Setembang Nada Terakhir Gus Men

Setembang Nada Terakhir Gus Men

Oleh: Muhammad Taufiq

Dingin dan senyap. Energi yang semula menyiang agak berisik di ruang teater JI-Expo Kemayoran Jakarta lamat-lamat mereda. Lalu seolah-olah dalam satu 'ketukan' tanpa komando tiba-tiba berubah senyap. Semua mata menumbuk muka Gus Menteri, Yaqut Cholil Qoumas, sohibul bait acara yang sejak beberapa menit sebelumnya berdiri di atas stage.

Layar di sebelah kanan dan kiri podium di-zoom, menangkap ekspresi beberapa peserta Religion Festival Kementerian Agama, sekaligus pembukaan Hari Santri 2024 pada Rabu malam, 09 Oktober 2024 itu.

Sebuah vibe yang mengaduk emosi. Gus Men seperti mengisyaratkan pamitan, tapi dari sudut makna berbeda juga seperti membawa harapan bakal kembali menahkodai kementerian. Dengan intonasi tebal (bass), Gus bilang seperti begini: "Izinkan, setiap ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Kita berjumpa empat tahun yang lalu, dan kita tidak tahu kapan kita akan berpisah. Apakah nanti sebentar lagi kita akan berpisah? Atau kapan? Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan," katanya.

"Yang paling penting bagi kita semua adalah bagaimana setiap pertemuan itu memilih makna yang paling mendalam buat pertemuan kita. Saya ingin ketika perpisahan itu tiba, bapak-ibu sekalian tetaplah teguh dalam garis dan niat untuk memberikan layanan yang terbaik bagi negara. Terima kasih bapak-ibu sekalian, adik-adik, para santri yang saya cintai dan saya banggakan. Indonesia ini milik kalian, masa depan Indonesia ini ada di tangan kalian, beban negara yang besar ini ada di pundak kalian."

Apakah ini isyarat Gus Men berhenti sampai di sini sebagai menteri? Dan bila benar begitu, ini untuk sementara atau seterusnya? Mengingat sebentar lagi, 20 Oktober 2024, ada pelantikan presiden terpilih (Prabowo - Gibran) yang otomatis dibarengi penentuan posisi kabinet baru negeri ini.

Terlalu banyak pertanyaan berkelindan di pikiran saya. Seperti baru kemarin Gus Men membawa kementerian yang paling otoritatif kalau bicara agama itu melejit terbang tinggi, lalu seperti sekonyong-konyong dalam satu tarikan napas tiba-tiba segera disudahi. Duh, seperti patah hati.

Mungkin, sekali lagi mungkin, hal itu pula yang dirasakan para hadirin pada malam itu. Dingin yang terus membekap, lalu suara Gus Men yang tebal dan agak bergetar itu, ditambah mimik mukanya yang agak berbeda, lebih siluet -- bisa jadi karena penataan cahaya stage -- pada malam itu, secara konformis menciptakan nuansa melankolia yang memengaruhi jiwa-jiwa mereka, termasuk saya.

Apalagi ketika di penghujung pidatonya, Gus Men menyuguhkan setembang nada yang syairnya menggetarkan sekaligus menguatkan nyali para santri, judulnya: "Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan". Ketika menyanyikan lagu ini Gus Men tidak sendiri. Ia mengajak, bahkan memimpin seluruh jajaran pejabat eselon satu kementerian naik ke atas stage, mereka seperti hendak menegaskan, "wahai santri, kami, kementerian agama bersama kalian".

Nuansa melankolia malam itu rasa-rasanya dialami para hadirin yang duduk dengan formasi berundak di depan panggung. Saya tengok beberapa orang ASN Kementerian Agama di depan saya terlihat berkaca-kaca. Bila dipikir-pikir, setembang lagu santri itu bisa dimaknai pembuka sekaligus penutup.

Pembuka agenda tahunan perayaan Hari Santri 2024 ini, tapi sekaligus menjadi Hari Santri terakhir yang bakal dirayakan Gus Men sebagai menteri di masa baktinya yang segera berakhir tahun ini.

Kurang lebih 4 tahun Gus Men yang dikenal dengan filosofi kereta api; bahwa semua harus sesuai target dan jadwal, yang telat ditinggal, yang menghalang-halangi dilibas, itu telah berhasil membawa banyak perubahan juga terobosan-terobosan di lingkungan Kementerian Agama.

Prestasi ini bukan kaleng-kaleng. Dalam kegiatan Religion Festival dengan tagline: Faster, Better, Stronger, itu Gus Men membeber sederet capaian-capaian kementerian yang dinahkodainya.

Capaian-capaian Kemenag di Era Gus Men

Hasil survei terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) atau pegawai Kementerian Agama, yang dilaporkan secara statistik bahwa mereka memiliki kebanggaan tinggi sebagai pegawai di Kementerian Agama yang mencapai 99,1%. Menurut Gus Men, kondisi itu merupakan kekuatan yang besar sekali sebab hanya 0,9% yang belum merasakan kebanggaan itu.

"Tapi saya yakin sebentar lagi yang 0,9% itu pun akan merasakan bagaimana bangganya menjadi bagian dari sebuah kementerian yang bernama Kementerian Negara," katanya.

Lalu kenapa tagline-nya faster? Itu menunjukkan bahwa layanan Kementerian Agama semakin cepat. Layanan publik tidak perlu lagi dinikmati dengan cara-cara konvensional. Orang tidak perlu lagi repot-repot lagi datang ke kantor-kantor kementerian; ke KUA , ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten dan Kota, ke Provinsi, atau mungkin kantor Kementerian Agama pusat. Tetapi cukup dengan menggunakan aplikasi, umat beragama, masyarakat di Indonesia bisa mengakses layanan di Kementerian Agama kapanpun dan di manapun.

Kementerian Agama juga meraih penghargaan dari Kementerian PAN-RB dalam kategori pelayanan publik terbaik pada 2023 karena inovasi-inovasi yang sudah dilakukan. Dan kemarin, Kementerian PAN-RB juga menobatkan Kementerian Agama sebagai penyelenggara inovasi pelayanan publik terbaik tahun 2023.

"Ini tentu sebuah capaian yang bukan tiba-tiba atau tanpa usaha. Ini adalah kerja keras semua pihak. Kerja keras semua ASN Kementerian Agama yang mendapatkan apresiasi dari orang di luar kita atau mereka yang ada di luar kita," ujarnya.

Faster juga untuk mendefinisikan akselerasi program sertifikasi halal. Kita tahu beberapa waktu yang lalu mengurus sertifikat halal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dari capaian yang sudah didapatkan sejak 2012 sampai 2018 misalnya, baru ada 668.615 produk halal tersertifikasi. Tetapi sejak 2019 sampai 2024, sampai hari ini, produk yang sudah tersertifikat halal sebanyak 5.325.000 produk. Lompatan tersebut tidak hanya dari sisi kuantitas, tapi dari durasi waktu pengurusannya, hanya 8 sampai 11 hari untuk mendapatkan sertifikat halal.

Kemudian pendidikan. "Saya ingin sampaikan fakta bahwa madrasah sekarang menjadi pilihan utama masyarakat kita. Prestasi anak-anak madrasah, siswa-siswa madrasah sangat membanggakan. Puluhan madrasah rutin masuk dalam 100 besar peraih nilai UTPK terbaik, peraih medali terbanyak olimpiade sains tingkat nasional, dan banyak lagi prestasi yang sudah dicapai oleh madrasah-madrasah yang kita miliki. Ini tentu luar biasa."

Lalu akreditasi perguruan tinggi keagamaan negeri sudah meningkat 160 % dari 7 PTKN menjadi 18 PTKN. Ada transformasi 18 institut menjadi universitas, 13 sekolah tinggi menjadi institut. Dan Kementerian Agama juga terus berinovasi dengan mendirikan UIN Sibel Seh Nurjati di Cirebon sebagai Universitas Siber Islam Negeri pertama di Indonesia.  

Lalu Kementerian Agama juga sudah menyalurkan Rp 3,8 triliun biaya siswa bidik misi atau KIP kuliah bagi 156.425 mahasiswa di 541 BDKI. "Dan kita sudah menyalurkan Rp 62 triliun tunjangan profesi guru dan Rp 4 triliun tunjangan insentif guru," ujarnya.

Lebih dari itu, Kementerian Agama juga sudah membangun program kemandirian ekonomi untuk 3.600 pesantren. Lalu membangun sistem pelatihan-pelatihan berbasis Massive Open Online Course (MOOC) Pintar. Sejak diluncurkan pada 2022 lalu, sekarang sudah ada 1.337.907 peserta yang telah terlayani. Padahal jika dilakukan secara manual hanya bisa melayani 70 ribu peserta per hari.

Lalu Indeks kerukunan umat beragama meningkat 76,02 % pada Tahun 2023 dan sekarang menjadi 76,47 %. Sementara indeks kesalihan sosial juga meningkat dari tahun lalu dari 82,59 % menjadi 83,83 %.

Berikutnya layanan haji dimana kepuasaan jemaah terus naik selama 10 tahun terakhir, dan selama 5 tahun terakhir berada di level yang sangat memuaskan. Tahun ini indeks kepuasan haji Indonesia yang sudah dirilis oleh BPS (Badan Pusat Statistik) mencapai skor 88,2 % dari rentang 100.

"Kalau tempo hari kita mendengarkan isu kanan, kiri, depan, belakang (Pansus Haji) yang tidak jelas, saya ingin menyampaikan fakta hari ini. Bahwa layanan haji kita ini sudah melakukan transformasi yang begitu besar, transformasi yang begitu membanggarkan. Bukan hanya oleh Kementerian Agama saja, tetap bisa mendengar persaksian dari masyarakat, persaksian dari para stakeholders yang lain."

Ada empat hal sudah dilakukan oleh Kementerian Agama kemarin. Pertama adalah fast track jalur cepat. Kemudian layanan catering juga dilakukan secara penuh selama di Makkah, yang dulu tidak bisa dilakukan. Kemudian sekarang juga pertama kali kita mendapatkan kuota tambahan terbesar dalam sejarah, mendapatkan tambahan kuota haji sebanyak 20 ribu.

"Tentu semua bukan pekerjaan yang mudah, jika ada kekurangan di sana-sini itu wajar. Tetapi saya tahu bahwa kita semua teman-teman di PHU sudah berusaha dengan sebaik-baiknya," katanya.

"Saya ingin sampaikan bahwa hari ini sebagai sebuah lembaga negara, institusi negara, Kementerian Agama sudah menjadi sebuah kementerian yang semakin kuat. Kementerian Agama menganut manajemen yang mudah, yang tidak sulit, yang tidak daki-daki, kalau kata orang jawa. Di Kementerian Agama kita lakukan manajemen satu barisan, menggunakan filosofi kereta api. Kereta api itu berangkat tepat waktu dan hanya berhenti ketika sudah sampai tujuan. Dan siapapun yang menghadang laju kereta api, dia akan ditabrak tanpa ampun. Itu menjadi kunci," ujarnya.

Dari rupa-rupa prestasi yang ditorehkan Kementerian Agama itu, Gus Men kemudian menyampaikan apresiasi kepada para pejabat di lingkungan kementerian, termasuk para ASN, para mitra kementerian dan lembaga, para tokoh agama, para pimpinan ormas keagamaan dan organisasi yang lain, para stakeholder, dan seluruh umat beragama.

"Kami ingin mengucapkan terima kasih. Kementerian Agama bisa seperti sekarang, itu karena kerja baik Bapak-Ibu semuanya."

"Saya selama hampir 4 tahun memimpin Kementerian Agama ini. Ini adalah hasil didikan dari orang tua. Ini adalah hasil didikan dari para kiai-kiai dan guru-guru saya. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih terkhusus kepada orang tua saya, kepada kiai dan guru-guru saya yang sudah menjadikan saya seperti sekarang ini," katanya menegaskan.

Ucapan terima kasih Gus Men yang menggelegar, dan mungkin bakal dirindukan, itu segera mendapat standing applause dari sejumlah hadirin yang datang. Manggung-manggut dan tak hentinya menatap wajah sang Gus di layar stage. Saya memberi kesaksian, beberapa di antara mereka ada yang mengusap mata.

Saya curiga air mata mereka meleleh. Saya bukan ASN, tapi orang luar yang merasa cukup tahu bagaimana para ASN itu melihat sosok Gus Men. "Gus Men..,Gus Men...," celetuk seorang ASN di sebelah saya.

Lengkap sudah malam itu Saya mendengar pidato yang bernas, tegas dan menggelegar dari Gus. Namun di baliknya terselip suasana campur aduk. Ada kecintaan, kesedihan, kesahduan, lalu was-was terancam kerinduan pada romantisme kepemimpinannya. Dan tanpa terasa malam kian larut. Performa band Padi Reborn pun dimulai. Sekitar enam tembang lebih yang dibawakan grup band asal Surabaya ini seolah menambah kesenduan kami malam itu.

Saya jadi ingat quote dari Ronald Reagen, presiden Amerika ke-40 yang mengatakan bahwa "Pemimpin yang hebat tidak harus orang yang melakukan hal-hal yang hebat. Dia adalah orang yang membuat orang lain melakukan hal-hal yang hebat."

Terima kasih Gus....!


Editor: Muhammad Faizin
logo