"Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah, tapi bahkan mengungkapkan rahasia secara lebih terbuka dan tanpa disadari." (Helen Keller)
Malam Jumat, 16 Mei 2025 lalu, saya mendapat giliran menyambut tamu sekaligus menjaga absensi peserta di sebuah acara. Kegiatan itu diperuntukan untuk bapak-bapak di salah satu wilayah yang ada di Solo. Total peserta yang hadir dua puluh enam. Selama acara berlangsung mereka terlihat antusias dan kritis, dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran.
Ketika sudah kembali ke rumah, pikiran saya mudah melepaskan ingatan seputar acara tapi tidak dengan dua puluh tangan bapak-bapak yang saya perhatikan ketika mereka menggoreskan paraf. Tangan itu tidak bicara tapi meninggalkan banyak cerita yang tak terjawab.
Saya merasa tangan-tangan itu merekam banyak peristiwa, menghimpun perjalanan, perjuangan, doa-doa, dan harapan. Goresan sisa luka, bekas panasnya paparan sinar matahari, kerutan yang dimakan usia, dan kuku-kuku yang sebagian retak membuat saya lama terdiam membayangkan pahit getir yang selama ini mereka hadapi.
Tangan memang menyimpan cerita. Tangan mampu merekam banyak peristiwa. Kebenaran itu pernah dibuktikan melalui kisah Helen Keller, perempuan tunanetra-tunarungu yang melihat dunia melalui tangan. Ia pernah mengisahkan beberapa pengalaman ketika menjalin komunikasi dengan orang lain lewat tangan.
Jemarinya mengingat tangan besar Bishop Brook yang penuh kelembutan dan sukacita dari seorang pria yang kuat. Lalu tangan Mark Twain yang ia tafsirkan sebagai sosok dengan karakter penuh selera humor, cerdas, dan ganjil.
Lewat bukunya bertajuk Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi (Kayla Pustaka, 2010), Helen menukilkan makna tangan baginya: "Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah, tapi bahkan mengungkapkan rahasia secara lebih terbuka dan tanpa disadari.”
Tangan bapak-bapak yang saya perhatikan juga mengingatkan saya pada sebuah kisah. Diceritakan, ketika Rasulullah Saw pulang dari Perang Tabuk dan memasuki Kota Madinah, Nabi melihat seorang lelaki yang telapak tangannya tampak kasar hitam kemerah-merahan. Saat ditanya mengapa tangannya kasar seperti itu? Lelaki itu menjawab dengan lugas apa adanya, "Setiap hari saya bekerja membelah batu-batu besar hingga tanganku kasar seperti ini. Setelah batu-batu terbelah, maka batu-batu belahan itu saya jual ke pasar dan hasil penjualannya saya pergunakan untuk menafkahi anak dan istriku."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah Saw langsung mencium tangan lelaki itu seraya bersabda; “Tangan ini tidak akan tersentuh oleh api neraka.”
Di Balik Maskulinitas Bapak
Budaya punya banyak sebutan untuk orang tua laki-laki: Bapak, ayah, papa, abah, babe, romo dan banyak lagi. Lidah saya terlanjur akrab dengan ‘bapak’. Jadi untuk selanjutnya, saya akan menggunakan kata bapak. Itu nama yang saya miliki untuk menyebut sosok laki-laki yang paling berjasa bagi hidup saya.
Sepertinya, saya telat menyadari kebenaran itu. Sangat terlambat. Bapak sosok laki-laki yang amat maskulin. Tak pernah berbagi masalah melalui cerita, tak pernah menangis, dan tak pernah mengeluh. Saya tak begitu mengenal sosoknya secara emosional karena beliau membangun benteng pertahanan amat tinggi dan tak mengizinkan siapa pun melihat kerapuhannya.
Benteng yang beliau bangun berhasil. Saya kesulitan menyentuh sisi emosi dalam dirinya. Saya sering merasa kehilangan kehadirannya secara batin. Itu berlangsung amat lama. Puncaknya saat kami saling memeluk, tepat ketika saya akan pergi merantau, amat jelas kekakuan diantara kami. Ada semacam pagar besi yang tak kasat mata memisahkan perasaan kami yang berupaya saling bertaut.
Berjalannya waktu, syukur perlahan benteng itu runtuh. Kini saya mulai memahami kenapa bapak sedingin itu. Sekarang saya baru menyadari tak boleh menyalahkan bapak. Sikap maskulin ekstrim yang ada pada bapak tidak datang dari langit. Biografi beliau terbentuk dari kondisi keluarga, masyarakat, dan era orde baru yang berkuasa saat itu. Bapak adalah hasil dari zamannya. Negara, budaya, dan agama pada waktu itu memang mendorongnya untuk selalu memakai jubah maskulin dengan amat ketat.
Penjelasan itu saya temukan lewat kumpulan esai Muhammad Faisal dan Tara Talitha dalam buku Menggali Pola Asuh bagi Generasi Digital (Kompas, 2024). Penulis menjelaskan asal muasal perbedaan karakter orang tua dari zaman ke zaman, termasuk menyoal maskulinitas ekstrim yang diidap banyak orang tua. Selain esai, referensi soal bapak saya temukan lewat cerpen yang ditulis seorang aktivis asal Turki.
Selahattin Demirtas di cerpennya bertajuk Sesunyi Sejarah (Subuh, 2020) memotret pertalian keluarga antara ayah dan anak perempuannya. Kisah yang amat dingin. Demirtas menulis di paragraf awal cerpennya: “Obrolanku dengan ayah tak pernah serius. Sampai sekarang aku tidak merasakan kesan umum bahwa anak-anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya...”
Cerita dibuka dengan kesenyapan dan diakhiri penyesalan-penyesalan. Upaya pertobatan anak yang gagal memahami bahasa kasih sayang orang tua. Belakangan, tulisan tangan bapak yang berbuah buku menjadi penerjemah perasaan sayang bapak pada anaknya. Bahasa itu tak bersuara dan tak mewujud dalam pelukan atau senyuman. Bapak kerap mencintai dalam kesunyian.
Selain cerpen, film turut memvisualkan perjuangan dan cinta dari sosok bapak. Sinema Dangal (Nitesh Tiwari, 2016) dan serial When Life Gives You Tangerines (Kim Won-seok, 2025) menjadi daftar pilihan yang bisa ditonton.
Konon, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah fatherless tertinggi di dunia. Ramai-ramai orang menyalahkan ‘bapak’ yang dicap mangkir dalam menjalani kewajibannya. Barangkali, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam beberapa case, terkadang orang tua punya bahasa kasih sayang yang tak terucap. Bukan tak ingin memperlihatkannya sesuai ekspetasi anak, tapi tak bisa.
Jika hal demikian terjadi, cobalah untuk sejenak mengamati tangan. Seperti kata Hellen Keller: Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah, tapi bahkan mengungkapkan rahasia secara lebih terbuka dan tanpa disadari. Saya yakin, ada banyak jejak perjuanga. Ada ratusan kasih sayang yang menghuni tangan orang tua, terkhusus bapak. Jejak itu tidak bisa dialihbahasakan selain dengan perasaan.
Editor: Kendi Setiawan
