Tagar KaburAjaDulu Bukan soal Nasionalisme, tapi Kesulitan Hidup Tanpa Perhatian Negara

Tagar KaburAjaDulu Bukan soal Nasionalisme, tapi Kesulitan Hidup Tanpa Perhatian Negara

Bunga (tentu bukan nama sebenarnya) adalah warga negara Indonesia yang baik dan tinggal di wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat. Saya katakan baik karena saat ia bertandang ke kantor polisi untuk membuat Surat Keterangan Berkelakukan Baik, polisi meloloskannya. Tak ada catatan kriminal yang pernah ia buat. Paling mentok jenis kenakalannya ialah memungut buah mangga muda milik Pak Haji yang jatuh ke tanah untuk ia rujak bersama kawan sepermainannya.

Bunga adalah putri dari ayah yang buruh tani dan ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Terkadang, tetangga sebelah meminta bantuan ibu Bunga untuk menyetrika baju dan dari situ ia mendapatkan tambahan penghasilan.

Bunga cukup pintar di sekolah. Secara ajaib orang tuanya mampu menyekolahkan dia hingga S1 jurusan Pendidikan Agama Islam. Belakangan saya tahu bahwa ternyata itu bukan keajaiban. Sepetak tanah pekarangan milik leluhur terpaksa dijual oleh ayah Bunga untuk menutupi biaya semester dan wisuda. Pikir ayahnya, toh kelak saat bunga sudah bekerja entah sebagai seorang guru atau apalah, tanah itu akan bisa terbeli kembali.

Pada dasarnya Bunga senang belajar. Ia tidak puas hanya menyelesaikan pendidikan S1. Ia lantas lanjut S2 Manajemen Pendidikan. Sadar bahwa kali ini tidak ada lagi tanah pekarangan yang bisa dijual, Bunga mencoba secara mandiri membiayai kuliah S2-nya. Terkadang dengan jalan jualan es boba di pinggir jalan depan kampus, kadang juga dengan jalan membantu penyelesaian skripsi adik-adik angkatannya.

Saat ia wisuda S2, kebanggaan begitu memancar dari wajah kedua orang tuanya. Mereka berpikir bahwa mulai hari ini, nasib buruk keluarga akan berubah. Bunga dibayangkan akan mampu menaikkan derajat kehidupan mereka. 

Sadar mendapati beban yang begitu besar dari keluarganya, Bunga memilih tak segera menikah. Ia lantas ke sana-kemari melamar bekerja sebagai seorang tenaga pengajar professional.

Mendaftar dosen PNS ia tak lulus. Dosen honorer di swasta saja, pikirnya. Tak ada yang mau menerima. Berbagai kampus beralasan bahwa lulusan magister manajemen pendidikan sudah terlalu banyak. Ia turunkan target, dan lantas mendaftar sebagai guru PNS. Tak lulus juga. Akhirnya, ia mengalah dan menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta. Gajinya "hanya" Rp1,5 juta per bulan. Sengaja kata "hanya" saya beri tanda petik karena kata pihak sekolah, jumlah segitu terbilang cukup tinggi dibanding gaji guru honorer di tempat lain.

Saat ini, orang tuanya yang tua dan lelah sudah benar-benar menggantungkan penghidupan pada Bunga. Tentu tidak cukup. Maka Bunga pun mengambil banyak jam mengajar privat untuk anak-anak selepas mengajar di sekolah. Sayangnya, meskipun waktu, tenaga dan psikologisnya sudah habis-habisan, paling mentok sebulan ia hanya bisa mendapatkan penghasilan Rp2,5 juta.

Belakangan, ia mendengar seruan di media sosial dengan tagar #kaburajadulu yang menyerukan kepada angkatan muda Indonesia agar memilih kabur ke luar negeri untuki belajar atau bekerja ketimbang bertahan di Indonesia dengan segala ketidakpastiannya. Ia pun lantas mencari-cari informasi lowongan kerja di luar negeri. Ia lantas mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Hongkong dengan gaji yang cukup lumayan bila dibandingkan dengan apa yang ia dapatkan di Indonesia meskipun notabenenya jumlah segitu sudah dipotong biaya untuk agen.

Di Hongkong, ia menjadi seorang pengasuh anak. Pikirnya, tak mengapa pekerjaan itu ia ambil. Toh gajinya lumayan dan masih agak nyambung dengan “pendidikan” yang menjadi konsentrasi kuliahnya dulu. Kepada anak yang akan ia asuh, teori pola pendidikan akan ia terapkan pada anak majikannya.

Saat ini, sudah dua bulan Bunga bekerja di Hongkong. Sepertinya ia menikmati melanjutkan perjalanan hidupannya.

Ungkapan Keresahan dalam #kaburajadulu
Cerita Bunga hanyalah satu cerita di antara cerita-cerita kegalauan anak muda di Indonesia dalam memandang kehidupan mereka. Tak sedikit kita temukan anak muda di Indonesia yang kesulitan mencari pekerjaan meski sejatinya persyaratan pendidikan sudah mereka miliki. Di sisi lain,  mahalnya biaya kehidupan di tanah air ditambah kenaikan pajak menambah kejengahan mereka untuk tetap bertahan di Indonesia. Dalam keresahan itu, mereka membagi cerita kehidupan mereka diiringi dengan tagar #kaburajadulu.

Jika kita membuka media sosial dan mengetikkan tagar tersebut, akan kita temukan kisah-kisah curhatan anak muda Indonesia mengenai sulitnya bertahan di Indonesia dan tingginya pengharapan mereka akan kehidupan yang lebih baik jika mereka berada di luar negeri. 

Cerita indah mereka yang sudah berada di luar negeri itu kemudian dibagikan disertai dengan ajakan agar yang lain pun ikut menyusul mereka. Nampaknya, banyak yang sudah tertarik dengan ajakan tersebut dan segera akan menyusul.

Sebagai seseorang yang sudah tidak muda lagi dan memilih untuk bertahan saja di Indonesia, nampaknya saya bisa memahami ajakan dalam tagar tersebut. Artinya, andai saja hari ini saya masih muda, saya pun akan melakukan hal serupa. Di era ketika dunia tampaknya sudah terlipat ini, mendapatkan pendidikan di luar negeri sekaligus bekerja di sana terlihat lebih menjanjikan secara rasional ketimbang bertahan di Indonesia. Meskipun tidak sepenuhnya setuju, tapi saya bisa memahami jika kemudian ada beberapa orang yang menyatakan bahwa negara gagal melindungi apalagi mensejahterakan warganya. Itulah mengapa tagar tersebut tercipta.

Respons yang Wadidaw
Artinya, jika keadaan di Indonesia sebaik di luar negeri atau setidaknya agak mendingan, nampaknya anak muda Indonesia juga tidak terlalu tertarik untuk pergi ke luar negeri. Mereka tentu akan bertahan. Sayangnya, pihak yang kemudian mereka anggap bertanggung jawab dengan abang-ijo-nya negara ini, yakni pihak pemerintah, tak kunjung menerapkan kebijakan yang menguntungkan untuk mereka baik di bidang pendidikan maupun penciptaan lapangan kerja.

Sayangnya, keresahan ini malah dibalas dengan kalimat “kabur saja. Jangan balik lagi” oleh pejabat negara, Wakil Menteri Ketenagakerjaan l Immanuel Ebenezer. 

Meskipun saya paham bahwa ini adalah candaan, namun rasanya candaan ini kurang tepat di tengah kegalauan yang semakin menyeruak dalam sanubari angkatan muda Indonesia hari ini yang sebetulnya digadang-gadang sebagai Generasi Emas 2045. Respons berbeda diberikan oleh Mentri Ketenagakerjaan Yassierli yang menilai bahwa tagar tersebut adalah tantangan bagi pemerintah untuk create better jobs. Di sisi lain, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding berpikiran lebih positif dan menganggap bahwa jika disiapkan secara baik, ajakan dalam tagar ini justru akan menciptakan devisa yang cukup besar bagi negara lewat jalur pekerja migran.

Perlu Kesiapan
Negara memang harus hadir untuk mensejahterakan warganya. Sama seperti Khalifah Umar yang menggendong sendiri bahan makanan untuk ia berikan pada seorang janda beranak banyak yang kelaparan. Beragam kebijakan yang memberikan harapan kepada mereka khususnya angkatan muda perlu diciptakan jika memang target Generasi Emas 2045 ingin dicapai. Nayatanya, saat ini, mereka yang kemudian memilih bekerja di luar negeri bukan lagi pekerja rendah seperti terjadi di tahun-tahun sebelumnya, namun banyak dari mereka adalah pekerja professional di berbagai sektor.

Saya menganggap pilihan mereka untuk tinggal di luar negeri bukan soal nasionalis atau tidak nasionalis. Sama halnya seperti ketika Nabi memilih untuk hijrah ke Madinah saat tanah tumpah darah beliau (Makkah) tidak terlalu menjanjikan bagi usaha dakwah. Dari Madinah beliau lantas mendapatkan kesempatan untuk membebaskan (fathu) Makkah dari penyekutuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Meski demikian, tentu butuh kesiapan skill dan keterampilan dari ummat #kaburajadulu agar keputusan mereka untuk tingal di luar negeri tidak melulu berdasarkan keputusasaan. Ini pun sekali lagi menjadi tugas negara lewat kementrian P2MI untuk memastikan perlindungan bagi mereka. Wallahu a’lam bish shawab.


Editor: Kendi Setiawan
logo