Gish Amit dalam Ownerless Object? menjelaskan, sekitar tahun 1948 sampai 1949 terdapat lebih dari 30.000 buku, manuskrip, dan koran-koran yang ditinggalkan oleh orang-orang Palestina lalu dijadikan koleksi Perpustakaan Nasional Israel dan Perpustakaan Hebrew University. Bahkan di tahun-tahun berikutnya, buku-buku yang dirampas itu jumlahnya mencapai 40.000 sampai 50.000. Dikumpulkan dari berbagai kota seperti Jaffa, Haifa, Tiberias, dan Nazarets. Menurut Amit (2008), pengumpulan buku dan aset-aset intelektual itu dilakukan oleh pasukan militer. Pada masa awal pendudukan Palestina, tentara Israel menjalankan tugas-tugas kepustakaan yang mengancam nasib riwayat sebuah bangsa.
Konsekuensi yang hadir sebagai akibat dari hilangnya dokumentasi sejarah bangsa Palestina itu tentu sudah jelas, mereka akan kehilangan pengetahuan tentang asal-usul bangsa mereka. Dengan perampasan terhadap kekayaan intelektual itu, bangsa Palestina seperti dipaksa untuk masuk ke ruang sunyi dan terpenjara dalam keterputusan akar sejarah mereka sendiri. Situasi seperti itu, bisa membuat mereka membisu untuk menyuarakan hak dan meraih kembali kemanusiaan mereka yang sudah terenggut.
Perampasan buku-buku itu adalah salah satu kepingan kisah dari keseluruhan kronik tragedi Nakbah. Setelah 1948, Palestina tidak pernah lagi sama. Cerita kehidupan masa lalu di negeri itu hanya bisa disimak melalui ingatan yang terekam oleh orang-orang yang cukup punya kesempatan untuk menyuarakannya.
Dalam memoar Out of Place (1999), Edward Said mengingat masa kecilnya di Yerusalem sebagai masa yang membentuk identitas kebahasaannya menjadi seorang penutur Bahasa Arab. Seluruh ruang hidup di kota kelahirannya itu, mulai dari percakapan di dalam keluarga sampai bahasa dalam pergaulan dibunyikan dalam bahasa ibu dari setiap anak dan menjadi kepemilikan bersama warga Yerusalem. Bahkan segala istilah yang berasal dari luar, dituturkan dalam pengucapan bahasa lokal. Said mencontohkan bahwa film Hollywood berjudul Tarzan kala itu diucapkan oleh orang-orang sebagai “Tarazan”.
Pengalaman berbeda dirasakannya ketika Said beserta keluarganya pindah ke Kairo, Mesir. Bahasa Inggris menjadi bahasa yang lebih populer dan dengan semangat dipelajari oleh anak-anak di kota itu. Bagi Said, pendudukan pemerintah kolonial Inggris di tanah Mesir terasa memberi jarak yang sangat jauh dengan batas-batas kesadarannya sebagai seorang penutur bahasa Arab.
Secara sistematis, aturan-aturan dibuat untuk membungkam suara bahasa penduduk Kairo yang terjajah. Pada banyak sekolah umum yang dikelola oleh Inggris, para pelajar bahkan diancam akan mendapat hukuman jika ketahuan berbahasa selain Inggris.
Adania Shibli dalam pidato kebudayaan Jakarta International Literary Festival 2019 mengisahkan pengalamannya menyaksikan kebungkaman saat ia berada di sebuah kantor pos di Palestina. Adania bercerita bagaimana orang-orang Palestina di tempat itu terlihat ketakutan untuk bersuara dalam bahasa mereka sendiri. Satu-satunya suara yang terdengar nyaring dan jelas adalah seseorang di antrean paling depan yang nampak seperti orang Israel dan bercakap bahasa Ibrani dengan petugas pos.
Menurut Adania, suasana semacam itu adalah hal yang lumrah terjadi di Palestina. Setelah tragedi Nakbah 1948 dan pendudukan Israel yang terus berlangsung, bersura dalam bahasa Arab di tengah orang-orang yang berbicara bahasa Ibrani adalah sesuatu yang menakutkan. Kebanyakan orang-orang Palestina akan memilih berlindung dalam kesunyian untuk menghindar dari hal-hal buruk yang bisa menimpa mereka semisal diskriminasi atau perundungan.
Kembungkaman suara bagi Adania adalah titik keberhasilan sebuah proyek kolonisasi. Sebab, hal itu juga akan mampu menghapuskan keberadaan kaum terjajah di masa lalu, dengan melucuti segala atribut identitasnya. Berkebalikan dengan Syahrazad dalam Kisah 1001 Malam yang harus terus bersuara agar bisa bertahan hidup, warga Palestina justru memilih diam dalam kesunyian untuk terus hidup.
Pengalaman kebungkaman seperti yang terjadi pada bangsa Palestina juga banyak terjadi pada bangsa-bangsa bekas jajahan lainnya. Suara yang tidak senada dengan pihak penguasa kolonial biasanya akan diganjar dengan hukuman. Saat itu semua terjadi, mereka yang merasa satu ide dengan sang penjajah akan berdiam diri dan membiarkan kemanusiaan terkoyak. Namun hal yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka yang pernah mengalami nasib serupa justru ikut bungkam membiarkan penindasan terjadi dan malah masuk dalam bias pandangan membenarkan para penindas.
Dalam situasi yang seperti itu, mungkin tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan. Menjaga ingatan dan warisan budaya yang masih tersisa adalah satu upaya yang masih bisa terus diusahakan. Karena kelak, jika bencana kemanusiaan berakhir dan bibit-bibit kemerdekaan akan tumbuh, ingatan akan bisa menjadi pupuk yang menyuburkan dan memperkuatnya. Seperti perkataan Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa”.
Gifari Juniatama
Penulis lepas dan peneliti independen. Meminati kajian sosial, agama, dan budaya. Saat ini tinggal di Tangerang.
Editor: Muhammad Zunus
